Minggu, 23 Mei 2010

Review Kick Ass


Review

Kick Ass ( Universal Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Matthew Vaughn

Tanggal Rilis :

  • 26 Maret 2010 ( Inggris )
  • 16 April 2010 ( Amerika )
  • 15 Mei 2010 ( Midnight Show di Bioskop – Bioskop Indonesia )
  • 17 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia, eksklusif hanya di XXI )

Apa jadinya jika kita memiliki superhero di sekitar kita? Pastinya, bayangan kita tantang tokoh – tokoh superhero terkenal macam Superman, SpiderMan, Wolverine, dan segudang tokoh superhero lainnya yang ada di buku komik yang sering kita baca pun pastinya akan terngiang di kepala kita. Tapi, apa jadinya jika superhero yang menjadi andalan kita tersebut ternyata TIDAK MEMILIKI KEKUATAN SUPER SAMA SEKALI? Well, itulah yang menjadi inti kisah dari film ”superhero tapi bukan superhero” terbaru keluaran Universal Pictures yang diberi judul Kick Ass. Film yang ternyata secara mengejutkan berhasil menarik simpati para kritikus di Amerika sana dan menjadi sleeper hit di bulan april silam ini akhirnya masuk juga ke Indonesia setelah muncul kekhawatiran bahwa film ini kemungkinan tidak akan beredar di bioskop – bioskop kesayang kita.

Film ini diangkat dari buku komik karangan Mark Millar dan juga John Romita Jr. yang beredar pada tahun 2008 sampai dengan 2010 kemarin. Mark Millar adalah kreator komik terkenal di Amerika yang sudah menelurkan banyak komik – komik keren, seperti Wanted ( yang sudah diadaptasi ke layar lebar tahun 2008 kemarin dengan bintang Angelina Jolie dan James McAvoy ), Marvel Knight : Spider Man, dan masih banyak komik – komik terkenal lainnya. Saking padatnya kesibukan Mark, komik Kick Ass inipun vakum sebentar dan Mark kini memasuki tahap penulisan untuk komik Kick Ass seri kedua dan ketiga.

Produksi film inipun tergolong unik. Hak cipta untuk pembuatan film Kick Ass ini justru sudah dibuat bahkan sebelum komik Kick Ass seri pertama dipublikasikan. Ketika itu, Matthew Vaughn, sang sutradara, bertemu dan berbincang dengan Mark Millar saat premiere film Stardust. Setelah berbincang – bincang, Millar pun membuat sebuah sinopsis tentang Kick Ass dan Vaughn pun tertarik untuk membuatnya ke dalam bentuk skrip film. Millar pun membuat cerita komik, sedangkan Vaughn membuat skrip filmnya. Ketika skrip filmnya selesai, Vaughn pun menawarkan skrip tersebut ke beberapa studio film ternama. Sayang, semua studio menolaknya karena unsur kekerasannya yang cukup eksplisit untuk ukuran film remaja serta adanya permintaan bahwa tokoh – tokohnya dibuat sedikit lebih dewasa. Vaughn menolak ide tersebut dan akhirnya percaya diri untuk memproduksi film ini sendiri, dengan uangnya sendiri. Tak lama, Brad Pitt yang melihat potensi film inipun akhirnya turut membantu Vaughn untuk menjadi co-produser untuk film yang memiliki bujet US$ 30 juta ini.

Untuk menghemat bujet produksi, maka dipilihlah aktor dan aktris muda kurang terkenal untuk berperan sebagai tokoh – tokoh sentral, seperti Kick Ass, Hit Girl, dan Red Mist. Pemilihan pemeran untuk tokoh Kick Ass dan Red Mist tergolong mudah, namun, yang susah adalah pemilihan tokoh gadis belia Hit Girl. Sempat pusing 7 keliling, akhirnya casting calon pemeran Hit Girl sampai ke tangan agen aktris muda Chloe Moretz yang sebelumnya sudah unjuk kebolehan lewat film The Amityville Horror versi remake dan film (500) Days of Summer. Moretz yang memang menginginkan peran menantang di film terbarunya langsung menyambar peran Hit Girl di film ini dan membuat Vaughn terkesan dengan audisi Moretz. Untuk menghidupi karakter Hit Girl, Moretz berlatih ilmu beladiri, senjata, gymnastic, serta stunt selama 6 bulan secara intensif dan hasilnya sangan memuaskan Vaughn. Untuk mengatrol film ini, maka dipilihlah aktor Nicholas Cage untuk berperan sebagai tokoh superhero Big Daddy, serta sosok penjahatnya, dipilihlah aktor Inggris yang sedag naik daun dengan peran – peran antagonisnya, yaitu Mark Strong. Mark tergolong sukses berperan sebagai tokoh penjahat bengis lewat film Sherlock Holmes ( berperan sebagai Lord Blackwood ) dan baru saja menghibur penonton lewat peran jahat yang meyakinkan sebagai Sir Godfrey lewat film Robin Hood.

Film Kick Ass ini berkisah tentang Dave Lizewski (Aaron Johnson), penggemar berat komik serta seorang pemuda yang selalu diganggu dan juga bisa dikatakan seorang Looser di sekolahnya. Kesal dengan keadaan tersebut serta terobsesi dengan tokoh – tokoh superhero di komik – komik, Dave pun memutuskan untuk mewujudkan obsesinya menjadi pahlwan super dalam kehidupan nyata. Rencana Dave pun mulai dijalankan. Mulai dari membeli baju superhero lewat situs e-Bay, memodifikasi kostumnya sendiri dan bertopeng hijau, serta memiliki senjata berupa duo-stick yang tersimpan di punggungnya. Ia memilih nama Kick-Ass sebagai nama superheronya. Sayangnya, ada 1 kelemahan terbesar Kick Ass: IA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN SUPER APAPUN!
Hidup Dave berubah selamanya seiring perubahan dirinya, terutama setelah berhasil meraih popularitas lewat aksinya yang berani melindungi kaum yang lemah dari tangan – tangan orang jahat yang tersebar lewat situs YouTube. Setelah mengetahui bahwa dirinya populer, Dave pun membuat account MySpace yang menjadi tempat pengaduan bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan Kick Ass. Hal inipun menggerakan niat 2 orang superhero sungguhan, Hit Girl (Chloe Moretz), beserta ayahnya, Big Daddy (Nicolas Cage) untuk lebih berani memberantas kejahatan. Kick Ass pun secara tidak sengaja berpartner dengan dua superhero sungguhan tersebut. Dibantu dengan superhero muda lainnya, bernama Red Mist (Christopher Mintz-Plasse), tim yang satu ini berniat untuk menjatuhkan kekuasaan seorang gangster mafia terkenal bernama Frank D'Amico (Mark Strong). Tapi, di balik itu semua, Kick Ass yang masih merupakan seorang superhero muda pun akhirnya belajar kenyataan pahit menjadi seorang superhero lewat kasus membekuk Frank D’Amico ini.

Secara mengejutkan, film ini justru membawa sesuatu yang baru bagi dunia perfilman mengenai superhero. Hampir mirip dengan kasus Batman Begins dan The Dark Knight tempo hari, film Kick Ass ini pun juga menawarkan sebuah film dengan cerita dan juga tema yang tidak biasa. Tidak ada yang namanya superhero dengan kekuatan super seperti mampu terbang, mampu menahan tembakan, mampu bergelayutan dari satu gedung ke gedung lain, dan lain – lain. Vaughn, beserta Mark Millar tentunya, menawarkan sebuah film superhero dengan konsep hero biasa, dimana mereka bisa terluka jika tertembak, dimana seorang pahlawan pun bisa juga sakit seperti manusia biasa pada umumnya. Para superhero di film ini lebih bergantung pada kelincahan mereka bergerak dan bereaksi terhadap serangan dan tembakan dari senjata yang diletuskan oleh musuh, serta tentunya jaket antipeluru yang menahan badan mereka dari hantaman peluru tajam. Semua konsep manusiawi tersebut secara keseluruhan justru terasa bagus dan realisitis di mata para penonton.

