Jumat, 25 Juni 2010

Review Knight and Day


Review

Knight and Day ( 20th Century Fox_2010 )

Pemain : Tom Cruise as Roy Miller
Cameron Diaz as June Havens
Peter Saarsgard as Agent Fitzgerald

Sutradara : James Mangold

Rilis =

· 23 Juni 2010 ( Amerika Serikat )

· 23 Juni 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

A

pa jadinya, jika anda adalah seorang perempuan yang selalu kurang beruntung dalam urusan percintaan, kemudian bertemu dengan seorang pria tampan yang ramah dan gentleman dan ternyata, dia satu penerbangan dan satu pesawat pula dengan anda? Lebih hebatnya lagi, sang pria memperkenalkan dirinya kepada anda tanpa basa basi. WAW!!! Lebih berbunga – bunga lah anda, wahai wanita yang beruntung. Tapi, apakah anda tetap akan berkencan dengannya, jika anda mengetahui, bahwa, pria tersebut, adalah, SEORANG MANTAN MATA – MATA AMERIKA YANG SEDANG DIINCAR OLEH SEMUA PIHAK, BAIK PENEGAK HUKUM MAUPUN PARA PENJAHAT?? Nah loh. Ini dia yang menjadi bumbu menarik dan kocak dari film terbarunya Cameron Diaz dan Tom Cruise arahan sutradara peraih 9 nominasi Oscar, James Mangold, berjudul Knight and Day. Ya. Film yang bergenre action adventure comedy romance ini, merupakan salah satu film yang terdapat pada parade Summer Movies tahun ini yang cukup ditunggu – tunggu oleh khalayak ramai. Betapa tidak?? Ada nama aktor beken Tom Cruise serta aktris cantik Cameron Diaz di dalam film tersebut, dan juga, trailer promosi film ini tergolong seru dan mampu memancing keingintahuan penonton terhadap filmnya.

Proyek film ini sebenarnya sudah dilampu-hijaukan oleh Fox sejak lama. Ketika itu, draft awal naskah film ini ditulis oleh Patric O’Neill. Sempat mengendap lama, naskah film ini akhirnya ditulis ulang oleh banyak pihak, seperti Scott Frank, kemudian Dana Fox, Laeta Kalogridis, Ted Griffin & Nicholas Griffin, serta direvisi oleh Timothy Dowling dan revisi terakhir dilakukan oleh Simon Kinberg dengan masukan – masukan dari sang sutradara, James Mangold.

Untuk pemilihan pemain pun prosesnya juga sama ribetnya. Dimulai dari pasangan Chris Tucker dan Eva Mendes yang didaulat untuk bermain di film ini walaupun akhirnya batal, kemudian komedian Adam Sandler yang batal ikut bergabung setelah melihat naskahnya, sampai actor macho Gerard Butler pun batal bergabung di film ini. Setelah mengendap tak jelas, film ini akhirnya dilirik oleh Tom Cruise yang sedang mencari sebuah film spionase sebagai proyek film terbarunya. Sony Pictures sempat membuatkan film ekslusif bagi Tom Cruise berjudul Salt. Para petinggi proyek film spionase The Tourist pun juga membidik Tom Cruise agar mau menjadi peran utama di film tersebut. Sayang, Tom akhirnya lebih memilih untuk bermain di film Knight and Day ini ketimbang 2 proyek film lainnya. Salt dan The Tourist pun akhirnya disambar oleh aktris Angelina Jolie. Tom Cruise masuk, Cameron Diaz juga langsung masuk sebagai pendamping Tom Cruise. Sebelumnya, mereka berdua sempat beradu akting dalam film Vanilla Sky 8 tahun lalu. Mereka berpendapat bahwa pertemuan mereka berdua dalam 1 film untuk kedua kalinya ini membuat suasana syuting menjadi lebih akrab dan mereka sudah mengerti kinerja satu sama lain, sehingga lebih mudah untuk bekerja sama kembali dalam film ini. Tak cuma itu, stunt coordinator film inipun mengatakan kepada pers bahwa hampir semua adegan stunt berbahaya yang terdapat dalam film ini dikerjakan sendiri oleh Cruise dan Diaz tanpa bantuan pengganti stuntman dan stuntwoman. Adegan action kejar – kejaran dan tembak – tembakan diatas sebuah motor yang sedang melaju kencang pun juga merupakan ide asli dari Cruise dan Diaz, sehingga membuat Mangold menjadi kagum dengan aktor dan aktris tersebut.

Film ini berkisah tentang seorang wanita yang selalu mengalami ketidakberuntungan dalam hidupnya bernama June Havens ( Diaz ). Bahkan untuk menghadiri pernikahan sang kakak pun di luar kota, June harus dipindah jam penerbangan akibat sudah fully booking. Tapi, tak selamanya ketidak beruntungan selalu mengikuti June. Buktinya, dia berkenalan dengan seorang pria ganteng, charming, dan gentleman bernama Roy Miller ( Cruise ). Ketika sedang berkenalan dan June pamit sebentar untuk ke kamar kecil, Roy dikeroyok oleh orang – orang asing yang ada di pesawat tersebut. Dengan mudah Roy menghabisi orang – orang tersebut dan menyelamatkan June dari kecelakaan pesawat. Masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, June pun akhirnya dijemput paksa oleh para agen FBI dan memberikan keterangan pada June bahwa Miller ternyata adalah mata – mata Amerika yang mendadak menjadi pengkhianat negara ketika sedang menjalankan sebuah misi penting di luar negeri. Untungnya June diselamatkan ( lagi ) oleh Roy. Ketika akhirnya Roy berhasil memaksa June untuk mengikutinya, Roy pun menceritakan tentang misi yang sedang diembannya dan kenapa dia sampai dikejar – kejar oleh pihak pemerintah. Roy sedang menjalankan sebuah misi untuk melindungi sebuah baterai berkekuatan super dan juga memiliki energi tanpa batas bernama Zephyr. Baterai tersebut diciptakan oleh seorang pemuda jenius bernama Simon Feck dan sudah menjadi kewajiban Roy juga untuk melindungi sang anak muda tersebut dari tangan – tangan orang jahat yang berusaha untuk merebut Zephyr maupun sang pemuda tersebut. Ketika bertugas, Roy yang dibantu oleh rekannya, Agent Fitzgerald ( Saarsgard ), mengetahui bahwa Fitzgerald ternyata berusaha untuk mengkhianati Roy guna mendapatkan baterai tersebut dan menjualnya dengan harga tinggi ke tangan seorang penjahat kelas kakap bernama Antonio ( Mola ). Roy yang mengetahui akal bulus Fitzgerald pun membawa kabur baterai tersebut dan menyembunyikan Feck ke tempat yang aman. Roy pun juga harus melindungi June karena June juga diincar oleh FBI dan Fitzgerald karena dianggap bersekongkol dengan Roy, serta karena alasan simple lainnya, ROY JATUH CINTA DENGAN JUNE!! Maka dimulailah petualangan mereka berdua untuk melindungi Feck dan juga baterai tersebut dari tangan orang – orang jahat. Namun tanpa sengaja, June mengetahui kenyataan pahit lainnya, bahwa Roy ternyata adalah pengkhianat sesungguhnya yang berusaha untuk menjual baterai tersebut ke tangan Antonio. Tapi hati kecil June mengatakan bahwa kelihatannya tidak mungkin Roy adalah pengkhianat sesungguhnya. Lalu, bagaimana dengan ending film ini? Apakah Zephyr, Feck, dan June bisa selamat dari tangan orang – orang jahat yang berusaha untuk membunuh mereka dan mendapatkan Zephyr? Dan, pertanyaan terbesarnya adalah, siapakah pengkhianat sesungguhnya? Apakah Roy, atau Fitzgerald? Well, untuk tahu lebih lengkapnya, tonton aja deh film action ini di bioskop – bioskop kesayangan anda di Indonesia. He3. XD.

Film ini menjanjikan adegan – adegan action tanpa henti yang super seru dan juga diselingi dengan humor – humor lucu di tengah – tengah adegan – adegan action keren tersebut. Dan, YA, hal tersebut benar adanya. Selama 110 menit, penonton akan disuguhi dengan adegan – adegan action yang cepat, seru dan juga terkadang diluar logika serta diselingi dengan humor – humor yang lucu. Semua hal yang dijanjikan di trailernya kepada para penonton yang sempat melihat trailernya benar – benar ditepati janjinya oleh cast and crew Knight and Day, sehingga penonton pasti puas dengan adegan – adegan action di film ini. Tak cuma itu, film inipun juga mengambil banyak latar belakang kota – kota yang indah yang menjadi setting cerita film ini. Pantai indah Karibia, Spanyol, Boston, dan masih banyak kota – kota indah lainnya di film ini berhasil ditampilkan di film ini sebagai pemanis.