Selain itu, cerita yang awalnya berjalan simple dan terkesan lambat, lambat laun naik tempo keteganngannya. Vaughn berhasil meramu sebuah film dengan kisah ”superhero tanpa kekuatan super” menjadi sebuah film dengan cerita yang berbobot dan juga bagus. Dari awalnya hanya menjadi film dengan cerita yang tergolong akan membosankan, lama – kelamaan mulai naik tensi ketegangannya. Vaughn pun dengan cerdik membuat film ini dengan style action keren dan juga mantap. Siapa yang mulutnya tidak menganga bahwa seorang gadis berusia 13 tahun dengan lincah berhasil menghabisi sekumpulan begundal bengis dengan cara cool menggunakan pedang yang bisa digabungkan? Siapa pula yang tidak tercengang dengan adegan pembantaian yang dilakukan oleh Big Daddy terhadap anak buah D’Amico di sebuah gudang dengan iringan lagu In a Heartbeat karya John Murphy ( lagu ini juga muncul di film 28 Days Later dan sekuelnya, 28 Weeks Later ) disertai dengan teknik pengambilan gambar dan koreografi adegan action yang fast dan juga seru? Masih banyak adegan – adegan action lainnya di film ini dan semua itu dibuat oleh Vaughn dengan hasil yang pastinya bisa membuat anda tercengang selama menyaksikan filmnya. Humor di film inipun juga terkesan segar dan juga lucu.

Film inipun juga didukung dengan barisan – barisan pemain bermain bagus dan juga mantap. Nicolas Cage bermain apik ebagai seorang ayah dengan kasih sayang yang ganjil terhadap putrinya dan berprofesi sebagai superhero bernama Big Daddy; Mark Strong kembali membuktikan kepada para penonton bahwa dirinya memang merupakan aktor spesialis tokoh – tokoh antagonis dengan bermain mantap sebagai kepala gangster bengis tapi di saat bersamaan bisa terlihat konyol bernama Frank D’Amico; Aaron Johnson yang bermain cool sebagai Dave Levinzky ( sang tokoh utama ) a.k.a Kick Ass yang terlihat kikuk tapi berani maju untuk menjadi seorang pahlawan yang membela kaum yang lemah; Christopher Mintz-Plasse yang bermain bagus sebagai pemuda kikuk serta merupakan superhero lain bernama Red Mist yang memiliki rahasia besar dibelakang partnernya, Kick Ass ; dan credit khusus diberikan kepada pemain muda Chloe Moretz yang bermain mengesankan sebagai Hit Girl. Aktingnya begitu dewasa dan terkesan sangar serta menjiwai peran Hit Girl di film ini. Gadis berusia 13 tahun inipun tanpa canggung berani berkata – kata dan memaki secara kasar seperti layaknya orang dewasa. Tak cuma itu, gesture, mimik muka, kelincahannya berakrobat dan memperagakan ilmu beladirinya serta chemistry yang dapet banget antara Moretz dan Cage sebagai anak dan bapak di film ini pun patut diacungi 2 jempol dan pastinya mampu membuat poenonton usia manapun tercengang olehnya. Aura kebintangan Moretz di film inipun terasa sangat kentara dan memang dia pantas dijadikan sebagai scene stealer dalam film ini.

Mungkin bagi sebagian orang yang mengharapkan sesuatu yang seru layaknya seperti mereka menonton film – film superhero pada umumnya, kelihatannya akan sedikit kecewa dengan film ini. Film ini tidak menggambarkan karakter superhero seperti film – film yang lainnya. Tidak ada yang namanya adegan kekuatan – kekuatan super yang dimiliki oleh para hero disini. Sebaliknya, justru ditampilkan karakter hero biasa dengan berbagai kelemahan mereka. Walaupun film ini dikatakan memiliki kekuatan dalam hal realitas, tapi justru hal ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, tema ini cukup briliant; tapi di sisi lain, bagi yang sudah berharap banyak seperti layaknya menonton film superhero dengan kekuatan – kekuatan super nya, pastinya akan kecewa dengan film ini. Film ini pun juga tidak langsung menunjukkan adegan – adegan action bombastis dari awal. Karena film ini membangun ketegangan ceritanya secara perlahan, maka penonton diminta untuk bersabar dulu hingga akhirnya ketegangan film ini memuncak. Hal inilah yang justru bisa membuat para penonton bosan menunggu – nunggu adegan – adegan action seru. Tapi Vaughn tetap menyelipkan adegan – adegan lucu dan mengena sembari membangun ketegangan cerita di film ini.

Selain itu, isi adegan – adegan yang memiliki kadar content untuk dewasa di film ini cukup banyak. Oleh sebab itu, hati – hati bagi para orang tua yang membawa anak – anaknya untuk menonton film ini di bioskop. Disarankan agar anda, para orang tua, jangan bawa anak2 untuk nonton film ini. Banyak kata – kata dan adegan – adegan yang kasar dan menjurus ke arah dewasa. Memang setting filmnya remaja. Tapi, content filmnya justru dewasa. Sama seperti perihal realitas di film ini, content dewasa terbungkus remaja ini justru juga menjadi pisau bermata dua bagi film ini sendiri. Di satu sisi, patut kita puji keberanian dan kreativitas Vaughn serta Mark Millar untuk menciptakan sebuah film yang berani unik dan berbeda dibanding film lainnya. Tapi di sisi lain, para orang tua yang tidak mengetahui betul tentang film ini dan langsung menonton filmnya di bioskop bersama anak – anaknya, pasti akan jengkel akibat banyaknya adegan dewasa di film ini. Darah muncrat, adegan pembantaian sadis, sumpah serapah, dan masih banyak lagi adegan dewasa lainnya cukup banyak bertebaran di film ini, sehingga jelas, film ini hanya boleh ditonton oleh orang dewasa, minimal oleh remaja berumur 18 tahun.

Selain itu, satu lagi kekurangan film ini justru terletak di ending. Film ini secara konstan berhasil mempertahankan unsur realita yang ada, tapi sayangnya, adegan endingnya justru membuat kita yang suka dengan realita jadi sedikit kecewa dan jengkel akibat adanya satu benda yang digunakan oleh Kick Ass untuk menghajar anak buah D’Amico..

Overall, film ini merupakan film yang cukup unik dan berani tampil berbeda dibanding film – film superhero lainnya. Faktanya jelas : adegan – adegan action keren, cerita yang unik dan menarik, konsep presentasi filmnya yang berani beda dibanding film lain, serta unsur realitanya yang baik, ditambah dengan pemain – pemainnya yang bermain solid film ini, membuat film ini patut untuk anda tonton minggu ini. Film ini pun juga mengajarkan kepada kita bahwa jarang di dunia ini ada yang rela berkorban untuk mau menolong sesama yang sedang kesusahan karena berbagai faktor, baik secara internal maupun eksternal dan akhirnya menjadi perenungan bagi kita semua, apakah kita semua, jika dihadapkan pada situasi yang sama, bakal mau menolong sesama atau malah berdiam diri saja melihat sang korban disiksa terus. Ingat, perhatian keras, film ini TIDAK UNTUK DITONTON OLEH ANAK KECIL akibat content filmnya yang justru dewasa dan tidak pantas untuk ditonton oleh anak – anak. Walaupun film ini terasa kepeleset di ending, tapi tetap, film ini menjadi sebuah film unik dan juga baik di mata penonton. Vaughn berhasil membuat film superhero dengan citarasa baru ( walaupun tidak bisa dibilang orisinil akibat pernah diterapkan pada film Batman Begins karya Christoper Nolan ) dan keren. Pengorbanan Vaughn serta Millar, baik secara materi maupun penggarapan cerita serta filmnya, justru terbayar lunas di film ini. Good Job, brothers. So, bagi anda yang mencari film seru di minggu ini atau sudah selesai menonton film Shrek Forever After serta ingin menonton film lain, atau justru bingung mau menonton film apa karena tidak suka dengan film Shrek, maka film Kick Ass ini WAJIB untuk anda tonton. Pastinya, seperti kalimat yang dilontarkan oleh tokoh Big Daddy di film ini, anda yang menyaksikan film ini pastinya akan merasakan ”your ass kicked” akibat seru dan kerennya film ini. He3. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Point :

Cerita = 7 / 10

Pemain = 7 / 10

Kriteria khusus :

Keunikan Film = 7 / 10

Unsur Hiburan

dan action = 7 /10

Total = 7 / 10

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer :

Preview Shrek Forever After


Preview

Shrek : Forever After ( DreamWorks Animation_2010 )

Pengisi Suara :

Sutradara : Mike Mitchell

Tanggal Rilis :

  • 21 Mei 2010 ( Amerika )
  • 21 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia )

Apa jadinya jika semua cerita dongeng yang kita ketahui ternyata diputar balikkan faktanya? Ide cerita konyol yang satu ini muncul lewat film Shrek yang hadir pada tahun 2001 silam. Film Shrek yang pertama sukses mengocok perut penonton dan film ini mendapat pendapatan fantastis, sekitar US$ 485 juta untuk peredaran secara internasional dan juga secara domestiknya. Film Shrek kedua pun langsung diberikan lampu hijau oleh pihak DreamWorks Animation selaku pembuat film Shrek dan hasilnya pun lebih fantastis. Selain lebih lucu, film ini juga memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi ketimbang film pertamanya. US$ 920 juta ( pendapatan gabungan antara domestik dan internasional ) adalah pendapatan yang fantastis untuk ukuran sebuah film kartun dengan embel – embel sekuel. Merasa makin PD ( Percaya Diri – Red ) dengan hasilnya yang semakin meningkat, DreamWorks kembali setuju untuk memproduksi film Shrek 3. Ternyata, Hasil film Shrek 3 justru jatuh dan sangat jauh tertinggal dibanding Shrek 2. Walaupun begitu, Shrek 3 justru menjadi seri Shrek yang memperoleh pendapatan paling besar untuk peredaran minggu pertamanya dengan pendapatan US$ 122 juta dalam 3 hari pemutarannya. Walaupun total pendapatan Shrek 3 selama masa putarnya adalah US$ 798,9 juta ( pendapatan gabungan antara domestik dan internasional ), tapi film ini justru kurang disambut oleh para fans, apalagi para kritikus film yang rata – rata memberi nilai minus untuk seri ke 3 film Shrek ini. Walaupun begitu, DreamWorks tetap memproduksi film Shrek ke 4 yang diberi sub judul Forever After dan dikabarkan film ini akan menjadi seri terakhir Shrek. Apakah benar akan begitu? Well, jika film ini sukses, niscaya, pasti akan ada Shrek 5. He3. XD.

Film Shrek Forever After ini bercerita tentang Shrek, monster hijau besar, yang sekarang hidup bahagia dikelilingi oleh teman – temannya. Bahkan, Shrek yang merupakan sesosok Ogre atau monster mengerikan yang biasanya menakut – nakuti manusia, sekarang berubah menjadi sosok monster rumahan yang ramah dan sayang keluarga. Shrek tetap menginginkan 1 hari dimana dia bisa menjadi monster Ogre yang sesungguhnya. Sampai suatu ketika, dia bertemu dengan seorang penyihir bernama Rumpelstiltskin yang menjanjikan akan membawa Shrek ke alam mimpi yang memang diinginkan oleh Shrek; dan benar saja, Shrek tiba di sebuah alternate timeline wold, dimana negeri Far Far Away benar – benar dalam keadaan hancur berantakan dan monster Ogre diburu oleh banyak pihak. Semua teman – teman Shrek, seperti Donkey, Puss in Boots bahkan Viona sekalipun tidak mengenal Shrek. Donkey benar – benar tidak mengenal dan takut akan Shrek, Puss in Boots menjadi malas dan super gendut, bahkan Viona pun menjadi ketua Ogre pemburu yang melawan siapa saja yang berani mengganggu Ogre. Shrek pun ingin kembali ke masa tenangnya, tapi sayangnya, Rumpelstiltskin menipu Shrek dan menginginkan Shrek agar menghilang dari dunia ini dan menjadi penguasa Far – Far Away. Satu – satunya cara agar Shrek bisa kembali ke alamnya adalah dengan cara Shrek harus mencium Viona ( harus mendapatkan True Love’s Kiss dari Viona ) dan jika True Love’s Kiss ini tidak didapat sebelum deadline waktu yang telah ditentukan, maka Shrek akan menghilang dari dunia selamanya. Rumpelstiltskin pun juga sudah menyiapkan banyak penyihir jahat untuk menyingkirkan Shrek dan kawan – kawannya.

Pastinya, film ini masih didukung oleh semua bintang, baik itu bintang utama maupun bintang pendukung trilogy seri Shrek sebelumnya. Mereka kembali hadir untuk meramaikan film Shrek yang ke empat sekaligus ( rumornya ) menjadi seri Shrek yang terakhir. Dengan cast pengisi suara yang sudah terbukti kehandalannya dalam menyukseskan trilogy film Shrek sebelumnya, kelihatannya memang sangat risakn jika mengganti para pengisi suara intinya akibat para fans film Shrek yang sudah familiar dengan suara dari masing – masing tokoh utama film konyol yang satu ini.

Film ini juga didukung oleh teknologi 3D, Real D, dan IMAX 3D yang memang sudah sangat dikuasai oleh DreamWorks Animation ( masih ingat kan kualitas 3D jempolan dari film animasi buatan DreamWorks Animation sebelumnya, yaitu How to Train Your Dragon? ) dalam sektor film kartun, sehingga hal tersebut menjadi jaminan kesuksesan film ini. Dan, rumor film ini akan menjadi seri terakhir dari Shrek pun juga menjadi senjata ampuh untuk menarik perhatian penonton agar mau menonton seri Shrek yang ke 4 sekaligus seri perpisahan Shrek ini.

Selain banyak kelebihan yang ditawarkan film Shrek Forever After ini, film ini juga tak lepas dari kekurangan. Kualitas cerita maupun joke super bobrok dan hancur lebur dari Shrek 3 pun menjadi sebuah mimpi buruk serta trauma berkepanjangan bagi sebagian orang yang menyaksikan trilogy seri Shrek, sehingga bisa membuat mereka menjadi trauma dan malas untuk menonton seri Shrek yang ke 4 ini. Jelas, akibat kualitas super buruk yang ditawarkan oleh Shrek 3, orang pun jadi tidak berselera lagi untuk menyaksikan kelanjutan Shrek. Rata – rata mereka takut bahwa sekuel Shrek selanjutnya justru kualitasnya akan makin memburuk, atau minimal sama buruknya dengan Shrek 3. Selain itu, factor kebosanan pun juga menjadi factor pengganjal terbesar pada Shrek 4 ini.

Selain itu, walaupun film ini didukung dengan teknologi 3D yang sekarang sedang gencar – gencarnya dilakukan oleh banyak studio terhadap film – film produksinya, film animasi dengan embel – embel 3D rata – rata belum pernah hasilnya memuaskan dan memanjakan mata penonton serta memenuhi ekspektasi mereka terhadap film animasi 3D. Hanya How to Train Your Dragon saja yang berhasil membuat gebrakan dalam dunia animasi 3D dengan hasil 3D yang memuaskan dan berhasil membuat penonton takjub dengan efek 3D nya. Walaupun Dragon dan Shrek dibuat oleh studio yang sama, tapi apakah benar 3D nya akan sama bagusnya? Beberapa early reviews di Amerika yang sudah menyaksikan film ini lewat format 3D pun justru member nilai minus terhadap kualitas 3D film ini dan lebih menyarankan para calon penonton untuk menonton filmnya lewat format 2D biasa. Jika benar hal ini terjadi, maka sia – sialah biaya mahal yang dikeluarkan oleh DreamWorks untuk membuat film ini lewat format 3D, dan imbasnya, pendapatan besar yang diharapkan lewat format 3D ( karena harga tiket film 3D lebih mahal ketimbang format 2D nya ) justru tidak terjadi dan membuat film ini melempem pendapatannya.

Overall, film Shrek Forever After tetaplah menjadi salah satu pilihan film untuk ditonton oleh anda pada minggu ini. Bertepatan dengan libur sekuolah, film ini justru memiliki jadwal edar yang paling pas untuk ditonton bersama keluarga atau mungkin bersama keponakan anda. Selain itu, target penontonnya yang bisa menjangkau semua umur, menjadi sebuah senjata ampuh untuk memperoleh pundi – pundi pendapatan yang besar bagi DreamWorks Animation di minggu ketiga bulan Mei ini. Keberhasilan yang ditorehkan oleh trilogy Shrek sebelumnya pun tetap menjadi jaminan keberhasilan film Shrek Forever After ini, di luar kegagalan dan kehancuran Shrek 3 tempo hari. Plus, kabar bahwa film Shrek ke 4 ini adalah film terakhir Shrek pun menjadi sebuah senjata ampuh untuk menarik penonton, minimal untuk mengucapkan salam perpisahan dengan film yang menjadikan DreamWorks Animation ini menjadi sebuah studio penghasil film kartun yang layak untuk diwaspadai. So, bagi anda yang memang fans setia trilogy Shrek, atau sedang mencari sebuah film animasi ringan menghibur, atau memang sedang ingin mentraktir keponakan atau anak anda yang sedang dalam masa liburan sekolah untuk menonton film kartun di bioskop, maka film Shrek Forever After ini WAJIB menjadi film pilihan anda. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:


Trailer 2:

Senin, 10 Mei 2010

Preview Robin Hood


Preview

Robin Hood ( Universal Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Ridley Scott

Tanggal Rilis :

  • 14 Mei 2010 ( Amerika )
  • 12 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia )

Legenda tentang pencuri yang baik hati terhadap kaum miskin dan selalu bersenjatakan busur dan anak panah dalam setiap aksinya, pastinya sudah sering kita dengar dari sejak kita kecil hingga dewasa saat ini. Yap. Tokoh legenda yang dimaksud tentu adalah Robin Hood. Pria yang dikenal sebagai ahli memanah sejagad asal Inggris ini sudah menjadi legenda dimana – mana. Entah memang beneran ada atau tidak, sosok Robin Hood tetaplah sosok yang dikagumi oleh banyak orang di seluruh bumi. Saking populernya kisah tentang Robin Hood, banyak literatur yang menulis tentang kisahnya dan juga sudah banyak karya – karya tentang Robin Hood yang telah diangkat ke panggung drama, layar kaca, hingga dalam bentuk layar lebar. Salah satu adaptasi layar lebar dari Robin Hood adalah film layar lebarnya yang beredar tahun 1991 silam berjudul Robin Hood : Prince of Thieves, yang didukung oleh banyak bintang berkelas dan memang sedang menjadi pujaan masyarakat pada saat itu. Tengok saja nama – nama yang mendukung filmnya, seperti Kevin Costner yang berperan sebagai Robin Hood, bintang muda yang sedang naik daun saat itu Christian Slater, aktor watak Morgan Freeman, bahkan sampai aktor spesialis peran – peran antagonis dari Inggris yang sedang terkenal pasca bermain sebagai tokoh teroris perlente dalam film Die Hard bernama Hans Gruber, yaitu aktor Alan Rickman, pun turut mendukung film action adventure seru yang satu ini. Imbasnya, film ini sukses besar dimana – mana dan menjadi salah satu adaptasi Robin Hood terbaik hingga saat ini. Tak cuma itu, Robin Hood pun juga sempat dibikin parodinya lewat film Robin Hood : Men in Tights dengan bintang komedian Cary Elwes dan cukup diterima masyarakat saat itu berkat kekonyolan – kekonyolan yang ada dalam film tersebut.

Kini, setelah 500 tahun lebih cerita tentang Robin Hood menjadi legenda, Hollywood pun masih penasaran untuk mengadaptasi ceritanya ke layar lebar. Universal Pictures menerima script buatan duo penulis naskah Ethan Reiff dan Cyrus Voris di tahun 2007. Naskah ini dibeli dengan harga fantastis, sekitar 7 digit untuk naskahnya. Naskah ini sebenarnya lebih mengedepankan tentang kisah Sheriff of Nothingham dengan porsi tokoh Robin Hood yang lebih sedikit serta puncaknya merupakan kisah cinta segitiga antara sang Sheriff dengan Lady Marian serta Robin Hood. Bulan April 2007, Universal mengontrak sutradara spesialis film action terkenal, Ridley Scott, untuk mengkomandani film ini. Ridley Scott pun meminta penulis naskah Brian Helgeland untuk menulis ulang naskah buatan Reiff dan Voris. Dibantu dengan penulis naskah lain seperti Paul Webb dan Tom Stoppard, akhirnya naskah film ini berubah drastis dan lebih menitik beratkan Robin Hood sebagai tokoh utama. Aktor Russell Crowe yang sudah keburu teken kontrak untuk membintngi film ini dengan bayaran fantastis pun ( US$ 20 Juta + 20% keuntungan film ini ( Gross Profit )) tetap ditunjuk sebagai aktor utama film ini, hanya karakternya sekarang berubah menjadi Robin Hood. Aktris Cate Blanchett pun akhirnya dikontrak sebagai Lady Marian setelah aktris Sienna Miller yang sebelumnya sudah teken kontrak untuk berperan sebagai Lady Marian di film ini, mendadak mengundurkan diri dan aktris Kate Winslet yang ditawari untuk peran inipun juga ikut menolak. Pemilihan kedua aktor dan aktris utama inipun juga tidak lepas dari kontroversi akibat umur dan wajah mereka yang sudah terlalu tua untuk berperan sebagai Robin Hood dan Lady Marian. Cate Blanchett pun tidak ambil pusing dengan cibiran tersebut; tapi tidak demikian dengan Crowe. Dia pun langsung mengambil inisiatif untuk menyewa seorang personal trainer NBA untuk menempa dan membentuk kembali fisiknya yang menggembung setelah syuting film Body of Lies. Tak tanggung – tanggung, semua biaya P.T. ( Personal Trainer – Red ) tersebut pun dibiayai oleh Universal dan untuk menjaga bobot dan bentuk tubuh Crowe selama syuting berlangsung, sebuah ruangan khusus berisi perlengkapan dan peralatan Gym komplit bagi Crowe pun juga disediakan khusus oleh Universal. Crowe pun juga membaca semua literatur yang berhubungan dengan Robin Hood dan berlatih panah secara intensif selama 4 bulan sebelum syuting dimulai. Hasilnya?? Cukup mengesankan. Crowe mampu memanah target sejauh 45 meter dengan tepat.

Film ini ditargetkan beredar pada 26 November 2009, tapi, akibat mogok anggota WGA pada bulan Juli 2008, film inipun terpaksa merubah jadwal rilisnya. Syuting tadinya diharapkan berjalan pada Februari 2009, kembali molor untuk penyempurnaan naskah serta persiapan syuting agar berjalan dengan lebih baik dan lancar. Akhirnya, syuting berlangsung pada 30 Maret 2009 dan Scott pun menetapkan tanggal edar 14 Mei 2010 sebagai jadwal edar film ini. Dan, pada tanggal 26 Maret 2010, film ini akhirnya mendapat tempat prestisius karena film ini akan menjadi film pembuka Festival Film Cannes 2010.

Film Robin Hood ini memiliki garis besar cerita yang sama dengan kisah Robin Hood yang kita kenal, hanya saja ditambahi beberapa informasi tambahan sebagai penguat kisah Robin Hood. Berkisah tentang perjuangan Sir Robin Longstride, Earl of Huntington atau yang biasa kenal dengan nama Robin Hood, seorang pejuang The Third Crusade ( Perang Salib Ketiga ) dan merupakan seorang prajurit setia King Richard. Robin adalah seorang prajurit yang memiliki kehandalan dalam memanah, ahli pertarungan jarak dekat, dan ahli strategi. Ketika pulang bertugas akibat kematian King Richard, Robin mendapati kenyataan yang pahit tentang kampung halamannya. Raja yang baru, King John ( Isaac ), berniat untuk menambah kekayaan serta harta kerajaan untuk persiapan perang dan juga demi kelancaran pemerintahan. Untuk itu, dia menitahkan penguasa setempat bernama Sherrif of Nohingham yang lalim dan gila harta serta gemar menindas rakyatnya untuk menambah pajak lebih besar kepada rakyat. Siapapun yang menentang hal ini, akan diambil tindakan tegas, kalau perlu, hukuman mati. Robin yang tidak suka dengan hal inipun memberontak dan melakukan perlawanan dari balik hutan. Robin tidak sendirian berjuang, karena dia akan dibantu oleh Lady Marian yang juga memberontak melawan sang shreiff yang keji. Bersama Robin, Marian membentuk pasukan pemberontak untuk menghentikan penindasan sheriff keji tersebut dengan cara yang sudah terkenal dalam sejarah, yaitu merampok orang – orang kaya dan membagikan harta rampokan tersebut ke rakyat – rakyat kecil serta mengumandangkan keadilan serta kebebasan bagi rakyat kecil yang tertindas.