Tapi sayangnya, ada beberapa hal yang mengganggu. Film ini sayangnya memiliki beberapa penyelesaian masalah yang terlalu cepat, terlalu simple, dan terlalu terburu – buru. Hal ini berlaku untuk adegan – adegan action serta ceritanya. Untuk adegan action, Adegan actionnya memang seru seperti yang telah saya sebutkan diatas, namun sayangnya simple dan cepat sekali, apalagi pas bagian endingnya. Film ini juga menyempilkan beberapa adegan – adegan action humor yang sudah sering dipakai oleh banyak film action sejenis. Misalnya, pas sedang adegan tembak – tembakan seru ditambah sedang dalam kondisi terkepung banyak musuh, masih sempat – sempatnya Roy dan June melakukan adegan ciuman hot. Well, adegan seperti sayangnya sudah banyak dipakai di film – film action humor lainnya, sehingga terkesan basi. Beberapa penjahat utama yang terlihat mantap, sangar, dan mampu menandingi Tom Cruise, dibuat mati dengan terlalu cepat dan mudah. Kasus ini mirip dengan film Iron Man 2 tempo hari, dimana para penjahat utama yang seharusnya bisa menambah greget seru film action tersebut, nyatanya mati dengan sangat mudah dan terkesan tanpa perlawanan. Hal inilah yang membuat penonton mengharapkan lawan yang sepadan bagi sang tokoh utama dan bakal terjadi adegan tarung super seru antara sang tokoh utama dengan penjahat utamanya, nyatanya dieksekusi dengan begitu gampang, sehingga membuat penonton kecewa. Sedangkan untuk ceritanya, sebenarnya film ini memiliki potensi cerita yang cukup bagus, apalagi melihat fakta bahwa film ini direvisi oleh banyak orang agar mendapat cerita yang mantap. Sayangnya, walaupun direvisi oleh banyak orang, ternyata kekuatan cerita di film ini justru terlalu ringan dan mudah ditebak oleh para penonton. Kelihatannya, revisi yang dilakukan oleh banyak orang tersebut justru berujung pada hasil yang nihil dan juga tidak ada gunanya. Bobot cerita di film ini terkesan kosong dan sudah basi karena sudah banyak digunakan oleh film – film sejenis. Yah, bisa dikatakan, bobot ceritanya sekosong film G.I Joe : The Rise of COBRA tahun lalu. Sebenarnya cerita pada film ini sempat mau dibikin twist plot, sehingga diharapkan akan menambah greget penonton untuk mengikuti ceritanya. Sayangnya, eksekusi twist plot tersebut terlalu kecepetan, terutama untuk membongkar siapa penjahat sesungguhnya.

Ada imbas lainnya ketika cerita berjalan serba cepat dan juga serba terburu – buru, yaitu penampilan tempat – tempat eksotisnya juga jadi terlalu cepat terlihatnya. Padahal, beberapa panorama indah yang terlihat di film ini bisa ditampilkan lebih banyak lagi oleh penonton, sehingga mereka bisa lebih mengagumi dan menikmati keindahan tempat – tempat yang menjadi lokasi cerita film ini. Sayangnya, penonton pun harus rela untuk menyaksikan sedikit saja keindahan lokasi – lokasi yang ada di film ini. Berbeda dengan The Karate Kid yang baru – baru ini keluar, sadar bahwa mereka tidak punya kekuatan di sector cerita, maka mereka menampilkan keindahan – keindahan lokasi yang ada pada filmnya secara maksimal. Dari sector special efek, sayangnya tidak dimaksimalkan dengan lebih baik lagi. Terbukti, efek CGI di film ini terlihat agak kasar dan kurang bagus, sehingga penonton bisa melihat mana adegan yang CGI dan mana yang tidak.

Dari sektor pemain, yang paling menonjol memang adalah Tom Cruise dan Cameron Diaz tentunya. Chemistry Cruise dan Diaz terlihat mantap di film ini. Cruise terlihat bermain lepas sebagai agen rahasia serius, ahli beladiri dan menembak, tapi bisa terlihat lucu secara bersamaan; sedangkan Diaz berhasil memerankan tokoh wanita kikuk, lugu, tapi memiliki semangat pantang menyerah untuk menjalani petualangan hidupnya. Well, pertemuan pertama Cruise dan Diaz di film Vanilla Sky tempo hari sedikit banyak berhasil membantu mereka agar bisa bermain lepas serta saling melangkapi satu sama lain di film ini. Kelihatannya Cruise pun juga makin nyaman dengan genre seperti ini, yaitu film action dibalut dengan humor segar. Tapi sayangnya, beberapa pemain pendukungnya tampil kurang meyakinkan, khususnya untuk aktor Peter Saarsgad yang bermain kikuk, kurang meyakinkan, dan kurang kejam untuk mengejar Roy. Aktor Jordi Mola yang sebelumnya tampil meyakinkan sebagai penjahat bengis dalam film Bad Boys 2, sebenarnya bisa tampil ok di film ini sebagai penjahat kelas kakap Antonio. Sayangnya porsi perannya terlalu sedikit, sehingga dia tidak bisa menampilkan sifat bengis Antonio secara utuh dan meyakinkan.

Overall, sebenarnya film Knight and Day adalah film yang bisa berpotensi lebih bagus, lebih menarik, lebih berbobot, dan juga lebih seru. Sayangnya, filmnya justru terlihat seakan – akan kurang darah ketika dieksekusi. Bisa dikatakan, kali ini sutradara James Mangold tampil kurang meyakinkan untuk mengarahkan film ini agar bisa menjadi film yang lebih baik lagi. Berbanding terbalik ketika dirinya dengan sukses mengarahkan film koboi 3:10 to Yuma menjadi sebuah film koboi seru, penuh greget, serta memiliki bobot cerita yang lebih baik daripada film Knight and Day ini. Kelihatannya, Mangold kali ini memang berniat untuk membuat film ringan menghibur semata saja tanpa perlu pusing memikirkan cerita yang berat. Pada dasarnya, film ini memang berhasil menghibur penonton sepanjang film ini berjalan. Secara tidak langsung, akibat cerita yang tanpa bobot, film ini justru berjalan lancar dan berhasil menghibur para penonton yang mengharapkan hiburan semata saja. Bisa dikatakan, score film ini sebenarnya bisa dikatakan seimbang dengan film action menghibur G.I Joe : The Rise of COBRA tahun lalu. Namun sayang, G.I Joe justru memiliki beberapa point positif yang lebih baik ketimbang Knight and Day, seperti tampilan CGI yang lebih baik, pertarungan antara penjahat utama dan tokoh utama dengan lebih greget dan lebih baik, serta memang dari awal sudah menjanjikan bahwa film G.I Joe akan kosong melompong dari segi cerita, berbeda dengan film Knight and Day yang sempat menjanjikan akan menjadi film dengan sebuah cerita berbobot dan bermutu. Pada akhirnya, akibat point – point tersebut, G.I Joe berhasil menang tipis disbanding Knight and Day. Tapi tenang saja, wahai anda para calon penonton Knight and Day. Anda tak perlu memusingkan cerita serta segala hal teknis yang ada pada film ini. Cukup anda membayar tiket, duduk, dan nikmati saja sajian action dan humor film berbujet US$ 95 juta ini. Toh, film ini mengalir lancar, ringan, serta tentunya, menghibur sekali. Cocok bagi anda yang memang mencari film ringan menghibur tanpa embel – embel cerita berat dan memusingkan, apalagi kalau anda sedang stress berat, atau sedang ingin mengajak keluarga anda menonton film ringan menghibur minggu ini. So, Knight and Day adalah film pilihan anda untuk anda WAJIB tonton minggu ini, terlepas dari segala kekurangannya. Just enjoy the show, audiences. He3. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Point

Cerita = 5 / 10

Pemeran = 6 / 10

Kriteria khusus :

Action = 7 / 10

Special Efek = 5 / 10

Unsur Hiburan= 6 /10

Total = 6 / 10

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:


Trailer 2:

Senin, 21 Juni 2010

Review Toy Story 3


Review

Toy Story 3 ( Walt Disney Pictures / Pixar Studios_2010 )

Pengisi Suara : Tom Hanks as Woody

Sutradara : Lee Unkrich

Rilis =

  • 18 Juni 2010 ( Amerika Serikat )
  • 17 Juni 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

15 tahun sudah film animasi buah karya Walt Disney Pictures dengan Pixar Studios berjudul Toy Story beredar di bioskop – bioskop di Indonesia. Film kartun animasi ini merupakan sebuah film kartun yang mempelopori penggunaan teknik animasi CGI dalam pembuatan sebuah film kartun. Hasilnya? Akibat keberanian dan kebrilianan ide dari Disney dan Pixar ( akhirnya sering disingkat Disney / Pixar oleh banyak kalangan ) dalam menggarap sebuah film kartun dengan teknik animasi yang baru serta menggugah kepenasaran semua orang terhadap gaya animasi yang baru, film Toy Story berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 361 Juta untuk peredarannya secara internasional dan juga nasional. Tak Cuma itu, Toy Story pun juga didaulat sebagai film kartun pertama yang berani untuk menampilkan sebuah gaya baru dalam pembuatan sebuah film kartun. Imbasnya, sekarang banyak bermunculan film – film kartun dengan menggunakan teknik CGI dan mulai meninggalkan teknik gambar 2 dimensi ( dikenal dengan istilah hand-drawn animation ) untuk pembuatan sebuah film kartun. Selain pembuatannya yang memakan waktu serta biaya yang lama, teknik animasi 2 dimensi dianggap sudah ketinggalan jaman di tengah – tengah perkembangan teknologi saat ini. Walaupun begitu, teknik pembuatan film animasi dengan gambar 2 dimensi tetap dipergunakan sampai sekarang ( khususnya untuk film – film animasi Jepang atau kerap disebut sebagai Anime ), walaupun jumlahnya yang masuk ke pasaran bioskop tergolong sudah tidak sebanyak dulu. Disney sempat mengembalikan nostalgia penonton terhadap film animasi bioskop 2 dimensi lewat film Princess and the Frog pada November tahun lalu dan tetap mendapat kesuksesan yang cukup bagus, baik dari segi kritik maupun segi pendapatan Box Office.

Proyek Toy Story pun tidak berhenti sampai disitu saja. Pada tahun 1998, film Toy Story 2 pun beredar dengan teknik animasi yang sama. Film inipun lebih berhasil, baik secara kualitas maupun secara Box Office, daripada film Toy Story pertama. Setelah Disney / Pixar mengeluarkan banyak film – film animasi baru serta bermutu dan juga sukses seperti Monster Inc., The Incredibles, Finding Nemo, Cars, Ratatouille, Wall – E, dan Up selama 10 tahun terakhir ini, Disney kembali tergelitik untuk mengangkat kembali nostalgia penonton terhadap seri Toy Story dengan menggarap sekuel kedua alias seri ketiga film Toy Story, yaitu Toy Story 3. Sebenarnya sempat beredar rumor perpisahan antara Disney dengan Pixar hingga membuat Disney terpaksa berencana untuk memproduksi Toy Story 3 dibawah bendera studio animasi Circle 7 Animation dan cerita tentang Toy Story 3 pun sempat dibuat oleh Jim Herzfeld. Namun rencana tersebut akhirnya kandas akibat terjadinya kesepakatan antara Disney dan Pixar ( dimana Disney akhirnya membeli Pixar Studios ) serta bangkrutnya Circle 7 Animation. Akibatnya, versi cerita Toy Story 3 buatan Herzfeld pun batal. Berita tentang pembuatan Toy Story 3 pun kembali didengungkan oleh Disney pada pertengahan tahun 2006, dan pada tahun 2007, semua staff mulai serius mengerjakan proyek ini. Tanggal edar film ini akhirnya ditetapkan pada summer 2010. Merasa bahwa proyek film ini merupakan sebuah proyek film bergengsi, maka hampir semua cast and crew dari seri Toy Story kembali untuk serius membuat film ini. Produksi sengaja dimulai dari jauh – jauh hari untuk mendapatkan dan mematangkan konsep cerita yang bagus bagi Toy Story 3 serta adanya kasus lucu sekaligus menyebalkan yang dialami oleh para tim animator Disney / Pixar, yaitu mereka tidak bisa membuka file original yang berisi tentang data – data gambar rancangan semua tokoh Toy Story. Akibatnya, tim animator harus mengulang kembali semua disain tokoh – tokoh Toy Story dari awal, yaitu melalui proses sketsa kasar, hingga didapat kembali rancangan asli para tokoh Toy Story sesusia dengan gambaran yang ada pada film Toy Story 1 dan 2.

Dari sisi casting, para pengisi suara tokoh – tokoh penting dari dwilogy Toy Story pun kembali untuk mengisi suara para boneka – boneka lucu dalam film ini. Tom Hanks yang mengisi suara mainan koboi Woody; Tim Allen yang mengisi suara mainan pahlawan luar angkasa Buzz Lightyear; serta Joan Cussack yang mengisi suara mainan koboi wanita Jessie pun kembali mengisi suara di film Toy Story 3 ini. Tak Cuma mereka, semua pengisi suara tokoh – tokoh pendukung seperti Mr and Mrs. Potato Head, Rex, Squeeze Toy Aliens, Sarge, dan masih banyak tokoh mainan lainnya dari dwilogy Toy Story pun kembali untuk mendukung kesuksesan film ini. Hanya pengisi suara tokoh Slinky Dog yang diganti. Dulu, Slinky diisi suaranya oleh Jim Varney. Tapi, karena Varney sudah meninggal pada tahun 2000 silam akibat kanker paru – paru, akhirnya peran Slinky Dog diberikan kepada teman baik Varney, yaitu Blake Clark. Disney menggunakan cara unik untuk merayu Tom Hanks dan Tim Allen serta John Ratzenberger agar mau kembali terlibat dalam proyek Toy Story 3 ini. Ketiga actor tersebut tidak dikirimi naskah lengkap filmnya, tapi, mereka diajak ke studio milik Disney / Pixar untuk melihat cerita utuh Toy Story 3 lewat gambar – gambar storyboard ( masih berupa konsep gambar ) yang ditampilkan disertai dengan sound effect, musik, serta beberapa contoh suara yang sudah diisi untuk masing – masing tokoh yang terlihat pada storyboard tersebut. Hanks, Allen, dan Ratzenberg pun langsung terpikat dengan cerita utuh Toy Story 3 tersebut dan mereka langsung menandatangani kontrak untuk menjadi pengisi suara di film Toy Story 3 ini. Dari balik layar, tokoh – tokoh penting serial Toy Story seperti John Lasseter, Andrew Stanton, Pete Docter, dan Lee Unkrich, juga turut kembali untuk menangani proyek bergengsi yang satu ini. Lee Unkrich pun ditunjuk sebagai sutradara film Toy Story 3 dan Michael Arndt ditunjuk sebagai penulis naskah, dengan tetap dibantu oleh Lasseter, Stanton, serta Docter dan Unkrich.

Film Toy Story 3 ini berkisah tentang Andy ( John morris ), sang pemilik mainan – mainan dari film Toy Story 1 dan 2, sudah menjadi remaja dan akan segera pindah menuju bangku kuliah. Mainan – mainan Andy seperti Woody, Buzz, Jessie, Mr and Mrs Potato Head, Slinky Dog, serta masih banyak mainan lainnya yang sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh Andy, merasa rindu untuk dimainkan kembali oleh Andy. Ibu Andy, Mrs Davis, menginginkan agar Andy menyumbangkan saja semua mainan tersebut ke sebuah tempat penitipan anak bernama Sunnyside. Kalau tidak, semua mainan Andy akan dibuang atau ditaruh di loteng. Semua mainan, kecuali Woody, merasa bahwa mereka memang sudah tidak akan pernah dimainkan lagi oleh Andy. Andy pun memutuskan untuk menaruh di loteng semua mainan – mainan tersebut, kecuali Woody yang akan dibawa oleh Andy ke kampusnya. Ketika membantu sang adik berberes, mainan – mainan Andy yang akan ditaruh di loteng secara tidak sengaja ditinggalkan begitu saja. Mrs Davis pun mengira bahwa Andy sudah tidak memerlukan lagi mainan – mainan tersebut, sehingga membuang mainan – mainan tersebut. Woody yang mengetahui kesalahpahaman tersebut, membantu membebaskan para sahabatnya agar tidak diangkut ke tong sampah. Setelah bebas, mereka secara tidak sengaja terangkut ke kotak mainan yang akan disumbangkan ke Sunnyside. Terjadilah perdebatan seru antara Woody dan mainan lain yang menganggap bahwa Woody lebih special di hati Andy ketimbang mereka, sedangkan Woody berusaha mati – matian untuk menjelaskan kepada mereka bahwa semua itu salah paham dan Andy masih menyayangi mereka. Sayangnya semua sudah tidak percaya kepada Woody dan Woody pun memutuskan untuk kembali kepada Andy tanpa sahabat – sahabatnya. Mainan – mainan baru tersebut pun disambut dengan ramah oleh mainan Lotso Huggin Bear di Sunnyside. Ternyata Lotso merupakan mainan penipu yang membuat para mainan Andy ditempatkan di sektor mainan anak – anak balita. Tak ayal, semua mainan Andy tersebut pun menjadi hancur lebur dibuatnya oleh perilaku anak – anak balita tersebut. Ketika mereka hendak protes ke Lotso, mereka pun ditawan oleh Lotso serta memprogram ulang Buzz agar menjaga mainan – mainan Andy supaya tidak kabur dari Sunnyside. Woody yang berhasil kabur tapi secara tidak sengaja terbawa oleh seorang anak kecil yang merawat dan sayang terhadap mainan bernama Bonnie pun akhirnya mengetahui tentang keburukan yang terjadi di Sunnyside. Woody lalu bergerak untuk menyelamatkan para sahabat – sahabatnya dan mengajak mereka agar bisa kembali ke rumah Andy, sebelum Andy berangkat ke kampusnya. Berhasilkah mereka kabur dari Sunnyside dan kembali ke tangan Andy? Ya, supaya tau endingnya, tonton aja deh film animasi bagus yang satu ini. He3. XD.

Selama kiprahnya di dunia film animasi, Disney / Pixar selalu berhasil dalam 3 hal, yaitu menampilkan sebuah film kartun dengan musik yang indah, mutu gambar yang baik, serta cerita yang bagitu indah serta penuh makna dan bisa menjadi bahan perenungan bagi kita. Bahkan, untuk film dengan 80% berupa suara mesin dalam film Wall – E pun, mereka berhasil menyulap film tersebut menjadi film bagus penuh makna serta berhasil menyentuha hati para penonton serta kritikus. Begitu juga lewat film hit mereka tahun lalu, Up, yang sangat indah dalam hal warna dan teknik animasi, serta pesan cerita. Disney / Pixar memang selalu tidak main – main dengan setiap film animasi yang mereka produksi. Seperti yang pernah diutarakan oleh Pete Docter dalam salah satu suratnya kepada seorang fans film – film produksi Disney / Pixar, “Setiap cerita yang telah dibuat yang ada pada film animasi buatan Disney / Pixar pasti akan direvisi, direvisi, dan direvisi lagi agar mendapatkan sebuah naskah cerita film terbaik dan memiliki makna yang mendalam bagi setiap orang yang menontonnya.” ( Surat tersebut bisa dilihat di http://www.cinemablend.com/new/Seriously-Awesome-Letter-From-Pete-Docter-To-Pixar-Fan-19026.html ). Dan memang benar, Disney selalu berhasil dalam hal cerita yang mendalam dan berkesan. Lalu, bagaimana dengan film Toy Story 3 yang dikhawatirkan akan hambar dan basi dalam hal cerita? Jawabannya adalah BRILIANT! Ya, sekali lagi, Disney / Pixar berhasil menyulap sebuah film yang dikhawatirkan akan basi dan kurang bagus dibanding pendahulunya, menjadi sebuah film penuh makna dan juga bagus luar biasa dari berbagai sektor. Ketajaman animasi dan warnanya pun tetap solid, naskahnya tetap bagus, serta cerita dan isi pesan film ini begitu mengena di hati para penonton. Ilustrasi musiknya pun tetap menawan. Mari kita kupas satu persatu.