Cerita yang simple? Yap Jelas. Filmnya memang memiliki cerita yang simple. Tapi, kita tidak akan pernah tahu akan ada kejutan apa dibalik ke-simple-an naskahnya tersebut. Apakah memang akan ada penambahan jati diri tentang Sheriff of Nothingham atau Lady Maria atau tentang Robin, kita belum akan tahu sebelum kita melihat hasil akhir filmnya ketika diputar nanti. Yang jelas, duet Sutradara – aktor Ridley Scott dan Russell Crowe bukanlah sebuah hal yang bisa dianggap remeh dan sebelah mata oleh banyak kalangan. Kerjasama apik mereka membuahkan keberhasilan ganda ( keberhasilan secara Box Office dan Oscar ) dalam film Gladiator.pun menjadi bukti bahwa duet maut sutradara – aktor film ini pun bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Film ini memang didukung oleh banyak orang – orang yang berprestasi dalam banyak penghargaan film. Yang lebih mantapnya lagi, film inipun juga didukung oleh 2 bintang utama serta sutradara penerima Oscar yang sangat sayang untuk dilewatkan. Kita masih ingat bahwa aktris Cate Blanchett pun behasil menyabet Oscar lewat perannya dalam film The Aviator. Selain itu, Ridley Scott juga dikenal sebagai sutradara yang mampu membuat film full action dan menghibur tapi tidak meninggalkan bobot cerita dalam setiap karyanya, seperti yang diperlihatkannya dalam film Black Hawk Down dan Gladiator. Scott juga dikenal sebagai sutradara film action yang masih menyisipkan pesan – pesan khusus dalam setiap filmnya, seperti pencarian kebebasan seorang manusia ( dalam film Gladiator ), kemanusiaan untuk menolong antar sesama dalam sebuah grup ( Black Hawk Down ), hingga tentang pentingnya arti perdamaian dan kerukunan antar seluruh umat beragama di dunia ( Kingdom of Heaven ) adalah contah pesan yang dilontarkan oleh sineas film action yang usianya sudah tidak muda tapi masih berjiwa muda ini. Selain itu, fans setia cerita Robin Hood pastinya akan menunggu – nunggu film yang diangkat dari cerita favorit mereka ini.

Film ini bukan tanpa kekurangan. Ingat film – film gagal secara Box Office seperti Kingdom of Heaven dan Body of Lies? Yap, 2 film tersebut adalah film karya Ridley Scott. Kedua film tersebut bisa dikatakan memiliki kualitas yang lumayan bagus, tapi ironisnya, film ini gagal dalam perolehan Box Office. Kedua film berbujet besar tersebut hancur berantakan dalam peredarannya di Amerika, tapi cukup tertolong dalam peredarannya secara Internasional. Kegagalan dua film tersebut bisa dikatakan merupakan aib yang bisa membuat beberapa orang yang mengetahui akan kegagalan film tersebut menjadi malas untuk menonton film Robin Hood ini atau minimal malas untuk menyaksikan film – film karya Ridley Scott berikutnya. Selain itu, faktor tidak sesuainya casting Russell Crowe dan Cate Blachett sebagai Robin Hood dan Lady Marian akibat umur dan wajah mereka yang sudah terlalu tua itu, bisa membuat sebagian kalangan bertanya – tanya ”Apa Ridley Scott gak salah casting orang nih??” dan bisa membuat mereka malas untuk menonton film Robin Hood yang baru ini. Memang harus diakui, film Robin Hood versi tahun 1991 merupakan contoh ( dan terkadang juga dijadikan sebagai barometer pembanding) bahwa casting – casting yang masih muda, fresh, dan terkenal merupakan sebuah keharusan dalam setiap film Robin Hood dan hal inilah yang sampai sekarang masih dipegang teguh oleh banyak penonton film – film Robin Hood. Oleh sebab itu, agak disayangkan juga bahwa setiap film Robin Hood yang baru harus menggunakan aktor dan aktris muda yang belum tentu kualitas aktingnya menawan dibandingkan dengan aktor aktris watak dan terkenal walau sudah tua seperti Robin Hood versi baru ini, karena memang mindset penonton sudah disetting seperti itu.

Overall, film Robin Hood versi Ridley Scott ini jujur sayang untuk anda lewatkan. Kolaborasi bintang – bintang dan sutradara peraih Oscar dalam film ini merupakan moment langka yang bisa anda saksikan dalam film epik kolosal yang berbujet sekitar US$ 130 juta ini. Selain itu, diluar kegagalan Scott lewat film Kingdom of Heaven dan Body of Lies, minimal kita berikanlah kesempatan ketiga bagi Scott untuk menebus dosa – dosa nya lewat film Robin Hood ini. Marilah juga kita berikan kesempatan bagi aktor Russell Crowe dan aktris Cate Blanchett untuk unjuk gigi dan membuktikan bahwa mereka tetap pantas berperan sebagai Robin Hood dan Lady Marian walau sudah tidak muda lagi dan dianggap miss-casting oleh banyak kalangan ini. Dengan pengarahan khas Ridley Scott yang tetap setia untuk menghibur penonton tapi juga tidak melupakan bobot dan kualitas cerita, serta permainan Crowe dan Blanchett yang apik, film ini pastinya akan menjadi salah satu ( calon ) adaptasi Robin Hood terbaik, selain tentunya film Robin Hood tahun 1991 dan juga film konyol Robin Hood : Men of Tights. Saya pribadi percaya, minimal film ini bisa menghibur penonton, karena lewat 3 trailer yang dilepas ke publik, adegan – adegan actionnya cukup seru dan mengingatkan kita akan kekolosalan adegan pertempuran yang ada pada film Gladiator. So, bagi anda yang mencari film action menghibur tapi masih memiliki bobot cerita, atau penasaran melihat kolaborasi para bintang dan sutradara peraih Oscar, atau memang fans sejati kisah Robin Hood atau kisah – kisah epik kolosal lainnya, Robin Hood WAJIB menjadi tontonan yang WAJIB anda tonton minggu ini. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:

Trailer 2:

Minggu, 09 Mei 2010

Preview A Nightmare on Elm Street


Preview

A Nightmare on Elm Street ( Platinum Dunes_2010 )

Pemain : Jackie Earle Haley as Freddy Krueger

Rooney Mara as Nancy Holbrook

Kellan Lutz as Dean Russell

Katie Cassidy as Kris Fowles

Thomas Dekker as Jesse Braun

Kyle Gallner as Quentin Smith

Sutradara : Samuel Bayer

Rilis =

  • 30 April 2010 ( Amerika Serikat )
  • 12 Mei 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Tidur adalah obat paling manjur bagi manusia untuk menghilangkan rasa lelah, penat, jenuh, bahkan stress dari tekanan pekerjaan dan juga merupakan obat yang paling ampuh untuk meredakan amarah kita yang sedang berkobar – kobar. Pada hakikatnya, Sang Pencipta memang memberikan contoh kepada manusia agar beristirahat setelah lelah mengerjakan segala pekerjaan yang dijalankan. Tidur adalah anugrah terbesar manusia untuk mengatasi rasa capek dan stress. Seringkali, saking terlelap dan enaknya kita tertidur, secara tidak sadar, kita memasuki alam mimpi. Tak jarang, kita pun mengigau secara tidak sadar ketika kita tertidur pulas. Mimpi kitapun juga beragam jenisnya, mulai dari mimpi yang indah, seru, dan juga bisa MENYERAMKAN.

Tapi, apa jadinya jika kita bermimpi, tapi kemudian kita bertemu dengan setan yang siap membunh kita dan kemudian kita pun tidak akan terbangun – bangun lagi ketika kita dibunuh oleh monster tersebut di alam mimpi? Well, ide menarik ini dicetuskan pertama kalo oleh rajanya film – film horror tahun 1980-an bernama Wes Craven. Craven yang pada masa itu telah sukses sebagai sineas film – film horror seperti The Last House on the Left, The Hills Have Eyes, Deadly Blessing, dan Swamp Thing, tiba – tiba saja mendapatkan ide bahwa kematian bisa saja datang ketika seseorang sedang tidur dan memasuki alam mimpi dan kejadian – kejadian menyakitkan yang terjadi di alam mimpi bisa dirasakan juga pada kejadia nyata. Inspirasi Craven mengenai jalan cerita film inipun diambil dari beberapa sumber, salah satunya adalah berita dari surat kabar LA Times mengenai para pengungsi warga Kamboja akibat kekejaman rejim Pol Pot Khmer Merah yang mengakibatkan para pengungsi tersebut dihantui mimpi buruk yang sangat menakutkan dan akhirnya mereka menolak untuk tidur akibat mimpi buruk tersebut, dan yang lebih parah, justru beberapa orang pengungsi tersebut yang tertidur pun akhirnya mengalami kematian dan setelah diselidiki dan diadakan penelitian, penyakit tersebut akhirnya diberi nama Sudden unexpected death syndrome (SUDS) or Sudden unexpected nocturnal death syndrome (SUNDS), yaitu kematian mendadak ketika seseorang sedang tertidur, dan kematian ini sering disebabkan oleh sebuah sindrom bernama Brugada syndrome. Selain itu, Craven pun juga menciptakan tokoh Freddy Krueger berdasarkan pengalaman pribadinya, dimana ketika suatu malam, Craven yang masih muda melihat bayangan seseorang di jendela kamarnya, sedang menatap dia, kemudian berlalu begitu saja. Selain itu, nama Freddy Krueger pun juga diambil dari nama temannya yang sering menjahilinya selama sekolah bernama Fred Krueger.