Dari sektor cerita, cerita tentang mainan Andy yang akan disumbangkan awalnya memang terkesan mengada – ada dan dipaksakan oleh pihak Disney. Tapi ternyata, Disney berhasil memberikan kejutan kepada para penonton lewat pengembangan cerita yang brilliant dan juga menarik. Dimulai dari cerita keseharian Andy bersama para mainan sejak kecil hingga beranjak remaja yang dituangkan dalam bentuk video documenter, ketika Andy beranjak remaja dan bingung untuk menentukan nasib para mainannya, kesalahpahaman Mrs Davis terhadap mainan – mainan milik Andy tersebut, petualangan para mainan di Sunnyside, misi melarikan diri dari Sunnyside agar bisa kembali ke rumah Andy, hingga ending conclusion nya yang mengisyaratkan bahwa kita, para penonton dan fans seri Toy Story, harus rela untuk berpisah dengan para mainan yang telah memberikan petualangan seru, menghibur, dan penuh makna selama 15 tahun ini. Eksekusi cerita berjalan lancar selama film berlangsung, hanya agak disayangkan agak sedikit bosan di bagian tengah. Tapi tenang, hal itu hanya berlangsung sebentar saja. Tempo ketegangan dan keseruan film ini kembali dinaikkan setelah sedikit kebosanan tersebut, hingga film ini berakhir. Penambahan beberapa sub plot seperti Buzz yang deprogram ulang hingga terjadi kesalahan teknis yang mengakibatkan Buzz berubah menjadi versi Spanyol untuk beberapa saat serta Jessie yang diam – diam jatuh hati terhadap Buzz pun cukup bagus, menghibur, dan juga menarik untuk diikuti. Khusus di sektor ending, film ini benar – benar memberikan ending yang manis, tapi juga terasa berat dan sedih.

Dalam hal pesan cerita yang ingin disampaikan oleh Disney / Pixar kepada para penontonnya, tim animasi jempolan tersebut tetap memberikan banyak pembelajaran dan makna bagi kita lewat film Toy Story 3 ini. Pelajaran tentang arti persahabatan dan kekeluargaan, saling memaafkan kepada sesama, rasa saling percaya satu sama lain, rasa saling berbagi, hingga pembelajaran kepada kita untuk menyayangi dan menghargai semua barang yang kita miliki ( dalam kasus Toy Story, menyayangi mainan milik kita ) pun berhasil disampaikan dengan baik oleh Disney / Pixar dan semua pesan cerita tersebut bisa ditangkap dengan mudah oleh anak – anak dan orang dewasa di sepanjang film ini. Disinilah letak nilai lebih Disney / Pixar dalam hal penyampaian pesan cerita, yaitu mudah ditangkap oleh banyak kalangan. Tak Cuma itu, Disney pun juga selalu berhasil untuk menciptakan sebuah film kartun dengan pesan cerita yang bisa dijadikan bahan perenungan bagi semua usia selepas mereka selesai menonton filmnya.

Dalam hal ilustrasi musik, Disney memang merupakan ahlinya dalam hal aransemen music background yang bagus, megah, serta cocok dengan setiap adegan yang ada pada setiap filmnya. Tak jarang, untuk beberapa adegan, ilustrasi musiknya bisa ikut menggugah hati kita, sehingga kitapun bisa menangis, tertawa, tegang, dan masih banyak reaksi alamiah kita yang terpancing oleh music background karya Disney. Dalam kasus Toy Story 3, hal itu tetap dipertahankan oleh tim musik Disney pimpinan Randy Newman dan berhasil memancing emosi penonton sesuai dengan adegan – adegan yang ada. Newman yang merupakan salah satu composer langganan film – film animasi Disney / Pixar seperti Toy Story 1 dan 2, Cars, Monsters Inc., A Bug’s Life, hingga Princess and the Frog ini kembali menunjukkan tajinya sebagai salah satu composer ternama favorit Disney / Pixar yang selalu berhasil menjalankan tugas mengkomposisi music background bagi setiap film kartun Disney yang diserahkan kepadanya.

Untuk teknik animasinya, Disney / Pixar yang merupakan pelopor bagi teknik animasi CGI yang maju seperti sekarang ini tetap memberikan yang terbaik bagi para penonton. Tim animasi Disney berhasil memberikan yang terbaik untuk sektor animasi CGI nya. Sayangnya, penggunaan teknik Disney 3D di film ini masih belum maksimal dan juga masih kalah hidup ketimbang How to Train Your Dragon. Hal ini menjadi sebuah kekurangan tersendiri dari film Toy Story 3 ini.

Overall, film Toy Story 3 tetap merupakan sebuah film animasi Disney / Pixar yang menawan serta berhasil dari berbagai sisi. Bonus film kartun pendek di awal sebelum filmnya mulai yang memang sudah menjadi tradisi Disney / Pixar, berjudul Day and Night pun juga memiliki cerita yang bagus dan unik, dimana Disney / Pixar menggabungkan konsep gambar animasi 2D dengan CGI dalam 1 screen. Hanya saja, saya harus katakan, film Toy Story 3 agak sedikit bosan ditengah dan kualitasnya sedikit menurun dibanding film Up tahun lalu yang sangat menyentuh hati dari awal hingga akhir film. Unsur kebosanan terhadap seri Toy Story pun mulai muncul di seri ketiganya ini. Selain itu, teknik animasi Disney 3D nya masih belum dirasakan secara maksimal oleh para penonton. Walaupun begitu, saya tetap menyarankan agar cerita Toy Story sebaiknya diakhiri dengan manis saja di seri yang ketiganya ini. Endingnya pun sudah mengindikasikan bahwa sudah berakhirlah cerita tentang para mainan milik Andy tersebut, dengan conclusion yang indah dan bahagia bagi semua pihak. Memang berat bagi kita, para fans film seri Toy Story, untuk mengucapkan kata perpisahan dengan seri ini, tapi sebaiknya, memang harus berakhir indah dengan manis seperti ini, agar film ini tetap dikenang sepanjang masa sebagai film animasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Diluar itu, saya berani bartaruh, bahwa tahun depan, pasti para juri Academy Award alias Oscar, akan pusing 7 keliling untuk menentukan film mana yang pantas untuk menjadi pemenang dalam kategori Best Animated Pictures akibat munculnya saingan terhadap film Disney yang tak kalah bagusnya, berjudul How to Train Your Dragon buatan DreamWorks Animation. Ya, seperti yang kita ketahui, Dragon pun juga sukses luar biasa dalam hal kritik dan pendapatan Box office. Kualitas filmnya pun juga brilliant dan berhasil di berbagai sisi. Tapi, dengan berat hati, saya memilih menjagokan Dragon ketimbang Toy Story 3 sebagai pemenang Oscar tahun depan. Saya melihat, akibat teknik animasi CGI nya yang begitu memukau serta unsur fresh nya serta chemistry dan juga kualitas filmnya yang lebih bagus sedikit ketimbang Toy Story 3 lah yang membuat saya lebih menjagokan Dragon agar menang di Oscar tahun depan. Walaupun begitu, tetap, kita akan dibuat penasaran dengan hasil Oscar tahun depan. So, we’ll wait and see. He3. XD. So, bagi anda yang memang fans sejati seri Toy Story atau Disney / Pixar, atau sedang mencari film penuh makna yang cocok bagi keluarga anda, atau sedang ber-weekend ria dengan kekasih atau sahabat atau teman anda ( gebetan juga boleh loh. He3. XD ), anda WAJIB untuk menonton film ini. Akhir kata, selamat menonton.

Point :

Cerita = 8 / 10

Pengisi Suara = 8 / 10

Kriteria khusus :

Humor = 8 / 10

Animasi = 7 / 10

Pesan Cerita = 9 / 10

Total = 8 / 10

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:

Trailer 2:

Jumat, 04 Juni 2010

Preview Sex and the City 2


Preview

Sex and the City 2 ( Warner Bros_2010 )

Pemain :

· Sarah jessica Parker as Carrie

· Kim Cattrall as Samantha,

· Cynthia Nixon as Miranda

· Kristin Davis as Charlotte

·

Sutradara : Michael Patrick King

Rilis :

· 27 Mei 2010 ( Amerika )

· 2 Juni 2010 (di Bioskop - Bioskop Indonesia )





L

ika – liku kisah kehidupan keempat wanita lajang dewasa yang sukses di New York dengan tambahan pameran barang – barang wanita mewah bermerk adalah inti cerita dari seri TV Sex and the City. Tayangan HBO yang sukses besar sampai berlanjut selama 6 musim ( season ) dengan jumlah episode sekitar 94 episode ini benar – benar berhasil menarik perhatian, khususnya kaum hawa untuk menikmati seri TV nya. Seri TV yang satu ini juga turut melambungkan ke 4 bintang utamanya, yaitu Sarah jessica Parker, Cynthia Nixon, Kim Cattrall, dan juga Kristin Davis.

Kesuksesan seri TV nya pun menggelitik HBO untuk membuat versi layar lebarnya. Akhirnya keluarlah versi layar lebarnya yang bertajuk Sex and the City : The Motion Picture pada tahun 2008 silam dan hasilnya, film ini secara mengejutkan sukses secara Box office dan juga berhasil melibas semua film – film saingannya. Tercatat, film berating R alias KHUSUS UNTUK DEWASA ini langsung menggebuk Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull dari tangga raja Box Office Amerika serta dengan sukses menenggelamkan film The Strangers pada minggu yang sama. Dengan strategi rilis yang tepat, seperti tanggal edar yang sepi dari pesaing dan juga fan base film ini yang sangat membludak serta strategi marketing seperti premiere party bareng fans dan juga para pemain Sex and the City, membuat film ini sukses besar secara komersial. Dengan total pendapatan mencapai US$ 152,6 juta untuk peredarannya di Amerika dan juga US$ 262,6 juta untuk peredarannya secara internasional sehingga total pendapatan keseluruhan mencapai US$ 415.2 juta, membuat para produser film ini langsung melampu-hijaukan sekuel film Sex and the City ini, dan sekarang, hadirlah, film Sex and the City 2. Dengan marketing campaign yang sama, apakah film ini tergolong sukses seperti pendahulunya?

Sebelum menilik film ini lebih jauh, mari kita lihat dulu sinopsis filmnya. Filmnya masih mengisahkan 4 sahabat wanita dewasa yang sukses di New York dengan masing – masing kesulitan yang mereka alami. Ke empat tokoh sentral film ini adalah Carrie Bradshaw (Sarah Jessica Parker) yang merupakan seorang penulis pada majalah VOGUE serta mantan jurnalis pada sebuah Koran bernama The New York Star; Samantha Jones (Kim Cattrall) yang merupakan seorang public relations handal; Charlotte York Goldenblatt (Kristin Davis) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga serta mantan art dealer, dan Miranda Hobbes (Cynthia Nixon) yang berprofesi sebagai seorang pengacara sukses di New York. Permasalahan yang mereka alami rata – rata adalah permalashan yang sering terjadi pada dunia wanita : Mulai dengan isu seputar belanja barang mewah, kehidupan sex mereka, sampai persahabatan mereka. Dalam film yang kedua ini, muncul permasalahan – permasalahan baru, seperti Carrie yang kembali tergoda oleh Aidan, mantan kekasih dan juga tunangannya akibat kehidupan pernikahannya dengan Mr. Big yang dirasa agak hambar, kompleksitas kehidupan pernikahan Charlotte dan Miranda yang rumit tapi juga menarik dan unik, affair baru Samantha dengan seorang sheik dari Arab yang akhirnya membawa ke empat sekawan tersebut berlibur ke Abu Dhabi, perbedaan kultur keempat sekawan tersebut di Abu Dhabi, dan lain sebagainya. Tak lupa, di film kedua ini, akan dibeberkan flashback kisah persahabatan ke 4 sekawan wanita karier sukses di New York ini.

Jangan remehkan kekuatan film ini. Film Sex and the City yang pertama berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 415,2 juta untuk peredarannya secara internasional dan juga secara lokal; dan hebohnya lagi, tiket pertunjukkan film Sex and the City 2 pun sudah bisa dibeli secara pre sales di beberapa situs internet pembelian tiket terkemuka sejak 6 minggu sebelum filmnya dirilis dan mendapat antusiasme yang sangat bagus dari para fansnya. Tak Cuma itu, tiket premiere + pre party film ini yang seharga US$ 70 nya pun juga laris manis terjual ( berita lengkap bisa dilihat di link ini : http://movies.yahoo.com/feature/movie-talk-would-you-pay-70dollars-to-see-sex-and-the-city-2.html ). Strategi yang hampir mirip seperti film Sex and the City 1 ini pun kembali digunakan oleh pihak studio untuk menarik penonton agar mau menyaksikan film ini.

Film ini didukung oleh semua pemain serta crew dibalik layar yang sama dengan seri pertama film Sex and the city serta crew yang terlibat dalam seri TV nya. Ditambah, kehadiran bintang – bintang serta penyanyi beken seperti Mariah Carey, Liza Minnelli, serta mantan bintang cilik jebolan Disney Channel, yaitu Miley Cyrus, membuat film ini menjadi semakin meriah saja. Dengan amunisi tersebut, diharapkan para fans akan tetap setia untuk menyaksikan film kedua Sex and the City ini, serta bagi para penonton yang masih baru dengan seri Sex and the City, diharapkan agar menjadi fan setia Sex and the City untuk ke depannya.

Amunisi yang tak kalah pentingnya pada film Sex and the City 2 ini adalah pameran barang – barang terbaru, mewah, cool, dan juga branded terkenal yang diperlihatkan secara intens dan juga dipakai oleh para pemainnya di film ini. Semua barang – barang branded terkenal terbaru, seperti HP, Apple MAC, BlackBerry, Mercedes-Benz: E-Class Cabriolet, majalah Vogue, Sky Vodka, L’Oreal, Starbucks, Dior, Manolo Blahnik, Louboutin, Burberry, Tiffany and Co., Louis Vuitton, Chanel, Dior, Hermès, Versace, Gucci, Vera Wang, Oscar de la Renta, Nike, Adidas, dan masih banyak barang branded terkenal lainnya dipajang di film ini. Hal inilah yang sangat ampuh menarik para kaum hawa khususnya supaya mereka mau untuk menonton seri dan juga film Sex and the City. Hasilnya?? strategi tersebut tergolong berhasil menjaring para kaum hawa yang suka dengan barang – barang branded terkenal. Sekalipun bagi mereka yang tidak mengenal seri Sex and the City sebelumnya, mereka tetap tergoda untuk mau menyaksikan seri dan juga filmnya akibat barang – barang branded terbaru pasti dipajang di film ini. Lebih kerennya lagi, film ini juga mendapat banyak sponsor resmi dari para barang – barang branded mahal tersebut agar barang mereka bisa dipromosikan secara gratis lewat film dan juga seri TV paling heboh saat ini.

Kekurangan film ini sebenearnya cukup banyak. Tapi, kekurangan utama dalam film ini adalah, sebenarnya cerita Sex and the City sudah tidak bisa digali lebih dalam lagi. Semua konflik yang ada dalam film kedua ini sebenarnya hanya dipanjang – panjangkan saja oleh pihak HBO, sehingga terlihat seperti masih ada cerita untuk film kedua supaya bisa dirilis ke publik. Selain itu, kelihatan sekali kalo HBO benar – benar berusaha untuk mengeruk laba semata di film kedua ini. Dengan tidak adanya konflik baru serta bobot cerita yang menarik di film Sex and the City 2 ini dan lebih menjual pameran barang – barang terkenal ketimbang kualitas dan bobot cerita, semoga saja para fansnya tidak bosen untuk menyaksikan film kedua Sex and the City ini.

Overall, film Sex and the City 2, mau tak mau tetaplah menjadi film yang WAJIB ditonton, KHUSUSNYA bagi anda wanita metrosexual, fans seri dan film Sex and the City pertama, serta bagi anda yang orangnya sangat branded minded. Film ini pastinya tetap akan menampilkan kemewahan serta keindahan barang – barang serta tempat – tempat eksotis yang pastinya akan memanjakan dan memuaskan mata dan dahaga anda terhadap pameran barang – barang mewah dan lokasi – lokasi eksotis tersebut. Branded – branded terkenal yang tak segan untuk menampilkan produk – produk baru mereka untuk dipajang disini, pastinya membuat film ini menjadi lebih meriah. So girls, if you wanted to watch a fashionable movies, full with a lot of branded things, these movie is your ABSOLUTE choice for this week. For boys, er.., yeah, just accompany your girlfriend or girlfriends and try to work hard to get a lot of money to buy your girlfriend or girlfriends the branded things that was seen in this movie. Wakakakak. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:

Trailer 2:

Rabu, 26 Mei 2010

Preview The Losers


Preview

The Losers ( Warner Bros Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Sylvain White

Tanggal Rilis :

  • 23 April 2010 ( Amerika )
  • 27 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia )

T

he Losers adalah film yang merupakan adaptasi dari komik berjudul sama yang dikeluarkan oleh Vertigo, anak perusahaan DC Comics yang terkenal berkat komik – komik hitnya seperti Batman, Superman, dan lain – lain. Sebelumnya, pada tahun 1970, DC Comics pernah menerbitkan komik yang berjudul sama dan berkisah tentang sekelompok tentara elite Amerika yang ditugaskan ke berbagai misi selama masa Perang Dunia II dan juga Perang Vietnam. Kreator komik The Losers Versi baru, Andy Diggle, mengaku belum pernah sekalipun membaca komik The Losers versi lawas, tapi dia memang mengakui bahwa dia terinspirasi dengan komik tersebut setelah membaca garis besar ceritanya via website. Komik yang ilustrasinya digambar oleh Jock ini cukup laku di pasaran dan cukup mendapat tempat di hati para pecinta komik.