Skrip film A Nightmare on Elm Street dikerjakan oleh Craven pada tahun 1981 dan setelah selesai, Craven pun menawarkan ke beberapa studio film ternama untuk membiayai naskah filmnya agar bisa diangkat ke layar lebar. Beberapa studio besar menolaknya, tapi Walt Disney Pictures tertarik dengan naskah Craven, walaupun akhirnya harus ditolak Craven karena harus ada penurunan adegan sadis agar bisa ditonton oleh anak – anak dan remaja. Paramount Pictures pun juga tertarik, tapi akhirnya batal akibat adanya persamaan cerita dengan film Dreamscape yang diproduksi oleh Paramount. Akhirnya, New Line Cinema pun membeli hak cipta naksah film ini dan langsung setuju untuk memproduksi filmnya. Walaupun sempat mengalami hambatan ketika proses produksi dan juga memakan biaya cukup besar pada masa itu, sekitar US$ 1,8 Juta, tapi akhirnya film ini berbuah manis pada tangga Box Office Amerika dan langsung balik modal pada minggu pertama film tersebut dirilis. Dengan kesuksesan ini, akhirnya film Nightmare on Elm Street pun dibuat franchise horror dan sudah menelurkan 9 seri A Nightmare on Elm Street ( termasuk Freddy VS Jason ) untuk versi layar lebarnya, selain TV Shownya, merchandise, game, novel, buku komik, dan masih banyak lagi.

Tak ayal, kesuskesan film ini, sampai dicap sebagai Cult Classic Horror oleh para penggemar film horror, membuat Platinum Dunes, rumah produksi film milik sutradara cadas Michael Bay, tergelitik untuk me-reboot film ini. Berita tentang reboot film ini tersebar di tahun 2008. Produser film ini, Brad Fuller, menginginkan film baru A Nightmare on Elm Street ini menjadi sebuah film yang lebih mengedepankan tensi horror ketimbang horror dengan balutan joke – joke konyol seperti yang ada pada film lama Nightmare on Elm Street. Oleh sebab itu, ia ingin membuat film A Nightmare on Elm Street baru ini menjadi film yang lebih horror, tanpa adanya joke, lebih sadis, dan lebih seram ketimbang Nightmare on Elm Street yang lama. Hal inipun diamini oleh Samuel Bayer, sutradara film ini. Walaupun Bayer sempat menolak tawaran dari Platinum Dunes untuk menyutradari film ini sebanyak dua kali, akhirnya dia menerima tawaran ini setelah menerima email dari Michael Bay mengenai ”prospek bisnis” film ini. Bay yang memang sudah meminang Bayer dari awal untuk menjadi sutradara film ini pun bergeming dengan keputusannya untuk memilih Bayer sebagai sutradara film Nightmare yang baru, bahkan perlu sampai turun tangan untuk membujuk Bayer dan usahanya berhasil. Pemilihan casting, khususnya karakter protagonis wanita Nancy Thompson ( di film yang baru, namanya berganti menjadi Nancy Holbrook ) dan karakter setan paling terkenal sepanjang sejarah dalam film ini, Freddy Krueger pun juga memiliki banyak kendala dan banyak pertimbangan dari pihak studio. Akhirnya, setelah seleksi yang ketat, Rooney Mara pun terpilih untuk memerankan karakter protagonis utama, Nancy. Sedangkan untuk pemeran sang setan, Freddy Krueger, tadinya, studio hendak memilih Billy Bob Thornton untuk berperan sebagai Freddy. Akhirnya, pilihan jatuh kepada aktor Jackie Earle Haley sebagai pemeran tokoh Freddy, setelah Platinum Dunes melihat dia bermain gemilang dalam film Little Children. Bayer sempat ragu dengan keputusan studio memilih Haley sebagai pemeran tokoh Freddy, tapi akhirnya berubah pikiran setelah Haley bermain gemilang sebagai tokoh Rorschach dalam film superhero terpuji tahun lalu, Watchmen. Akhirnya, untuk tokoh – tokoh lain, terpilihlah beberapa aktor muda seperti Kyle Gallner, Katie Cassidy, Thomas Dekker, dan Kellan Lutz dan hal ini termasuk tanpa rintangan dalam proses pemilihannya. Syuting juga berjalan lancar dari tanggal 5 Mei 2009 sampai 10 Juli 2009.

Film ini masih memakai pakem cerita yang sama dengan A Nightmare on Elm Street versi tahun 1984. Anak – anak dan pemuda di Elm Street mati secara mendadak, mengenaskan, dan misterius pada saat mereka terlelap tidur di kota kecil tersebut. Semua orang tua takut dan bingung dengan hal tersebut. Nancy Holbrook ( Mara ), seorang gadis remaja dari Elm Street tersebut, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan pemuda pemudi yang tewas secara misterius tersebut. Dibantu dengan teman – temannya seperti Quentin Smith (Gallner) dan Jesse Braun (Dekker), Nancy pun menemukan fakta bahwa semua ini akibat ulah perbuatan orang tua di Elm Street yang membakar secara massal seorang pria bernama Freddy Krueger ( Halley ) yang dicurigai sebagai seorang child molester ( yaitu orang yang suka menyiksa, melakukan pelecehan seksual, dan juga terkadang membunuh anak – anak yang masih kecil ). Freddy ternyata tidak mati, justru dia bangkit kembali sebaga seorang setan yang membunuhi anak – anak dan remaja yang ada di Elm Street, sesuai dengan sumpahnya sesaat sebelum dia mati terbakar. Hal ini justru dirahasiakan oleh para orang tua di Elm Street dan tidak menceritakannya kepada anak – anak mereka. Penasaran, mereka mencari fakta apakah benar Freddy seorang child molester. Apakah benar demikian? Pastinya, Nancy, Jesse, serta Quentin pun harus bertindak cepat untuk menghentikan Freddy, sebelum korban remaja semakin bertambah banyak, dan tentunya, sebelum nyawa mereka ikut melayang akibat dikejar – kejar oleh setan bermuka rusak, berbaju sweater lusuh berwarna merah hijau, serta ber–sarung tangan cakar baja di tangan kanannya tersebut!

Well, sebagai sebuah film remake, film A Nightmare on Elm Street sebenarnya tidak memiliki pakem cerita baru yang bisa digali lebih dalam lagi akibat sudah banyak orang yang tahu akan cerita mengenai setan pembunuh di alam mimpi tersebut. Akibatnya, film ini kemungkinan besar tidak berkembang dari sisi cerita. Pastinya, bobot cerita tidak akan terlalu dipentingkan di film ini. Film ini pastinya akan lebih menjual ke arah adegan – adegan yang lebih seram, lebih sadis, dan lebih mencekam ketimbang film lamanya. Ada 2 sisi yang menjadi penilaian tentang film A Nightmare on Elm Street yang baru ini. Di satu sisi, ide untuk me-reboot film ini merupakan ide yang cukup bagus untuk memperkenalkan sosok setan pembunuh bernama Freddy Krueger ini ke hadapan para kalangan anak muda jaman sekarang yang tidak pernah mengenal sosok Freddy lewat film jadulnya ( jadul = JAman DULu – Red ). Di sisi lain, reboot film ini merupakan ide yang sebenarnya tidak perlu bagi penggemar film jadulnya karena cerita tentang Freddy sendiri sudah tidak ada yang bisa dikupas lagi. Selain itu, pertanyaan terbesar muncul dari akting sang aktor utama yang menjadi sosok penting dalam film ini, yaitu Jackie Earle Haley. Apakah dia bisa menggantikan akting dan kharisma Robert Englund sebagai tokoh Freddy Krueger yang baru? Seperti yang sudah kita ketahui, sosok Robert Englund sebagai tokoh Freddy Krueger yang sadis tapi juga humoris sudah menempel erat di benak penonton film jadulnya, sehingga agak sedikit sanksi, apakah Jackie Earle Haley bisa berperan mantap sebagai sosok Freddy yang baru. Kharisma aktor berusia 62 tahun tersebut sudah sangat pas sebagai sosok Freddy Krueger. Buktinya, 9 film seri A Nighmare on Elm Street dibintanginya terus oleh kakek yang satu ini. Apapun yang berhubungan dengan Freddy Krueger, pasti dikaitkan oleh aktor horror sepuh yang satu ini. Hal ini bisa menjadikan beban tersendiri bagi Haley untuk memerankan Freddy. Tapi, secara khusus, Englund memberi restu penuh bagi Haley untuk menggantikan dirinya berperan sebagai Freddy Krueger, sehingga ini bisa menjadi support tersendiri bagi Haley.