Kesuksesan komiknya diikuti dengan berita bahwa komik tersebut akan diangkat ke layar lebar oleh Warner Bros Pictures pada tahun 2007 silam. Naskah film ini ditangani oleh Peter Berg dan juga James Vanderbilt serta akan memakai Tim Story sebagai sutradara filmnya. Namun pada bulan Oktober tahun 2008, majalah Variety memberitakan bahwa Sylvain White mengambil alih kursi sutradara dari tangan Tim Story. Selain itu, Warner Bros pun dibantu oleh Dark Castle Entertainment dalam urusan pendanaan film ini. Sang sutradara, Sylvain white, menjelaskan bahwa cerita dari film The Losers ini merupakan gabungan dari volume 1 dan 2 komik The Losers, yaitu “Ante Up” dan “Double Down”. Para penulis naskah dan sang sutradara memutuskan untuk mengambil inti – inti cerita komik volume 1 dan 2 untuk dijadikan cerita film The Losers ini. Penjelasan – penjelasan lain yang tertinggal pada komik 1 dan 2 serta volume lainnya akan diceritakan nanti lewat sekuelnya, jika film The Losers yang pertama ini sukses secara pendapatan di Box Office.

Untuk pemilihan aktor dan aktris utamanya, muncullah nama Jeffrey Dean Morgan, yang tempo hari sukses berperan sebagai The Comedian di film superhero terpuji tahun 2009 berjudul Watchmen, untuk mengisi peran utama di film The Losers ini. Morgan ditunjuk untuk berperan sebagai Lt. Col. Franklin Clay, pemimpin tim The Losers. Selain itu, muncullah nama – nama lain seperti Columbus Short yang akan berperan sebagai Sgt. Linwood 'Pooch' Porteous, Idris Elba sebagai Cpt. William Roque, Chris Evans sebagai Cpl. Jake Jensen, Óscar Jaenada sebagai Sgt. Carlos 'Cougar' Alvarez, dan Zoe Saldana sebagai Aisha. Untuk tokoh antagonis, White agak kesulitan untuk menentukannya. Barulah pada Agusutus 2009, Jason Patric resmi dikontrak dan diumumkan sebagai Max, tokoh antagonis utama film The Losers ini.

Syuting pun berjalan lancar dimulai pada bulan Juli 2009 dengan kebanyakan mengambil lokasi syuting di Miami, Florida dan Puerto Rico. Untuk jadwal edar, film ini awalnya mematok tanggal 9 April 2010. Namun, akhirnya jadwal rilis film ini dimundurkan menjadi 4 Juni 2010, mengisi jadwal rilis parade Summer Movies 2010 dengan harapan akan mendulang laba yang selangit. Tapi, karena sudah banyak film yang mengisi slot rilis pada tanggal 4 Juni 2010 tersebut ( ada Marmaduke, Splice, Killers, dan Get Him to the Greek ), maka film ini akhirnya menetapkan tanggal 23 April 2010 sebagai tanggal rilis resmi film ini, dengan harapan mencuri start parade Summer Movies 2010. Selain itu, pada tanggal tersebut, saingan film The Losers tergolong sedikit, sehingga The Losers mempunyai peluang untuk mengeruk laba yang besar pada tanggal tersebut.

Film yang diangkat dari komik yang beredar mulai dari Agustus 2003 sampai dengan Maret 2006 ini berkisah tentang sebuah tim United States Spesial Forces bernama The Losers yang dikumpulkan oleh CIA untuk menjalankan misi – misi berbahaya di seluruh negara demi kepentingan Amerika. Tim ini beranggotakan Clay ( Morgan ) sebagai pemimpin tim dan pandai dalam urusan taktik pertempuran dalam kondisi apapun; Rogue ( Elba ) sebagai wakil pemimpin yang besar, kuat, tapi sayangnya mata duitan; Jensen ( Evans ) yang merupakan seorang hacker handal tapi bawel dan juga konyol; Cougar ( Jaenada ) sang sniper bertopi koboi; serta Pooch ( Short ) yang merupakan pilot handal dan jago dalam mengendarai segala jenis kendaraan, baik itu kendaraan darat, laut, dan udara. Suatu ketika, The Losers mendapat misi search and destroy di sebuah hutan di Bolivia. Siapa menyangka, bahwa ternyata, dalam misi tersebut, The Losers justru dikhianati oleh CIA. Mereka direncanakan akan dibunuh ketika proses evakuasi misi di hutan Bolivia tersebut dijalankan. Misi pengkhianatan tersebut berhasil dan The Losers pun dinyatakan tewas dalam pertempuran ( KIA alias Killed in Action ). Tapi ternyata, keberuntungan masih menyertai The Losers. Mereka ternyata masih hidup dan sekarang sedang bersembunyi untuk mencari tahu siapa dalang misi pengkhianatan tersebut dan juga sedang merencanakan misi balas dendam terhadap siapapun yang terlibat dalam misi pengkhianatan tersebut. Secara tidak sengaja, The Losers mendapat bantuan dari seorang wanita misterius bernama Aisha ( Saldana ) yang juga ahli bertarung dan jago dalam strategi pertempuran. Setelah mengetahui bahwa dalang misi pengkhianatan tersebut ternyata seorang petinggi CIA bernama Max ( Patric ), maka dimulailah perencanaan dan eksekusi misi balas dendam The Losers dan juga Aisha terhadap siapa saja yang berani mengkhianati mereka. Lalu, bagaimana dengan ending misi The Losers dan Aisha? Apakah mereka berhasil menjalankan misi balas dendam tersebut? Lalu, siapakah sebenarnya Aisha? Apakah motif utama cewek tangguh ini untuk ikut terlibat dalam misi The Losers kali ini? Well, kalau mau tahu jawabannya, silakan saksikan filmnya di bioskop – bioskop kesayangan anda yang rencananya akan beredar pada tanggal 27 Mei 2010 nanti.

Sekali lagi, harus diakui, hampir mirip seperti film Prince of Persia : The Sands of Time yang akan beredar hampir bersamaan di Indonesia dengan film The Losers ini, bahwa film The Losers ini sayangnya tidak menjual secara bobot cerita. Ceritanya benar – benar khas komik banget. Tapi, itulah memang beban ( atau mungkin bisa disebut sebagai penyakit?? He3. XD ) yang harus ditanggung oleh banyak film – film yang memang diangkat dari komik. Cerita film The Losers bisa dipastikan tidak akan bisa berkembang banyak, apalagi menyuguhkan twist – twist seru seperti film – film action thriller lainnya. Yang menjadi jualan utama film The Losers ini pastilah adalah adegan – adegan action yang diharapkan bisa membuat para penggemar film action dan juga fans setia komiknya akan terpuaskan dahaganya. Fakta lainnya yang juga merupakan kemiripan antara The Losers dan Prince of Persia : The Sands of Time adalah kedua film ini sama – sama diproduseri oleh produser film – film Hollywood spesialis film – film action adventure seru. Kalau Prince of Persia diproduseri oleh Jerry Bruckheimer, maka The Losers diproduseri oleh Joel Silver. Produser tenar yang satu ini sudah kita kenal film – film hasil produksinya, seperti tetralogy Lethal Weapon, The Matrix Trilogy, dan masih banyak film – film seru lainnya. Pastinya, dengan dukungan Joel Silver, maka film ini akan dipastikan seru dan juga mantap sebagai film hiburan.

Dukungan Joel Silver sebagai produser film inipun diperkuat oleh bintang – bintang kuat macam Jeffrey Dean Morgan, Idris Elba, Zoey Saldana yang tahun lalu sukses lewat film MEGAHIT Avatar, dan Chris Evans, sang pemeran Captain America dalam film adaptasi yang paling ditunggu oleh banyak fans setia komiknya sejak dulu, yaitu Captain America : The First Avenger. Ke 4 nama aktor dan aktris ini begitu kuat menyedot perhatian para calon penonton agar mau menyaksikan film The Losers ini di bioskop – bioskop kesayangan mereka. Terlihat pula dari trailer yang dirilis ke public sebagai trailer pembuka film Edge of Darkness, bahwa film The Losers ini akan menyisipkan adegan – adegan humor konyol lewat tokoh Jensen yang memang menjadi peran membanyol dalam film dan juga komik The Losers. Tak cuma itu, trailernya pun juga mengindikasikan akan menjual adegan – adegan action seru dan mantap. Review tentang film ini di Amerika pun cukup positif, terutama untuk adegan – adegan action dan juga humornya.

Kekurangan film ini justru muncul dari sang sutradara, Sylvain White, yang resume film – filmnya selama ini justru kurang meyakinkan. Hanya film Stomp the Yard saja yang mungkin pernah diingat oleh para penggemar film – film Amerika. Sisanya, kebanyakan film – film produksi White justru langsung masuk dalam format video ketimbang beredar secara luas di bioskop – bioskop. Kalau tidak masuk langsung ke format video ( direct to video ), film – film karyanya biasanya masuk dalam skala film – film kecil atau independent. Memang, kualitas dan kehandalan sang sutradara dalam membuat film – film non blockbuster atau film – film dengan dana produksi terbatas tidak perlu diragukan lagi. White pernah menerima beasiswa untuk kuliah di Pomone College dan lulus dengan gemilang dalam subjek Media Studies. Selain itu, beberapa film pendeknya, seperti The 25th Frame dan Urban Short Circuit Mind Scrape menerima berbagai penghargaan film bergengsi, salah satunya adalah The Directors' Guild of America Short Film Awards. Selain itu, White pun juga terkenal di Amerika, Eropa, dan Jepang sebagai sutradara spesialis video clip music dan iklan TV dan sudah pernah menerima berbagai penghargaan bergengsi untuk karya – karya iklan dan juga video clip music – nya, diantaranya MTV Music Video Awards dan 2001 Music Video Production Association Awards pada tahun 2001 silam. Dengan prestasi – prestasi tersebut, sebenarnya White tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Namun, tetap saja, ketika diberi dana cukup besar untuk mengarahkan sebuah film action, apakah White mampu menghidupkan film tersebut sesuai dengan bujet yang diberikan padanya, minimal untuk menghibur para pecinta film – film action seru? Kita lihat saja hasilnya.

Overall, film The Losers ini tetap merupakan film yang WAJIB untuk anda tonton minggu ini, apalagi untuk menyambut libur Long Weekend minggu ini. Cerita yang simple dengan kadar action, humor, dan hiburan yang dijanjikan tidak akan mengecewakan anda, plus dukungan produser Joel Silver yang sudah berpengalaman dalam hal memproduseri film – film action adventure seru, membuat film ini boleh ditonton oleh anda – anda sekalian, apalagi bagi yang sedang ingin melepas stress dan mencari film simple yang ringan menghibur semata tanpa perlu berpikir ruwet dengan jalan ceritanya. Menjadikan film ini sebagai film selingan sebelum anda masuk ke dalam studio untuk menonton film Prince of Persia : The Sands of Time di bioskop kesayangan anda? Boleh juga tuh. He3. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:

Preview Prince of Persia : The Sands of Time


Preview

Prince of Persia : The Sands of Time ( Walt Disney Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Mike Newell

Tanggal Rilis :

  • 28 Mei 2010 ( Amerika )
  • 26 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia )

A

nda familiar dengan nama seorang produser Hollywood bernama Jerry Bruckheimer? Bagi anda yang penggemar film – film action seru dan menghibur, maka anda tidak asing lagi dengan nama produser kondang berusia 64 tahun tersebut. Ya. Jerry Bruckheimer adalah produser film Hollywood spesialis film – film action yang pastinya sangat menghibur penonton. Beberapa film yang sudah diproduserinya pasti sudah pernah anda tonton, seperti dwilogy Bad Boys, Armageddon, The Rock, Pearl Harbor, trilogy Pirates of the Caribbean, Top Gun, serta masih banyak lagi film – film seru lainnya. Tak cuma aktif memproduseri film – film action adventure Hollywood, sutradara yang memiliki julukan sebagai “Mr. Blockbuster” ini juga aktif memproduseri berbagai acara – acara TV yang seru, seperti CSI : Crime Scene Investigation, CSI : Miami, Eleventh Hour, Cold Case, CSI : NY, bahkan acara reality show terseru, The Amazing Race. Setelah tahun lalu Jerry Bruckheimer tergolong cukup sukses dengan memproduseri dua buah film dengan hasil cukup memuaskan lewat film Confession of Shopaholic dan G – Force, maka tahun ini, Produser yang sudah malang melintang di dunia perfilman Hollywood selama 38 tahun ini langsung menggebrak dengan memproduseri 2 buah film action adventure dengan dana besar ( big budget ) yang pastinya akan disukai oleh para penggemarnya dan diramalkan akan menambah tebal pundi – pundi keuangannya. Salah satu film action adventure tersebut adalah Prince of Persia : The Sands of Time yang akan saya bahas ini dan film The Sorcerer’s Apprentice yang akan dirilis bulan Juli nanti.

Film Prince of Persia : The Sands of Time ini diangkat dari game terkenal berjudul sama yang sudah memiliki ribuan, bahkan jutaan fans di seluruh dunia. Creator game ini, John Mechner, ditawari oleh Jerry Bruckheimer dan juga Walt Disney Pictures untuk membuat naskah film berdasarkan game tersebut. Selain itu, hak cipta game tersebut pun juga akan dibeli oleh Bruckheimer dan Disney dengan angka yang cukup fantastis. Mechner pun akhirnya tergoda dengan tawaran Disney dan Bruckheimer dan akhirnya bersedia menerima tawaran tersebut. Untuk membantu Mechner, akhirnya pada bulan Februari 2006, penulis naskah Jeffrey Nachmanoff dikontrak oleh Disney untuk membantu kinerja Mechner dalam membuat dan mengembangkan naskah film Prince of Persia : The Sands of Time ini.

Selesai dengan urusan penulis naskah, pada awal tahun 2007, Disney langsung mengumumkan jadwal resmi beredarnya film ini sedianya akan beredar pada 10 Juli 2009, padahal pada saat itu, naskah final film ini belum selesai dan juga pemilihan sutradara serta aktor dan aktris utamanya pun juga belum ditetapkan sama sekali. Baru pada bulan November 2007, negosiasi untuk pemilihan sutradara pun dimulai dan Disney langsung menunjuk sutradara Mike Newell untuk menjadi sutradara film berbujet US$ 150 juta ini. Mike pun awalnya agak ragu untuk menerima tawaran ini karena memang dia tidak familiar dengan gamenya. Asisten Mike ternyata sudah pernah memainkan gamenya dan memberikan plot detail serta point – point penting tentang cerita Prince of Persia : The Sands of Time ini. Selain itu, Mike pun juga tertarik dengan naskah buatan Mechner and Nachmanoff ini setelah membacanya. Akhirnya, sutradara asal Inggris yang terkenal di Amerika sejak menyutradarai film Harry Potter and the Goblet of Fire ini resmi dikontrak sebagai sutradara film ini.

Untuk Aktor utama film ini, Jerry langsung menunjuk aktor Jake Gyllenhaal untuk berperan sebagai Dastan, protagonis dan tokoh utama film ini pada Mei 2008. Jerry memang sangat ingin bekerjasam dengan Jake sejak lama. Sedangkan Jake, mengetahui bahwa dirinya ditunjuk untuk berperan sebagai Dastan, langsung mempersiapkan diri dengan latihan fisik keras dan ternyata dia menilai bahwa persiapannya ternyata terlalu berlebihan, walaupun akhirnya dia berhasil memenuhi kriteria bentuk badan yang pas sebagai Dastan. Sedangkan untuk aktris utama, aktris Inggris yang sedang naik daun saat ini, Gemma Arterton pun dikontrak untuk memerankan putri Tamina. Untuk tokoh antagonis, dipilihlah aktor watak Sir Ben Kingsley yang memang meyakinkan berperan sebagai tokoh – tokoh antagonis. Aktor Alfred Molina pun juga ditunjuk untuk berperan sebagai Sheik Amar, mentor Dastan. Setelah semua urusan pemilihan aktor dan lain – lain selesai, ditambah dengan selesainya naskah polesan Jordan Mechner, Doug Miro, Carlo Bernard, serta Boaz Yakin berdasarkan naskah awal buatan Mechner and Nachmanoff, film ini akhirnya memasuki masa syuting yang berjalan dari bulan Juli 2008 di Maroko selama 2 bulan dan syuting selanjutnya dipindahkan ke Pinewood Studios sampai dengan berakhirnya proses syuting film ini. Jadwal edar film ini, yang sebelumnya dikabarkan akan dirilis pada pada 10 Juli 2009, akhirnya mundur menjadi 28 Mei 2010 dengan alasan untuk penyempurnaan spesial efek, memberi keluangan waktu untuk proses produksi, menghindarkan diri dari kemungkinan mogok kerja 2008 Screen Actors Guild Strike, memberi banyak waktu untuk mengkoordinasikan marketing campaign film ini, dan yang paling utama adalah untuk menghindari persaingan dengan film Transformers : Revenge of the Fallen yang dirilis berdekatan dengan film Prince of Persia ini. Jerry juga menambahkan bahwa dengan ditunjuknya jadwal edar yang baru ( 28 Mei 2010 ), film ini akan memperoleh kesempatan besar untuk memperoleh laba yang sangat besar karena dirilis bertepatan dengan libur Memorial Day di Amerika.

Film yang direncanakan akan menjadi sebuah trilogy baru ini berkisah tentang seorang petualang jalanan bernama Dastan ( Jake ). Dia adalah seorang petualang yang ahli dalam bertarung, lincah, ahli strategi pertempuran, serta nekad dan juga berani ambil resiko yang sering membahayakan nyawanya. Dastan memperoleh semua keahlian serta kerendahan hati tersebut atas bimbingan sang mentor, Sheik Amar ( Molina ). Melihat kemampuan dan keahlian Dastan, dia akhirnya diadopsi oleh seorang pangeran Persia sebagai ahli warisnya, dengan tujuan agar kedua anak sang pangeran Persia tersebut tidak berebut tahta sang pangeran. Dalam satu petualangan, Dastan harus bekerja sama dengan Putri Tamina ( Arterton ) untuk mendapatkan sebuah benda pusaka bernama Sands of Time yang bisa memanipulasi waktu. Lebih parahnya, Sands of Time yang disimpan di dalam sebuah belati bernama The Dagger of Time ini juga memiliki sisi negatif, yaitu bisa menciptakan kehancuran bumi serta mengubah manusia menjadi iblis di muka bumi ini. Tak cuma Dastan yang berusaha untuk mendapatkan dan mengembalikan Sands of Time tersebut ke tempatnya, tapi juga banyak orang – orang jahat yang menginginkannya, terutama seorang penjahat benama Nizam ( Kingsley ) sehingga petualangan Dastan dan Tamina pun menjadi seru, tegang, penuh aksi, dan juga penuh bahaya.