Overall, film A Nightmare on Elm Street versi reboot ini pastinya tetap akan memiliki nilai positif dan negatif tersendiri bagi kalangan anak muda jaman sekarang dan juga kalangan fans film jadulnya. Terlepas dari apakah Haley bisa menggantikan sosok Englund sebagai Freddy, pastinya, film ini akan lebih menjual lebih banyak adegan mencekam, lebih banyak adegan horror, lebih sadis, tidak ada adegan humor, dan lebih dark ketimbang A Nightmare on Elm Street versi lawasnya. Platinum Dunes, sebagai studio film yang bergerak di genre remake film horror, sudah terbukti kualitasnya sebagai studio film yang mampu me-remake atau me-reboot film – film horror lawas dengan kemasan yang lebih baru dan lebih mengena di hati anak muda jaman sekarang. Film – film remake horror seperti The Texas Chainsaw Massacre, The Amityville Horror, The Hitcher, dan Friday the 13th merupakan bukti kesuksesan Platinum Dunes sebagai studio film spesialis remake dan reboot film – film horror lawas. Hasil Box Office film – film tersebut pun tidak mengecewakan dan diterima oleh banyak kalangan anak muda jaman sekarang. Secara tidak langsung, anak muda jaman sekarang bisa mengetahui film – film horror terkenal jaman dulu akibat kinerja Platinum Dunes yang me-remake dan me-reboot film – film horror jadul terkenal tersebut. Plus, film ini mendapat promosi gratis lewat artikel berita dari salah satu website berita terkenal di Indonesia mengenai kasus kematian seseorang dalam tidurnya ( artikel bisa dilihat di link ini : http://health.detik.com/read/2010/05/03/183032/1350406/763/mimpi-buruk-yang-bisa-membunuh ) baru - baru ini. So, bagi anda yang penasaran dengan film jadul A Nightmare on Elm Street tapi belum sempat menonton film jadulnya, atau memang sedang mencari film horror yang pas bagi anda dan pacar atau gebetan anda, atau memang kepingin bernostalgia dengan film horror lawas dengan citarasa baru, maka film A Nightmare on Elm Street versi reboot ini adalah film yang WAJIB anda tonton di minggu ini. So, bersiaplah anda, terutama anak muda jaman sekarang, untuk bermimpi buruk setelah menonton film ini, dan jangan sampai anda dikejar oleh Freddy di dalam mimpi anda. HUAHAHAHAHAHAHAHA. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:



Trailer 2:

Sabtu, 01 Mei 2010

Review Iron Man 2


Review

Iron Man 2 ( Paramount Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Jon Favreau

Rilis =

  • 7 Mei 2010 ( Amerika Serikat )
  • 30 April 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Harapan semua penonton ketika menyaksikan sebuah film yang merupakan sekuel atau film ke dua dari sebuah judul film adalah harapan akan lebih bagus, lebih menghibur, dan lebih istimewanya sebuah sekuel itu dibanding film pertamanya. Well, tidak selalu harus lebih seru dan lebih banyaknya adegan - adegan action yang ada di sekuelnya ketimbang di film pertamanya. Banyak aspek yang bisa dilihat untuk menentukan apakah sekuel dari sebuah film bisa dinilai lebih baik ketimbang film pertamanya. Beberapa contohnya adalah cerita yang makin berbobot, kelancaran cerita yang ada di sekuelnya sehingga penonton bisa menikmati filmnya secara enak dan lancar serta tidak membosankan, dan adanya element - element tambahan yang unik dan beda antara film yang pertama dengan kedua.

Tak jarang, banyak film sekuel yang bisa lebih bagus ketimbang seri pertamanya; tapi tak jarang pula, banyak film sekuel yang kualitasnya justru berada jauh dibawah film pertamanya. Beberapa contoh sekuel yang lebih bagus ketimbang seri pertamanya adalah 4 seri Lethal Weapon, 4 seri Die Hard, Spiderman 2, sampai yang teranyar adalah The Dark Knight yang merupakan sekuel dari Batman Begins. Sedangkan beberapa contoh sekuel yang lebih buruk ketimbang seri pertamanya adalah Spiderman 3, Basic Instinct 2, Son of the Mask, bahkan yang paling gress, yaitu Transformers 2 : Revenge of the Fallen yang sangat "berhasil" menjadi film super hancur berantakan ketimbang film pertamanya. Lalu, bagaimana dengan nasib sekuel film Iron Man, yaitu Iron Man 2?? Mari kita lihat saja hasil review di bawah ini.


Sebelum masuk ke pembahasannya, ada baiknya kita simak terlebih dahulu sinopsis ceritanya. Diceritakan dunia akhirnya mengetahui bahwa pengusaha senjata yang terkenal kaya dan tampan serta playboy bernama Tony Stark ( Downey ) adalah superhero Iron Man ( sesuai dengan ending Iron Man 1 dimana dia membeberkan bahwa dirinya adalah Iron Man kepada pers ). Tugas Tony pun bertambah; mulai dari mengurus perusahaannya, membina hubungan cintanya dengan sang sekretaris setianya, Pepper Potts, sampai dengan urusan menjaga keamanan dunia. Tapi ada suatu hal yang Tony sembunyikan dari semua orang, kecuali JARVIS, komputer setianya. Tony tidak ingin membuat semua orang yang ada di dekatnya menjadi khawatir dengannya, sehingga iapun menutup rapat - rapat rahasianya tersebut. Karena Tony pun kelelahan akibat tugasnya yang menumpuk, Tony sampai mengangkat sang sekretaris setianya, Pepper Potts, untuk naik pangkat menjadi CEO Stark Enterprise menggantikan tokoh antagonis Obadiah Stane yang tewas ketika bertarung dengan Tony, serta untuk menggantikan Tony. Walaupun terlihat berat, tapi Tony terlihat menikmati sekali pekerjaan – pekerjaannya tersebut. Seiring dengan bertambahnya tugas, maka semakin banyak pulalah tanggung jawab serta tekanan dalam diri Tony. Militer Amerika serta pers memaksa agar Tony menyerahkan rancangan baju dan teknologi yang terdapat pada Iron Man. Tony pun menolak dengan tujan supaya teknologi maha dahsyat tersebut tidak jatuh ke tangan orang jahat. Di tengah tekanan dari militer Amerika tersebut, muncullah seorang ilmuwan rusia yang gila dan jahat bernama Ivan Vanko ( Rourke ) yang sangat membenci Tony Stark A.K.A Iron Man dan ingin menghancurkan Iron Man. Tak tanggung – tanggung, Vanko pun juga menciptakan sumber energi mirip dengan punya Tony dan menciptakan baju tempur khusus berupa cambuk listrik super panjang dan besar. Tak hanya itu, saingan bisnis Tony bernama Justin Hammer pun mulai mengumandangkan perang terbuka kepada Tony dalam hal persaingan dunia bisnis dan diam – diam bekerja sama dengan Ivan Vanko untuk menjalankan suatu rencana jahat bersama dengan menciptakan robot – robot tempur mirip seperti Iron Man untuk menghancurkan Tony. Untunglah Tony masih memiliki sahabat – sahabat setia yang masih mau membantu menolongnya, seperti Nona Potts, sang bodyguard bernama Happy Hogan, Nick Fury yang merupakan kepala badan intelejen rahasia AS bernama SHIELD, agent wanita Rusia dari SHIELD bernama Natalie Rushman / Natasha Romanoff / Black Widow ( Johansson ) serta tentunya, Lt. Colonel James "Rhodey" Rhodes yang nantinya akan menggunakan baju tempur baru ciptaan Tony bernama War Machine, dan telah selesainya baju Iron Man baru, yaitu Mark VI. Mereka siap menopang Iron Man dalam menghadapi segala musuh yang menghadang.

Lalu, bagaimana dengan hasil filmnya? Dengan sangat menyesal saya katakan, bahwa film Iron Man 2 hasilnya TIDAK MEMUASKAN DAN LEBIH MENGECEWAKAN ketimbang Iron Man 1. Sebenarnya, cerita yang ada di Iron Man 2 sedikit lebih kompleks ketimbang sinopsis yang ada di review saya ini. Tapi, saya berusaha meminimalisir sinopsisnya karena memang ceritanya ada kejutan - kejutan yang sayang kalo sampai saya bocorkan disini. Saya pun berprinsip bahwa shocking moment yang ada di sebuah film jangan sampai dibocorkan terlebih dahulu sampai penontonnya menonton sendiri filmnya, supaya lebih gress. He3. XD. Tapi, karena kerumitan ceritanya itulah, Iron Man 2 akhirnya memiliki lubang tersendiri yang menyebabkan filmnya menjadi lebih jelek ketimbang film pertamanya. Penulis naskah Justin Theroux beserta dengan sang sutradara, John Favreau dan juga Robert Downey Jr memang memiliki ide briliant untuk memasukan unsur depresi kedalam diri tokoh Tony Stark akibat tekanan - tekanan yang dia terima, baik secara internal maupun eksternal. Tapi sayangnya, akibat terlalu banyaknya konflik yang ada, film menjadi kehilangan fokus, sehingga yang terjadi adalah penyelesaian setiap masalah yang ada secara gampang dan asal saja kalu tidak mau dikatakan klise. Hal ini pun akhirnya berimbas kepada penonton. Penonton seakan disiksa selama menyaksikan filmnya, khususnya ketika memasuki tengah film menjelang akhir. Cerita yang bertele - tele serta problem cerita yang terasa dipanjang - panjangkan dengan sangat sukses membuat penonton menjadi bosan menyaksikan filmnya menjelang tengah film. Eksekusi problem yang ada dalam cerita tidak dipikirkan secara matang terlebih dahulu, sehingga akhirnya, problem - problem yang ada dalam filmnya menjadi basi, tidak terarah, bertele - tele, dan memiliki penyelesaian yang basi dan klise pula.

Tak cukup sampai disitu saja penonton disiksa ketika menyaksikan film Iron Man 2 ini. Adegan - adegan action yang sedianya bisa menjadi obat ampuh untuk membunuh rasa bosan dan kantuk penonton selama film ini berlangsung pun parahnya dieksekusi dengan BOBROK pula. Adegan - adegan action yang ada di film ini justru berlangsung sebentar, tidak begitu spektakuler, dan seakan - akan penyelesaian dari setiap adegan action yang ada pun dibuat terlalu cepat dan gampang. Penonton yang tadinya mengharapkan adegan action yang lebih seru, lebih keren, lebih mendebarkan, lebih lama, serta lebih mengGIGIT ketimbang film pertamanya, terpaksa harus GIGIT JARI ( mungkin ada kali yang sampai menggigit bibir atau bahkan mungkin sampai menggigit kuping orang disampingnya akibat kesal dengan adegan - adegan action di film ini. He3. XD ) dengan adegan - adegan action yang ada di film ini. Kecuali adegan kejar - kejaran yang ada di bagian hampir ending film ini, semua adegan action di film ini yah masuk dalam kategori BASI. Kita yang mengharapkan pertempuran lebih seru antara Iron Man dengan Whiplash atau bahkan pertempuran klimaks antara Iron Man dan War Machine melawan Whiplash pun ternyata harus berakhir dengan cepat, gampangan, dan manyakitkan serta menyedihkan.

Lalu, bagaimana dengan akting para pemainnya?? Well, di sektor ini, saya beri apresiasi lebih kepada 2 pemain barunya, yaitu Mickey Rourke dan Scarlett Johansson. Mereka secara meyakinkan berhasil memerankan orang Rusia dengan aksen Rusia yang kental ketika mereka berbicara, sehingga kita pun merasa terbawa dengan permainan mereka yang aslinya buka orang Rusia. Pemain - pemain utama lainnya bermain seperti biasa dan terlihat sekali mereka semakin bisa mendalami karakter - karakter mereka dibanding film pertamanya. Lalu, pertanyaan terbesar muncul pada akting pemeran tokoh Rhodes yang baru, yaitu Don Cheadle : apakah Don Cheadle berhasil memerankan tokoh Rhodes dengan meyakinkan ketimbang aktor sebelumnya, Terence Howard, yang dipecat sepihak?? Well, saya pribadi menilainya agak sulit. Yang pasti, karakter tokoh Rhodes menjadi berubah dan berbeda ketimbang di film Iron Man 1. Di Iron Man 2, Don Cheadle memerankan tokoh Rhodes dengan pembawaan yang lebih serius, jarang melontarkan joke - joke yang lucu, dan tidak mudah terpengaruh oleh sifat urakannya Tony Stark. Well, di satu sisi, saya menilai Don berhasil melepaskan image tokoh Rhodes yang ada di film pertamanya dan memerankan tokoh Rhodes dengan gayanya sendiri. Di sisi lain, saya juga merasa kehilangan dan rindu dengan sosok Rhodes yang dibawakan dengan apik oleh Terence Howard. Penonton yang sudah kadung suka dengan tokoh dan karakter Rhodes yang ada di film Iron Man 1 pun pastinya akan kecewa dengan perubahan karakter Rhodes yang baru.

Setelah daritadi kita melihat sisi buruknya Iron Man 2 ini, apakah ada sisi positifnya? Ada. Yang saya sangat sukai dari film ini adalah masih adanya beberapa element shocking moment yang ada dalam film ini, walaupun sayangnya tidak sekeren yang Iron Man 1 dan shocking moment tersebut juga dieksekusi dengan hasil setengah - setengah. Selain itu, sisi positif lainnya adalah kehadiran band rock sepuh AC / DC yang mengisi soundtrack film ini, sehingga filmnya terkesan lebih garang dan lebih macho, walaupun kita akhirnya tahu bahwa filmnya lebih ke arah lebih lebay dan lebih bertele - tele. He3. XD. Tapi jujur, musik yang dibawakan AC / DC di film ini benar - benar keren dan lebih menghibur ketimbang adegan - adegan action memble dan cerita bobrok filmnya sendiri. Selain itu, adegan kejar - kejaran yang ada pada saat menjelang ending film ini pun juga cool dan menghibur. Satu lagi, humor - humor yang ada di film ini pun masih segar dan lucu untuk dinikmati.

Overall, film Iron Man 2 adalah contoh sebuah film sekuel yang lebih buruk ketimbang film pertamanya yang lebih berbobot dan lebih menghibur. Apakah karena Iron Man 2 memang memiki masa persiapan yang lebih kurang atau karena faktor pergantian penulis naskah dan ide cerita? Well, kelihatannya semua faktor tersebut serta segala kekurangan yang telah saya sebutkan diatas bisa disahkan. Yang pasti, film Iron Man 2 ini memang lebih kurang di berbagai aspek dibanding film Iron Man 1. Yang lebih parah, screen time untuk sang sutradara, John Favreau, yang berperan sebagai tokoh Happy Hogan pun semakin bertambah dan sialnya, tidak berkesan sama sekali. Mungkin, ini juga yang akhirnya membuat film Iron Man 2 lebih jelek ketimbang yang pertamanya, yaitu fakta bahwa sang sutradara TERLALU NARSIS DAN BANCI TAMPIL di film keduanya ini dibanding yang pertama, sehingga kehilangan konsentrasi untuk mengarahkan film Iron Man 2 agar menjadi film yang lebih bagus ketimbang Iron Man 1. Well, hati - hati bung. Anda sendiri yang mengajarkan di film ini, bahwa jika kita terlalu narsis dan banci tampil di muka umum, maka kesulitan lah yang akan anda dapatkan dan hal itu anda cerminkan lewat tokoh Tony Stark. OUCH!!! Seperti menampar muka sendiri. He3. XP. Tapi untungnya, masih ada point positif yang bisa dilihat dalam film ini, sehingga nilainya masih sedikit terbantu dibanding Transformers 2 tahun lalu. Jika tidak, maka saya tidak akan ragu untuk memberi nilai 4, bahkan 3 dari 10 untuk film ini. Tapi, bagi anda para penonton yang masih belum sempat untuk menonton film ini, jika anda memang sangat penasaran dengan filmnya, yah tonton saja atuh. Toh pilihan menonton kan ada di tangan anda, jadi, anda bebas untuk menentukannya. Ok2?? Akhir kata, selamat menonton.

Point :

Cerita = 5 / 10

Pemain = 6 / 10

Kriteria khusus :

Special Efek = 6 / 10

Unsur Hiburan

dan action = 4 /10

Total = 5 / 10


Copyright by : Alexander "Ajay" Dennis