Sekilas, filmnya memiliki cerita yang ringan – ringan saja. Well, memang itulah ciri khas film – film produksi Jerry Bruckheimer : Cerita yang tidak berbelit – belit, mudah dimengerti oleh para penontonnya, dan juga full of action and special effect seru nan menghibur bagi para penontonnya. Tujuan Jerry Bruckheimer dalam memproduksi setiap filmnya sebenarnya simple, yaitu hanya bertujuan untuk menghibur para penontonnya, juga melepas stress para penonton yang menyaksikan filmnya, dan pastinya, mengeruk laba sebesar – besarnya dari film yang diproduserinya. Produser yang dulu pernah berpartner dengan almarhum Don Simpson dan juga sutradara film – film action cadas Michael Bay inipun tidak ragu untuk mengeluarkan dana super besar ( Big Budget ) dalam memproduksi setiap filmnya, khususnya bagi film – film action adventure yang dinilai olehnya bakal laku keras. Insting bisnisnya tersebut selama ini tergolong jitu dan berhasil membuatnya mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda, walaupun tetap baginya ada beberapa film yang terpeleset pendapatannya.

Point plus lain film ini adalah film ini diangkat dari game petualangan seru berjudul sama yang tentunya sudah mempunyai fan base tersendiri, sehingga film ini pastinya cukup ditunggu oleh para fans nya. Jelas, para fans setia gamenya pasti akan penasaran dengan hasil akhir filmnya, apakah akan bisa memenuhi ekspektasi mereka atau tidak.

Dukungan bintang – bintang muda berbakat serta aktor – aktor senior dalam film inipun juga menjadi amunisi tambahan lain untuk mem-boost kesuksesan film ini. Didukung oleh dengan bintang – bintang tenar seperti Jake Gylenhall serta starlet baru asal Inggris, Gema Arterton sampai aktor watak spesialis peran anatgonis yaitu Sir Ben Kingsley plus aktor watak Alfred Molina, film Prince of Persia ini tidak boleh dikatakan sebagai film sembarangan. Lewat resume aktor aktrisnya yang selama ini positif ( Jake sukses lewat film The Day After Tomorrow; Arterton sukses lewat film Bond berjudul Quantum of Solace serta Clash of the Titans dan gosipnya, dia sedang menjadi calon terkuat artis film Transformers 3, menggantikan aktris Megan Fox yang mendadak mengundurkan diri dari film ke 3 pertarungan robot di muka bumi tersebut; Sir Ben Kingsley yang sangat fenomenal sebagai Indira Gandhi dalam film Gandhi; dan Alfred Molina yang sukses berperan sebagai Doc. Octopus dalam SpiderMan 2 ), pastinya, film ini akan menjadi sebuah film yang bertabur bintang – bintang keren dan mantap.

Plus, dukungan promosi yang gila – gilaan untuk film ini, menjadikan amunisi kesuksesan film ini semakin bertambah lengkap saja. Tak kurang, sponsor partner yang mendukung film ini adalah Lego, Ubisoft, Walt Disney, dan masih banyak lagi. Bentuk Marketing yang dilakukan oleh film ini adalah dirilisnya action figures, sets, costumes serta replika Dagger Of Time oleh Walt Disney. Selain itu, akan dirilis pula graphic novel berjudul Prince of Persia: Before the Sandstorm, yang akan menjadi kisah prekuel bagi film ini. Tak ketinggalan, sebuah game berjudul Prince of Persia : The Forgotten Sands yang merupakan sekuel cerita dari film ini, akan dirilis oleh Ubisoft pada waktu yang bersamaan dengan rilis film Prince of Persia : The Sands of Time ini. Tak Cuma itu, trailer – trailer film ini sudah dari jauh – jauh hari dilepas ke public dengan tanggapan yang cukup positif. Ditambah, dengan strategi marketing berupa rilis film ini yang lebih cepat seminggu di beberapa Negara Eropa dan Asia ( 19 Mei 2010 untuk Prancis, Swedia, dan Belanda; 20 Mei untuk Jerman; 21 Mei untuk UK, dan 26 Mei 2010 untuk Indonesia ), membuat film ini akan aman dari pembajakan dan membuat penonton mau untuk menyaksikan film ini di bioskop ketimbang DVD bajakan. Jadwal rilis Amerikanya, tanggal 28 Mei 2010, juga berampak positif bagi film ini karena bertepatan dengan libur Memorial Day di Amerika, sehingga akan banyak orang yang berbondong – bondong menyaksikan film ini.

Ada point minusnya? Jelas ada. Seperti yang sudah disinggung di atas, film – film Jerry Bruckheimer rata – rata memiliki kualitas dan bobot cerita yang tergolong standard saja. Memang, hal ini membuat para penonton yang memang lebih suka dengan adegan – adegan action seru dan special effect spektakuler serta tentunya bagi mereka yang hanya sekedar mencari film ringan menghibur semata, film – film produksi Jerry Bruckheimer adalah jawaban paling pas bagi mereka. Tapi, bagi para penonton yang lebih mengedepankan bobot cerita, maka film ini akan menjadi film biasa semata yang mungkin kurang berkenan bagi mereka. Selain itu, film – film diangkat dari game biasanya memilki penghasilan yang tidak memuaskan. Tercatat sampai saat ini, hanya film Lara Croft : Tomb Raider saja yang mendapatkan hasil memuaskan dan menembus angka US$ 100 juta. Sisanya, hasilnya mengenaskan di tangga Box Office Amerika. Hal ini dikarenakan adanya ketidak puasan antara penggemar gamenya yang menonton filmnya. Ekspektasi dan keasyikan mereka ketika bermain game yang difilmkan tersebut sayangnya sering tidak dirasakan oleh para fans gamenya, sehingga mereka kurang puas dengan hasil adaptasi filmnya. Selain itu, bagi para penonton lain yang bukan merupakan fans gamenya, mereka tidak kenal dengan game tersebut dan sering mencap jelek serta enteng film – film yang diangkat dari game tersebut. Ditambah, seringnya kesalahan pemilihan sutradara yang tidak mengetahui tentang gamenya, sehingga mereka sering tidak menangkap point – point penting dan mengasyikkan yang menjadikan game yang diadaptasinya itu menarik di mata para penggemar gamernya dan tidak bisa mengikuti kemauan serta keinginan para fans gamenya terhadap hasil film yang diadaptasi dari game favorit mereka tersebut. Akibatnya, banyak film yang diadaptasi dari game berakhir hancur lebur, baik secara pendapatan maupun secara kualitas serta seringkali tidak bisa memenuhi keinginan serta ekspektsi para fans gamenya.

Jadwal edar film ini memang tergolong briliant, tapi di sisi lain, ancaman film ini datang dari film Sex and the City 2. Yap. Film yang mengangkat tema seputar dunia sex, pernikahan, serta persahabatan 4 wanita metrosexual dengan embel – embel produk – produk branded terkenal tersebut memang menjadi senjata mematikan yang bisa mengancam pendapatan Prince of Persia ini. Apalagi, film Sex and the City 2 pun juga menggunakan taktik marketing yang jor – jor-an seperti yang dilakukan oleh Prince of Persia, sehingga bisa dikatakan, Prince of Persia : The Sands of Time harus berhati – hati dan ekstra waspada terhadap ancaman dan serangan dari film Sex and the City 2 tersebut. Dan terakhir, apakah anda merupakan orang yang kecewa berat dengan hasil adaptasi film Harry Potter and the Goblet of Fire? Jika iya, maka berhati – hatilah karena yang menjadi biang kerok kekesalan anda adalah Mike Newell, yang notabene merupakan sutradara film ini. Jadi, ada kekhawatiran, apakah film ini hasil adaptasinya akan sebagus gamenya dan digemari oleh para fans gamenya, atau justru sebaliknya, malah dicaci maki oleh para fans gamenya? Kita lihat saja nanti hasilnya.

Overall, film Prince of Persia : The Sands of Time ini tetap merupakan sebuah film yang wajib ditonton pada akhir bulan Mei ini. Indikatornya jelas : diangkat dari game terkenal dengan jumlah fans yang banyak, dukungan produser spesialis film – film action seru nan menghibur bernama Jerry Bruckheimer serta aktor aktris watak dan terkenal, dan tentunya, sokongan dari Walt Disney Pictures yang sudah terbukti sebagai studio film yang mampu memproduksi film – film yang bisa menggapai berbagai usia dan kalangan serta sukses di pasaran, membuat film Prince of Persia : The Sands of Time ini memang menjadi sebuah film yang sangat patut untuk disaksikan. Untuk pasar Indonesia, film ini juga pas untuk mengisi Long Weekend yang dimulai pada Jumat 28 Mei 2010 mendatang. So, bagi anda para pecinta seri Prince of Persia, atau fans film – film keluaran Jerry Bruckheimer, dan juga fans film – film action petualangan seru nan menghibur, atau ingin mengajak keluarga serta teman maupun sahabat, atau anda khususnya yang sedang stress dengan pekerjaan dan butuh film penghibur sebagai pelepas stress untuk menyambut long weekend kali ini, maka film Prince of Persia : The Sands of Time ini WAJIB untuk anda tonton minggu ini. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:


Trailer 2: