Minggu, 09 Mei 2010

Preview A Nightmare on Elm Street


Preview

A Nightmare on Elm Street ( Platinum Dunes_2010 )

Pemain : Jackie Earle Haley as Freddy Krueger

Rooney Mara as Nancy Holbrook

Kellan Lutz as Dean Russell

Katie Cassidy as Kris Fowles

Thomas Dekker as Jesse Braun

Kyle Gallner as Quentin Smith

Sutradara : Samuel Bayer

Rilis =

  • 30 April 2010 ( Amerika Serikat )
  • 12 Mei 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Tidur adalah obat paling manjur bagi manusia untuk menghilangkan rasa lelah, penat, jenuh, bahkan stress dari tekanan pekerjaan dan juga merupakan obat yang paling ampuh untuk meredakan amarah kita yang sedang berkobar – kobar. Pada hakikatnya, Sang Pencipta memang memberikan contoh kepada manusia agar beristirahat setelah lelah mengerjakan segala pekerjaan yang dijalankan. Tidur adalah anugrah terbesar manusia untuk mengatasi rasa capek dan stress. Seringkali, saking terlelap dan enaknya kita tertidur, secara tidak sadar, kita memasuki alam mimpi. Tak jarang, kita pun mengigau secara tidak sadar ketika kita tertidur pulas. Mimpi kitapun juga beragam jenisnya, mulai dari mimpi yang indah, seru, dan juga bisa MENYERAMKAN.

Tapi, apa jadinya jika kita bermimpi, tapi kemudian kita bertemu dengan setan yang siap membunh kita dan kemudian kita pun tidak akan terbangun – bangun lagi ketika kita dibunuh oleh monster tersebut di alam mimpi? Well, ide menarik ini dicetuskan pertama kalo oleh rajanya film – film horror tahun 1980-an bernama Wes Craven. Craven yang pada masa itu telah sukses sebagai sineas film – film horror seperti The Last House on the Left, The Hills Have Eyes, Deadly Blessing, dan Swamp Thing, tiba – tiba saja mendapatkan ide bahwa kematian bisa saja datang ketika seseorang sedang tidur dan memasuki alam mimpi dan kejadian – kejadian menyakitkan yang terjadi di alam mimpi bisa dirasakan juga pada kejadia nyata. Inspirasi Craven mengenai jalan cerita film inipun diambil dari beberapa sumber, salah satunya adalah berita dari surat kabar LA Times mengenai para pengungsi warga Kamboja akibat kekejaman rejim Pol Pot Khmer Merah yang mengakibatkan para pengungsi tersebut dihantui mimpi buruk yang sangat menakutkan dan akhirnya mereka menolak untuk tidur akibat mimpi buruk tersebut, dan yang lebih parah, justru beberapa orang pengungsi tersebut yang tertidur pun akhirnya mengalami kematian dan setelah diselidiki dan diadakan penelitian, penyakit tersebut akhirnya diberi nama Sudden unexpected death syndrome (SUDS) or Sudden unexpected nocturnal death syndrome (SUNDS), yaitu kematian mendadak ketika seseorang sedang tertidur, dan kematian ini sering disebabkan oleh sebuah sindrom bernama Brugada syndrome. Selain itu, Craven pun juga menciptakan tokoh Freddy Krueger berdasarkan pengalaman pribadinya, dimana ketika suatu malam, Craven yang masih muda melihat bayangan seseorang di jendela kamarnya, sedang menatap dia, kemudian berlalu begitu saja. Selain itu, nama Freddy Krueger pun juga diambil dari nama temannya yang sering menjahilinya selama sekolah bernama Fred Krueger.

Skrip film A Nightmare on Elm Street dikerjakan oleh Craven pada tahun 1981 dan setelah selesai, Craven pun menawarkan ke beberapa studio film ternama untuk membiayai naskah filmnya agar bisa diangkat ke layar lebar. Beberapa studio besar menolaknya, tapi Walt Disney Pictures tertarik dengan naskah Craven, walaupun akhirnya harus ditolak Craven karena harus ada penurunan adegan sadis agar bisa ditonton oleh anak – anak dan remaja. Paramount Pictures pun juga tertarik, tapi akhirnya batal akibat adanya persamaan cerita dengan film Dreamscape yang diproduksi oleh Paramount. Akhirnya, New Line Cinema pun membeli hak cipta naksah film ini dan langsung setuju untuk memproduksi filmnya. Walaupun sempat mengalami hambatan ketika proses produksi dan juga memakan biaya cukup besar pada masa itu, sekitar US$ 1,8 Juta, tapi akhirnya film ini berbuah manis pada tangga Box Office Amerika dan langsung balik modal pada minggu pertama film tersebut dirilis. Dengan kesuksesan ini, akhirnya film Nightmare on Elm Street pun dibuat franchise horror dan sudah menelurkan 9 seri A Nightmare on Elm Street ( termasuk Freddy VS Jason ) untuk versi layar lebarnya, selain TV Shownya, merchandise, game, novel, buku komik, dan masih banyak lagi.

Tak ayal, kesuskesan film ini, sampai dicap sebagai Cult Classic Horror oleh para penggemar film horror, membuat Platinum Dunes, rumah produksi film milik sutradara cadas Michael Bay, tergelitik untuk me-reboot film ini. Berita tentang reboot film ini tersebar di tahun 2008. Produser film ini, Brad Fuller, menginginkan film baru A Nightmare on Elm Street ini menjadi sebuah film yang lebih mengedepankan tensi horror ketimbang horror dengan balutan joke – joke konyol seperti yang ada pada film lama Nightmare on Elm Street. Oleh sebab itu, ia ingin membuat film A Nightmare on Elm Street baru ini menjadi film yang lebih horror, tanpa adanya joke, lebih sadis, dan lebih seram ketimbang Nightmare on Elm Street yang lama. Hal inipun diamini oleh Samuel Bayer, sutradara film ini. Walaupun Bayer sempat menolak tawaran dari Platinum Dunes untuk menyutradari film ini sebanyak dua kali, akhirnya dia menerima tawaran ini setelah menerima email dari Michael Bay mengenai ”prospek bisnis” film ini. Bay yang memang sudah meminang Bayer dari awal untuk menjadi sutradara film ini pun bergeming dengan keputusannya untuk memilih Bayer sebagai sutradara film Nightmare yang baru, bahkan perlu sampai turun tangan untuk membujuk Bayer dan usahanya berhasil. Pemilihan casting, khususnya karakter protagonis wanita Nancy Thompson ( di film yang baru, namanya berganti menjadi Nancy Holbrook ) dan karakter setan paling terkenal sepanjang sejarah dalam film ini, Freddy Krueger pun juga memiliki banyak kendala dan banyak pertimbangan dari pihak studio. Akhirnya, setelah seleksi yang ketat, Rooney Mara pun terpilih untuk memerankan karakter protagonis utama, Nancy. Sedangkan untuk pemeran sang setan, Freddy Krueger, tadinya, studio hendak memilih Billy Bob Thornton untuk berperan sebagai Freddy. Akhirnya, pilihan jatuh kepada aktor Jackie Earle Haley sebagai pemeran tokoh Freddy, setelah Platinum Dunes melihat dia bermain gemilang dalam film Little Children. Bayer sempat ragu dengan keputusan studio memilih Haley sebagai pemeran tokoh Freddy, tapi akhirnya berubah pikiran setelah Haley bermain gemilang sebagai tokoh Rorschach dalam film superhero terpuji tahun lalu, Watchmen. Akhirnya, untuk tokoh – tokoh lain, terpilihlah beberapa aktor muda seperti Kyle Gallner, Katie Cassidy, Thomas Dekker, dan Kellan Lutz dan hal ini termasuk tanpa rintangan dalam proses pemilihannya. Syuting juga berjalan lancar dari tanggal 5 Mei 2009 sampai 10 Juli 2009.

Film ini masih memakai pakem cerita yang sama dengan A Nightmare on Elm Street versi tahun 1984. Anak – anak dan pemuda di Elm Street mati secara mendadak, mengenaskan, dan misterius pada saat mereka terlelap tidur di kota kecil tersebut. Semua orang tua takut dan bingung dengan hal tersebut. Nancy Holbrook ( Mara ), seorang gadis remaja dari Elm Street tersebut, berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan pemuda pemudi yang tewas secara misterius tersebut. Dibantu dengan teman – temannya seperti Quentin Smith (Gallner) dan Jesse Braun (Dekker), Nancy pun menemukan fakta bahwa semua ini akibat ulah perbuatan orang tua di Elm Street yang membakar secara massal seorang pria bernama Freddy Krueger ( Halley ) yang dicurigai sebagai seorang child molester ( yaitu orang yang suka menyiksa, melakukan pelecehan seksual, dan juga terkadang membunuh anak – anak yang masih kecil ). Freddy ternyata tidak mati, justru dia bangkit kembali sebaga seorang setan yang membunuhi anak – anak dan remaja yang ada di Elm Street, sesuai dengan sumpahnya sesaat sebelum dia mati terbakar. Hal ini justru dirahasiakan oleh para orang tua di Elm Street dan tidak menceritakannya kepada anak – anak mereka. Penasaran, mereka mencari fakta apakah benar Freddy seorang child molester. Apakah benar demikian? Pastinya, Nancy, Jesse, serta Quentin pun harus bertindak cepat untuk menghentikan Freddy, sebelum korban remaja semakin bertambah banyak, dan tentunya, sebelum nyawa mereka ikut melayang akibat dikejar – kejar oleh setan bermuka rusak, berbaju sweater lusuh berwarna merah hijau, serta ber–sarung tangan cakar baja di tangan kanannya tersebut!

Well, sebagai sebuah film remake, film A Nightmare on Elm Street sebenarnya tidak memiliki pakem cerita baru yang bisa digali lebih dalam lagi akibat sudah banyak orang yang tahu akan cerita mengenai setan pembunuh di alam mimpi tersebut. Akibatnya, film ini kemungkinan besar tidak berkembang dari sisi cerita. Pastinya, bobot cerita tidak akan terlalu dipentingkan di film ini. Film ini pastinya akan lebih menjual ke arah adegan – adegan yang lebih seram, lebih sadis, dan lebih mencekam ketimbang film lamanya. Ada 2 sisi yang menjadi penilaian tentang film A Nightmare on Elm Street yang baru ini. Di satu sisi, ide untuk me-reboot film ini merupakan ide yang cukup bagus untuk memperkenalkan sosok setan pembunuh bernama Freddy Krueger ini ke hadapan para kalangan anak muda jaman sekarang yang tidak pernah mengenal sosok Freddy lewat film jadulnya ( jadul = JAman DULu – Red ). Di sisi lain, reboot film ini merupakan ide yang sebenarnya tidak perlu bagi penggemar film jadulnya karena cerita tentang Freddy sendiri sudah tidak ada yang bisa dikupas lagi. Selain itu, pertanyaan terbesar muncul dari akting sang aktor utama yang menjadi sosok penting dalam film ini, yaitu Jackie Earle Haley. Apakah dia bisa menggantikan akting dan kharisma Robert Englund sebagai tokoh Freddy Krueger yang baru? Seperti yang sudah kita ketahui, sosok Robert Englund sebagai tokoh Freddy Krueger yang sadis tapi juga humoris sudah menempel erat di benak penonton film jadulnya, sehingga agak sedikit sanksi, apakah Jackie Earle Haley bisa berperan mantap sebagai sosok Freddy yang baru. Kharisma aktor berusia 62 tahun tersebut sudah sangat pas sebagai sosok Freddy Krueger. Buktinya, 9 film seri A Nighmare on Elm Street dibintanginya terus oleh kakek yang satu ini. Apapun yang berhubungan dengan Freddy Krueger, pasti dikaitkan oleh aktor horror sepuh yang satu ini. Hal ini bisa menjadikan beban tersendiri bagi Haley untuk memerankan Freddy. Tapi, secara khusus, Englund memberi restu penuh bagi Haley untuk menggantikan dirinya berperan sebagai Freddy Krueger, sehingga ini bisa menjadi support tersendiri bagi Haley.

Overall, film A Nightmare on Elm Street versi reboot ini pastinya tetap akan memiliki nilai positif dan negatif tersendiri bagi kalangan anak muda jaman sekarang dan juga kalangan fans film jadulnya. Terlepas dari apakah Haley bisa menggantikan sosok Englund sebagai Freddy, pastinya, film ini akan lebih menjual lebih banyak adegan mencekam, lebih banyak adegan horror, lebih sadis, tidak ada adegan humor, dan lebih dark ketimbang A Nightmare on Elm Street versi lawasnya. Platinum Dunes, sebagai studio film yang bergerak di genre remake film horror, sudah terbukti kualitasnya sebagai studio film yang mampu me-remake atau me-reboot film – film horror lawas dengan kemasan yang lebih baru dan lebih mengena di hati anak muda jaman sekarang. Film – film remake horror seperti The Texas Chainsaw Massacre, The Amityville Horror, The Hitcher, dan Friday the 13th merupakan bukti kesuksesan Platinum Dunes sebagai studio film spesialis remake dan reboot film – film horror lawas. Hasil Box Office film – film tersebut pun tidak mengecewakan dan diterima oleh banyak kalangan anak muda jaman sekarang. Secara tidak langsung, anak muda jaman sekarang bisa mengetahui film – film horror terkenal jaman dulu akibat kinerja Platinum Dunes yang me-remake dan me-reboot film – film horror jadul terkenal tersebut. Plus, film ini mendapat promosi gratis lewat artikel berita dari salah satu website berita terkenal di Indonesia mengenai kasus kematian seseorang dalam tidurnya ( artikel bisa dilihat di link ini : http://health.detik.com/read/2010/05/03/183032/1350406/763/mimpi-buruk-yang-bisa-membunuh ) baru - baru ini. So, bagi anda yang penasaran dengan film jadul A Nightmare on Elm Street tapi belum sempat menonton film jadulnya, atau memang sedang mencari film horror yang pas bagi anda dan pacar atau gebetan anda, atau memang kepingin bernostalgia dengan film horror lawas dengan citarasa baru, maka film A Nightmare on Elm Street versi reboot ini adalah film yang WAJIB anda tonton di minggu ini. So, bersiaplah anda, terutama anak muda jaman sekarang, untuk bermimpi buruk setelah menonton film ini, dan jangan sampai anda dikejar oleh Freddy di dalam mimpi anda. HUAHAHAHAHAHAHAHA. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer 1:



Trailer 2:

Sabtu, 01 Mei 2010

Review Iron Man 2


Review

Iron Man 2 ( Paramount Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Jon Favreau

Rilis =

  • 7 Mei 2010 ( Amerika Serikat )
  • 30 April 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Harapan semua penonton ketika menyaksikan sebuah film yang merupakan sekuel atau film ke dua dari sebuah judul film adalah harapan akan lebih bagus, lebih menghibur, dan lebih istimewanya sebuah sekuel itu dibanding film pertamanya. Well, tidak selalu harus lebih seru dan lebih banyaknya adegan - adegan action yang ada di sekuelnya ketimbang di film pertamanya. Banyak aspek yang bisa dilihat untuk menentukan apakah sekuel dari sebuah film bisa dinilai lebih baik ketimbang film pertamanya. Beberapa contohnya adalah cerita yang makin berbobot, kelancaran cerita yang ada di sekuelnya sehingga penonton bisa menikmati filmnya secara enak dan lancar serta tidak membosankan, dan adanya element - element tambahan yang unik dan beda antara film yang pertama dengan kedua.

Tak jarang, banyak film sekuel yang bisa lebih bagus ketimbang seri pertamanya; tapi tak jarang pula, banyak film sekuel yang kualitasnya justru berada jauh dibawah film pertamanya. Beberapa contoh sekuel yang lebih bagus ketimbang seri pertamanya adalah 4 seri Lethal Weapon, 4 seri Die Hard, Spiderman 2, sampai yang teranyar adalah The Dark Knight yang merupakan sekuel dari Batman Begins. Sedangkan beberapa contoh sekuel yang lebih buruk ketimbang seri pertamanya adalah Spiderman 3, Basic Instinct 2, Son of the Mask, bahkan yang paling gress, yaitu Transformers 2 : Revenge of the Fallen yang sangat "berhasil" menjadi film super hancur berantakan ketimbang film pertamanya. Lalu, bagaimana dengan nasib sekuel film Iron Man, yaitu Iron Man 2?? Mari kita lihat saja hasil review di bawah ini.


Sebelum masuk ke pembahasannya, ada baiknya kita simak terlebih dahulu sinopsis ceritanya. Diceritakan dunia akhirnya mengetahui bahwa pengusaha senjata yang terkenal kaya dan tampan serta playboy bernama Tony Stark ( Downey ) adalah superhero Iron Man ( sesuai dengan ending Iron Man 1 dimana dia membeberkan bahwa dirinya adalah Iron Man kepada pers ). Tugas Tony pun bertambah; mulai dari mengurus perusahaannya, membina hubungan cintanya dengan sang sekretaris setianya, Pepper Potts, sampai dengan urusan menjaga keamanan dunia. Tapi ada suatu hal yang Tony sembunyikan dari semua orang, kecuali JARVIS, komputer setianya. Tony tidak ingin membuat semua orang yang ada di dekatnya menjadi khawatir dengannya, sehingga iapun menutup rapat - rapat rahasianya tersebut. Karena Tony pun kelelahan akibat tugasnya yang menumpuk, Tony sampai mengangkat sang sekretaris setianya, Pepper Potts, untuk naik pangkat menjadi CEO Stark Enterprise menggantikan tokoh antagonis Obadiah Stane yang tewas ketika bertarung dengan Tony, serta untuk menggantikan Tony. Walaupun terlihat berat, tapi Tony terlihat menikmati sekali pekerjaan – pekerjaannya tersebut. Seiring dengan bertambahnya tugas, maka semakin banyak pulalah tanggung jawab serta tekanan dalam diri Tony. Militer Amerika serta pers memaksa agar Tony menyerahkan rancangan baju dan teknologi yang terdapat pada Iron Man. Tony pun menolak dengan tujan supaya teknologi maha dahsyat tersebut tidak jatuh ke tangan orang jahat. Di tengah tekanan dari militer Amerika tersebut, muncullah seorang ilmuwan rusia yang gila dan jahat bernama Ivan Vanko ( Rourke ) yang sangat membenci Tony Stark A.K.A Iron Man dan ingin menghancurkan Iron Man. Tak tanggung – tanggung, Vanko pun juga menciptakan sumber energi mirip dengan punya Tony dan menciptakan baju tempur khusus berupa cambuk listrik super panjang dan besar. Tak hanya itu, saingan bisnis Tony bernama Justin Hammer pun mulai mengumandangkan perang terbuka kepada Tony dalam hal persaingan dunia bisnis dan diam – diam bekerja sama dengan Ivan Vanko untuk menjalankan suatu rencana jahat bersama dengan menciptakan robot – robot tempur mirip seperti Iron Man untuk menghancurkan Tony. Untunglah Tony masih memiliki sahabat – sahabat setia yang masih mau membantu menolongnya, seperti Nona Potts, sang bodyguard bernama Happy Hogan, Nick Fury yang merupakan kepala badan intelejen rahasia AS bernama SHIELD, agent wanita Rusia dari SHIELD bernama Natalie Rushman / Natasha Romanoff / Black Widow ( Johansson ) serta tentunya, Lt. Colonel James "Rhodey" Rhodes yang nantinya akan menggunakan baju tempur baru ciptaan Tony bernama War Machine, dan telah selesainya baju Iron Man baru, yaitu Mark VI. Mereka siap menopang Iron Man dalam menghadapi segala musuh yang menghadang.

Lalu, bagaimana dengan hasil filmnya? Dengan sangat menyesal saya katakan, bahwa film Iron Man 2 hasilnya TIDAK MEMUASKAN DAN LEBIH MENGECEWAKAN ketimbang Iron Man 1. Sebenarnya, cerita yang ada di Iron Man 2 sedikit lebih kompleks ketimbang sinopsis yang ada di review saya ini. Tapi, saya berusaha meminimalisir sinopsisnya karena memang ceritanya ada kejutan - kejutan yang sayang kalo sampai saya bocorkan disini. Saya pun berprinsip bahwa shocking moment yang ada di sebuah film jangan sampai dibocorkan terlebih dahulu sampai penontonnya menonton sendiri filmnya, supaya lebih gress. He3. XD. Tapi, karena kerumitan ceritanya itulah, Iron Man 2 akhirnya memiliki lubang tersendiri yang menyebabkan filmnya menjadi lebih jelek ketimbang film pertamanya. Penulis naskah Justin Theroux beserta dengan sang sutradara, John Favreau dan juga Robert Downey Jr memang memiliki ide briliant untuk memasukan unsur depresi kedalam diri tokoh Tony Stark akibat tekanan - tekanan yang dia terima, baik secara internal maupun eksternal. Tapi sayangnya, akibat terlalu banyaknya konflik yang ada, film menjadi kehilangan fokus, sehingga yang terjadi adalah penyelesaian setiap masalah yang ada secara gampang dan asal saja kalu tidak mau dikatakan klise. Hal ini pun akhirnya berimbas kepada penonton. Penonton seakan disiksa selama menyaksikan filmnya, khususnya ketika memasuki tengah film menjelang akhir. Cerita yang bertele - tele serta problem cerita yang terasa dipanjang - panjangkan dengan sangat sukses membuat penonton menjadi bosan menyaksikan filmnya menjelang tengah film. Eksekusi problem yang ada dalam cerita tidak dipikirkan secara matang terlebih dahulu, sehingga akhirnya, problem - problem yang ada dalam filmnya menjadi basi, tidak terarah, bertele - tele, dan memiliki penyelesaian yang basi dan klise pula.

Tak cukup sampai disitu saja penonton disiksa ketika menyaksikan film Iron Man 2 ini. Adegan - adegan action yang sedianya bisa menjadi obat ampuh untuk membunuh rasa bosan dan kantuk penonton selama film ini berlangsung pun parahnya dieksekusi dengan BOBROK pula. Adegan - adegan action yang ada di film ini justru berlangsung sebentar, tidak begitu spektakuler, dan seakan - akan penyelesaian dari setiap adegan action yang ada pun dibuat terlalu cepat dan gampang. Penonton yang tadinya mengharapkan adegan action yang lebih seru, lebih keren, lebih mendebarkan, lebih lama, serta lebih mengGIGIT ketimbang film pertamanya, terpaksa harus GIGIT JARI ( mungkin ada kali yang sampai menggigit bibir atau bahkan mungkin sampai menggigit kuping orang disampingnya akibat kesal dengan adegan - adegan action di film ini. He3. XD ) dengan adegan - adegan action yang ada di film ini. Kecuali adegan kejar - kejaran yang ada di bagian hampir ending film ini, semua adegan action di film ini yah masuk dalam kategori BASI. Kita yang mengharapkan pertempuran lebih seru antara Iron Man dengan Whiplash atau bahkan pertempuran klimaks antara Iron Man dan War Machine melawan Whiplash pun ternyata harus berakhir dengan cepat, gampangan, dan manyakitkan serta menyedihkan.

Lalu, bagaimana dengan akting para pemainnya?? Well, di sektor ini, saya beri apresiasi lebih kepada 2 pemain barunya, yaitu Mickey Rourke dan Scarlett Johansson. Mereka secara meyakinkan berhasil memerankan orang Rusia dengan aksen Rusia yang kental ketika mereka berbicara, sehingga kita pun merasa terbawa dengan permainan mereka yang aslinya buka orang Rusia. Pemain - pemain utama lainnya bermain seperti biasa dan terlihat sekali mereka semakin bisa mendalami karakter - karakter mereka dibanding film pertamanya. Lalu, pertanyaan terbesar muncul pada akting pemeran tokoh Rhodes yang baru, yaitu Don Cheadle : apakah Don Cheadle berhasil memerankan tokoh Rhodes dengan meyakinkan ketimbang aktor sebelumnya, Terence Howard, yang dipecat sepihak?? Well, saya pribadi menilainya agak sulit. Yang pasti, karakter tokoh Rhodes menjadi berubah dan berbeda ketimbang di film Iron Man 1. Di Iron Man 2, Don Cheadle memerankan tokoh Rhodes dengan pembawaan yang lebih serius, jarang melontarkan joke - joke yang lucu, dan tidak mudah terpengaruh oleh sifat urakannya Tony Stark. Well, di satu sisi, saya menilai Don berhasil melepaskan image tokoh Rhodes yang ada di film pertamanya dan memerankan tokoh Rhodes dengan gayanya sendiri. Di sisi lain, saya juga merasa kehilangan dan rindu dengan sosok Rhodes yang dibawakan dengan apik oleh Terence Howard. Penonton yang sudah kadung suka dengan tokoh dan karakter Rhodes yang ada di film Iron Man 1 pun pastinya akan kecewa dengan perubahan karakter Rhodes yang baru.

Setelah daritadi kita melihat sisi buruknya Iron Man 2 ini, apakah ada sisi positifnya? Ada. Yang saya sangat sukai dari film ini adalah masih adanya beberapa element shocking moment yang ada dalam film ini, walaupun sayangnya tidak sekeren yang Iron Man 1 dan shocking moment tersebut juga dieksekusi dengan hasil setengah - setengah. Selain itu, sisi positif lainnya adalah kehadiran band rock sepuh AC / DC yang mengisi soundtrack film ini, sehingga filmnya terkesan lebih garang dan lebih macho, walaupun kita akhirnya tahu bahwa filmnya lebih ke arah lebih lebay dan lebih bertele - tele. He3. XD. Tapi jujur, musik yang dibawakan AC / DC di film ini benar - benar keren dan lebih menghibur ketimbang adegan - adegan action memble dan cerita bobrok filmnya sendiri. Selain itu, adegan kejar - kejaran yang ada pada saat menjelang ending film ini pun juga cool dan menghibur. Satu lagi, humor - humor yang ada di film ini pun masih segar dan lucu untuk dinikmati.

Overall, film Iron Man 2 adalah contoh sebuah film sekuel yang lebih buruk ketimbang film pertamanya yang lebih berbobot dan lebih menghibur. Apakah karena Iron Man 2 memang memiki masa persiapan yang lebih kurang atau karena faktor pergantian penulis naskah dan ide cerita? Well, kelihatannya semua faktor tersebut serta segala kekurangan yang telah saya sebutkan diatas bisa disahkan. Yang pasti, film Iron Man 2 ini memang lebih kurang di berbagai aspek dibanding film Iron Man 1. Yang lebih parah, screen time untuk sang sutradara, John Favreau, yang berperan sebagai tokoh Happy Hogan pun semakin bertambah dan sialnya, tidak berkesan sama sekali. Mungkin, ini juga yang akhirnya membuat film Iron Man 2 lebih jelek ketimbang yang pertamanya, yaitu fakta bahwa sang sutradara TERLALU NARSIS DAN BANCI TAMPIL di film keduanya ini dibanding yang pertama, sehingga kehilangan konsentrasi untuk mengarahkan film Iron Man 2 agar menjadi film yang lebih bagus ketimbang Iron Man 1. Well, hati - hati bung. Anda sendiri yang mengajarkan di film ini, bahwa jika kita terlalu narsis dan banci tampil di muka umum, maka kesulitan lah yang akan anda dapatkan dan hal itu anda cerminkan lewat tokoh Tony Stark. OUCH!!! Seperti menampar muka sendiri. He3. XP. Tapi untungnya, masih ada point positif yang bisa dilihat dalam film ini, sehingga nilainya masih sedikit terbantu dibanding Transformers 2 tahun lalu. Jika tidak, maka saya tidak akan ragu untuk memberi nilai 4, bahkan 3 dari 10 untuk film ini. Tapi, bagi anda para penonton yang masih belum sempat untuk menonton film ini, jika anda memang sangat penasaran dengan filmnya, yah tonton saja atuh. Toh pilihan menonton kan ada di tangan anda, jadi, anda bebas untuk menentukannya. Ok2?? Akhir kata, selamat menonton.

Point :

Cerita = 5 / 10

Pemain = 6 / 10

Kriteria khusus :

Special Efek = 6 / 10

Unsur Hiburan

dan action = 4 /10

Total = 5 / 10


Copyright by : Alexander "Ajay" Dennis


Jumat, 30 April 2010

Preview The Bounty Hunter


Preview

The Bounty Hunter ( Columbia Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Andy Tennant

Tanggal Rilis :

  • 19 Maret 2010 ( Amerika )
  • 1 Mei 2010 ( Midnight Show di Bioskop – Bioskop Indonesia )
  • 5 Mei 2010 ( Di Bioskop – Bioskop Indonesia )

Gerard Butler adalah aktor Skotlandia ganteng berbadan tinggi tegap kekar yang mampu mencuri perhatian, baik kritikus – kritikus film maupun khususnya kaum hawa, lewat perannya sebagai King Leonidas yang macho, berkharisma, optimistis, dan rela melakukan apapun untuk melindungi Sparta dari serangan kaum Persia lewat film perang kolosal paling keren di tahun 2007 silam, berjudul 300. Yap. Lewat film inilah, Gerard Butler yang sering disapa Gerry ini mulai menunjukkan taringnya agar bisa berhasil di industri perfilman Hollywood. Gerry berhasil menghidupkan karakter King Leonidas yang jantan, macho, berkharisma, optimistis, dan rela melakukan apapun untuk melindungi Sparta dari serangan kaum Persia, bahkan kalau perlu, berkorban nyawa bagi negara dan masyarakat yang dicintainya itu. Tak cuma akting dan kharismanya saja yang membuat Gerard Butler dihormati di film ini. Bisa dikatakan, sosok fisiknya pun sempurna di film ini : Badan tinggi tegap dengan perut six pack, sehingga pastinya bisa menarik kaum hawa manapun yang menonton film ini. Tak hanya itu, film 300 juga menjadi standard tersendiri bagi bentuk tubuh laki – laki dan mulai booming lah bentuk tubuh sempurna six pack pada saat itu. Banyak majalah – majalah fitness di negara kita yang berlomba – lomba untuk menampilkan latihan – latihan fitness dan non fitness agar bentuk badan bisa seperti King Leonidas ( hayo, para laki – laki, ngaku deh, pasti anda minimal pernah tertarik dengan artikel yang dijadikan headline di majalah – majalah fitness tersebut kan?? He3. XD. Tak apa. Saya pun juga tertarik dengan headline tersebut, bahkan saya pernah membelinya untuk mencoba latihannya. He3. XD ).

Lepas dari film 300, Gerry pun mulai kebanjiran tawaran bermain film. Mantan Sarjana Hukum dari Glasgow University Law of School, Skotlandia, ini pun tidak sembarangan memilih peran. Setiap tahun, setelah kesuksesannya di film 300, Gerry bermain sebanyak 2 bahkan 3 produksi film. Setelah 300, pria Skotlandia yang pernah mendapat tanda jasa Certificate of Bravery dari the Royal Humane Society karena menolong seorang anak yang nyaris tewas tenggelam di Danau Tay di Skotlandia inipun bermain dalam film romantis P.S. I Love You yang mampu menguras air mata penonton. Tahun 2008, dia kembali bermain dalam film Nim’s Island bersama aktris Jodie Foster serta Rock’n Rolla bareng sutradara Guy Ritchie. Di tahun 2009 kemarin, Gerry langsung menelurkan 3 film, yaitu The Ugly Truth bareng aktris cantik Katherine Heigl; Gamer bareng aktris dan model Amber Valetta; serta adu akting dengan aktor Jamie Foxx lewat film Law Abiding Citizen. Di tahun 2010 ini, aktor yang digosipkan sebagai playboy nakal ini sudah mendulang kesuksesan di awal tahun ini dengan mengisi suara karakter Stoick lewat film animasi terpuji How to Train Your Dragon dan film The Bounty Hunter ini. Uniknya, jadwal edar The Bounty Hunter hanya berselang seminggu sebelum How to train Your Dragon dirilis, sehingga bisa dikatakan, Gerry sukses berganda lewat 2 film yang dibintanginya dalam 1 bulan. Wow. Prestasi yang mencengangkan untuk seorang aktor.

Lalu, bagaimana dengan lawan main Gerry di film ini, yaitu Jennifer Aniston? Well, aktris yang mulai berkibar namanya lewat seri TV Friends ini pun mulai mengalami penurunan karier. Banyak film – filmnya yang hancur berantakan, baik secara kualitas maupun secara pendapatan Box Office nya setelah dia selesai membintangi seri TV Friends. Hanya beberapa filmnya yang mendapat nilai dan hasil positif setelah dia menyelesaikan Friends, seperti film Bruce Almighty, Marley and Me, dan Along Came Polly. Sisanya sayangnya hancur berantakan di tangga Box Office Amerika. Lebih parah lagi, tahun lalu, tidak ada satupun filmnya Jennifer yang sukses di tangga Box Office sehingga bisa dikatakan kariernya mandeg. Lewat The Bounty Hunter inilah, wanita yang kerap disapa publik dengan julukan Jen As ini menggantung asa.

Dari judulnya saja, kita sudah tahu film ini akan bercerita tentang apa. Yap, apalagi kalau bukan tentang seorang Bounty Hunter ( di Indonesia dikenal dengan sebutan seorang pemburu kriminal atau pemburu berhadiah ) bernama Milo Boyd (Gerard Butler) yang kurang beruntung dalam pekerjaannya. Walau begitu, Milo tetap berusaha menikmati pekerjaannya. Suatu hari, dia mendapatkan mendapatkan pekerjaan terbaik dalam karier dan hidupnya : yaitu melacak dan menangkap kembali mantan istrinya yang merupakan seorang reporter bernama Nicole Hurley (Jennifer Aniston), yang kabur dari tahanan akibat gagal membayar uang jaminan. Milo menganggap tugasnya itu mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Sampai akhirnya Milo mengetahui bahwa Nicole ternyata sedang menyelidiki kasus pembunuhan yang melibatkan tokoh – tokoh penting. Milo yang sebenarnya masih cinta dengan Nicole pun berusaha untuk melindungi dia dari tangan orang – orang jahat yang berusaha untuk mengeksekusi Nicole. Mengetahui bahwa Milo ternyata melindungi Nicole, maka para pembunuh bayaran yang disewa untuk menghabisi Nicole pun juga menargetkan Milo untuk dibunuh bersama. Mereka berdua harus belajar untuk saling bekerjasama dan saling mempercayai satu sama lain seperti dulu lagi agar bisa bertahan hidup dan membeberkan kasus pembunuhan tersebut ke pihak berwajib dan juga ke muka umum.

Sekilas, film ini menjadi film yang kelihatannya akan ringan menghibur. Aktor Gerard Butler kelihatannya sedang enjoy bermain di film dengan genre drama romantis seperti ini. Sama seperti tahun lalu, ketika dia bermain kocak dan juga meyakinkan sebagai playboy ganteng urakan yang berusaha untuk meluluhkan hati Katherine Heigl lewat film The Ugly Truth, maka tahun ini, dia kembali ke genre seperti ini. Tak cuma itu saja, Film inipun juga mengandung adegan – adegan action seru sehingga film ini tidak hanya melulu soal romansa, romansa, dan romansa, dan juga dikabarkan bahwa Gerry melakukan sendiri banyak adegan stunt dalam film ini. Untuk Jen As, film ini bisa dikatakan merupakan makanannya sehari – hari, sehingga dia tidak mengalami kendala dalam hal penokohan karakternya. Promosi gratis film ini yang mengatakan bahwa Jen As dan Gerard Butler saling jatuh cinta ( sebutannya cinlok alias CINta LOKasi. He3. XD ) pun turut menambah rasa penasaran penonton untuk menonton film ini.

Selain itu, amunisi penting lainnya yang turut menentukan hasil dan kualitas film ini adalah sang sutradara sendiri, yaitu Andy Tennant. Sutradara yang satu ini merupakan sutradara spesialis film – film komedi romantis. Terbukti, hasil karyanya yang terkenal seperti It Takes Two, Sweet Home Alabama, sampai yang paling fenomenal, yaitu Hitch, merupakan bukti bahwa sutradara yang satu ini merupakan sutradara yang mampu sukses di genre seperti ini, sama halnya dengan sutradara ahli lainnya yang sama – sama bergerak di genre yang sama seperti Tenannt, yaitu Rob Marshall. Dari segi action, film ini juga mempunyai produser spesialis pencetak film – film action hit seperti The Fast and The Furious, xXx, S.W.A.T, serta I Am Legend, yaitu Neal H. Moritz. Selain merupakan produser film – film action, Neal juga pencetak hit dalam genre komedi dan juga horror seperti Urban Legend, I Know What You Did Last Summer, Cruel Intentions, The Skulls, bahkan Made of Honor. Dari trackrecordnya, Neal bisa dikatakan merupakan seorang produser yang ahli dalam memproduseri film – film yang menyangkut anak muda jaman sekarang dan terbukti, hasilnya cukup disambut positif oleh kalangan anak muda dan juga orang dewasa.

Kekurangan film ini terletak pada apakah chemistry antara Butler dengan Anniston bisa klop dan mengena di hati para penontonnya. Jika adu akting dan chemistry mereka bisa menyatu layaknya Heigl dan Butler dalam The Ugly Truth, maka bagus dan puaslah penonton yang menyaksikan film ini. Jika tidak, maka tersiksa dan menyesallah mereka telah menyaksikan film ini. Premise film ini pun juga terkesan standard dan klise layaknya film – film komedi romantis berbumbu action lainnya. Selain itu, ingatkah anda dengan film komedi romantis garing tahun 2008 silam berjudul Fool’s Gold? Ow. Ya. Anda benar jika menebak bahwa film ini adalah buah tangan Andy Tennant, sang sutradara film The Bounty Hunter ini. So, ada kekhawatiran bahwa film ini akan garing dan semelempem kualitas film Fool’s Gold yang miskin chemistry, apalagi komedinya yang garing dan kurang menggigit. Selain itu, serangan Iron Man 2 di Indonesia pun pastinya masih menjadi ancaman yang kuat akan keberhasilan film ini di Indonesia karena mayoritas pasti penonton akan lebih memilih menonton Iron Man 2 ketimbang menonton film ini. Walaupun film Iron Man 2 sudah diputar seminggu sebelum film The Bounty Hunter ini dirilis, tetap saja mereka yang tidak kebagian tiket atau bahkan sudah menonton film Iron Man 2 dan ternyata tertarik untuk menontonnya lagi di minggu kedua, menjadikan The Bounty Hunter kemungkinan bisa sepi penonton jika ternyata hasil filmnya kurang bagus.

Overall, film ini tetaplah menjadi film alternatif pilihan bagi anda yang sedang mencari film romantis yang ringan menghibur dibumbui dengan kadar action. Film ini pastinya berusaha untuk menghibur penonton lewat adegan – adegan kocak serta adegan romantis dan tentunya chemistry dari kedua aktor dan aktris utamanya itu sendiri. Selain itu, bagi anda para lelaki alias kaum adam yang menemani sang pacar atau gebetan atau istri anda menonton film ini, jangan khawatir. Bumbu actionnya masih ada kok, jadinya gak bosen – bosen amat dan anda serta pasangan anda pun juga bisa sama – sama puas menyaksikan film ini. So, bagi anda , KHUSUSNYA para PASUTRI ( PAsangan SUami isTRI ), PASANGMATA ( PASangan sedANG MAsa pendekaTAn ), maupun PAPARAN ( PAsangan PAcaRAN ), film ini WAJIB untuk anda tonton. Bagi anda yang jomblo?? Tak perlu khuatir karena pastinya, film ini juga cocok bagi anda yang sedang mencari film hiburan ringan semata. Film ini dijadikan sebagai film selipan sambil anda menunggu sebelum anda masuk untuk menonton Iron Man 2? Boleh juga tuh. He3. XD Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Trailer :

Kamis, 29 April 2010

Review Date Night


Review

Date Night ( 20th Century Fox_2010 )

Pemain : Steve Carell as Phil Foster

Tina Fey as Claire Foster

Mark Wahlberg as Holbrooke Grant

Ray Liotta as Joe Miletto

James Franco as Chase "Taste" Tripplehorn/Tom Felton

Mila Kunis as "Whippit" Tripplehorn

Mark Ruffalo as Brad Sullivan

Leighton Meester as Katy

Sutradara : Shawn Levy

Rilis =

  • 9 April 2010 ( Amerika Serikat )
  • 23 April 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Film komedi romantis tidak selalu harus berisi adegan – adegan romantis belaka, dengan pemain yang cantik dan ganteng, setting background yang terasa hangat dan romantis serta dialog – dialog yang benar – benar bisa membuat pasangan kita terbuai saking indahnya dengan kata – kata tersebut. Bagaimana jika sebuah film komedi romantis digabungkan dengan genre action adventure, tapi tetap tidak meninggalkan sisi komedi dan romantisnya? Ide yang sulit untuk didapatkan karena memang ke 4 jenis genre tersebut susah untuk bisa dihubungkan. Kalo untuk komedi romantis, sudah biasa. Lalu, bagaimana caranya bisa digabungkan dengan genre komedi romantis? Well, kalau pusing, nonton saja film Date Night arahan sutradara Shawn Levy ini.

Film ini berkisah tentang kehidupan pernikahan Phil dan Claire Foster ( Carell dan Fey ). Mereka adalah potret pasangan pernikahan yang paling diidamkan di seluruh dunia ini. Mereka memiliki anak – anak yang baik dan lucu, serta tentunya, kehidupan mereka pun mapan. Phil bekerja sebagai ahli hukum dalam urusan pajak bagi perusahaan – perusahaan terkenal; sedangkan Claire adalah seorang agent real estate terkenal. Hidup mereka pun pastinya aman, tenang, dan tentram serta sejahtera. Tapi sayangnya, tanpa mereka sadari, kehidupan pernikahan mereka lambat laun hanya menjadi sebuah rutinitas belaka. Walaupun mereka tetap melakukan ”Date Night” mingguan bagi mereka yang diisi dengan makan malam bersama dilanjutkan dengan menonton film, tapi hal tersebut semakin lama hanya menjadi sebuah rutinitas semata tanpa bisa diresapi lagi maknanya. Sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa teman mereka yang juga sepasang pengantin, yaitu Brad dan Haley, ternyata sedang melakukan proses perceraian, padahal mereka terlihat baik – baik saja. Lewat kejadian yang menimpa teman mereka tersebut, Phil dan Claire pun sadar bahwa mereka harus bertindak cepat untuk mengatasi ”kehidupan rutin dalam kehidupan pernikahan mereka” tersebut. Mereka pun akhirnya berinisiatif untuk melakukan ”The Real Date Night” sambil berusaha untuk menemukan kembali moment romantis sungguhan serta arti kehidupan perkawinan yang sesungguhnya bagi hidup mereka. Phil pun mengajak Claire untuk mengadakan acara makan malam super romantis di sebuah restaurant seafood ternama dan trendi bernama Claw di Manhattan ( walaupun sebenarnya, ajakan awalnya diinisiatifkan oleh Claire. He3. XD. Untung Phil cepat sadar dengan kondisi tersebut ). Sayangnya, mereka tidak mendapat meja di restaurant tersebut. Tidak sabar, akhirnya Phil pun mengambil sebuah meja reservasi bernama The Tripplehorns yang tidak muncul – muncul di restaurant tersebut, walaupun Claire sebenarnya was – was dengan tindakan Phil tersebut. Phil pun masa bodoh dengan rasa was – was sang istri, sehingga akhirnya mereka duduk di meja tersebut. Makan malam yang mewah dan romantis pun berlanjut dengan hangat. Sampai akhirnya, rasa was – was Claire menjadi kenyataan. Ketika mereka sedang makan, mereka didatangi oleh dua orang bermuka seram bernama Collins (Common) and Armstrong (Jimmi Simpson), yang menanyakan tentang flash drive yang dicuri oleh Claire dan Phil dari seorang gembong mafia bernama Joe Miletto ( Liotta ). Phil dan Claire pun menjelaskan bahwa mereka bukan The Triplehorns, tapi kedua orang seram nan sangar tersebut malah menodongkan senjata ke arah mereka. Tak ada pilihan, Phil dan Claire pun mengikuti keinginan mereka dan memberitahu bahwa flash drive tersebut ada di sebuah rumah pelabuhan, padahal mereka tidak tahu apa – apa tentang kasus ini. Setelah mereka berhasil kabur dari cengkraman Collins dan Armstrong, Phil dan Claire bergegas ke kantor polisi, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa Collins dan Armstrong ternyata adalah polisi korup. Detektif Aroyo, yang sempat melayani mereka di kantor polisi pun curiga dan berusaha untuk memecahkan kasus ini dan membantu Phil serta Claire secara diam – diam tanpa sepengetahuan Collins dan Armstrong. Dibantu oleh salah seorang mantan klien Claire bernama Holbrooke Grant ( Wahlberg ) yang merupakan seorang spesialis ahli keamanan cyber dan juga teknologi, Phil dan Claire berusaha untuk mencari tahu dimana letak posisi The Triplehorns sesungguhnya lewat nomor telepon yang didapatkan oleh Claire dan Phil di restaurant Claw secara kocak dan konyol. Setelah mengetahui posisi pasangan The Triplehorns, Claire dan Phil langsung menuju kesana. Mengetahui bahwa The Triplehorns sedang diincar, pasangan The Triplehorns yang bernama asli Taste ( Franco ) dan Whippit ( Kunis ) pun langsung ngacir untuk menyelamatkan diri, sekaligus memberikan Phil dan Claire Flash Drive yang diminta oleh Collins dan Armstrong. Di tengah kebingungan, Phil dan Claire pun berusaha untuk mencari jalan keluarnya, sebelum kembali dikejar oleh Collins dan Armstrong. Akibatnya, Flash Drive yang mereka dapatkan pun tenggelam di dasar danau Michigan. Lalu, bagaimanakah kasus ini akan berakhir? Apakah Claire dan Phil bisa menyelamatkan diri mereka dari kasus seru ini? Apa isi data yang sebenarnya diinginkan oleh Joe Miletto? Yang pasti, isi Flash Drive tersebut sangatlah penting dan berhubungan dengan seorang jaksa wilayah nyentrik yang sedang naik daun saat ini bernama Frank Crenshaw.

Film ini secara mengejutkan berhasil melampaui ekspektasi penonton. Film yang judulnya lebih mengindikasikan filmnya ke arah genre drama romantis ini, justru berhasil membuat penonton tertawa terpingkal – pingkal selama film berlangsung. Di sisi lain, film ini pun juga bisa menangkap moment – moment berarti tentang artinya sebuah kehidupan pernikahan serta bagaimana cara untuk mempertahankan kehidupan pernikahan agar tetap harmonis dan juga utuh dan rukun, yang tentunya bisa menjadi bahan perenungan dan juga teguran yang cukup menyentil bagi anda yang sudah memiliki hubungan pernikahan. Kuncinya adalah komunikasi dan saling jujur serta percaya satu sama lain, dan film ini berhasil menterjemahkan hal itu dalam beberapa adegan yang ada di film ini, seperti ketika akhirnya Claire dan Phil yang berbicara mengenai perceraian teman mereka ( Brad dan Haley ) serta tentang fantasi mereka ketika mereka berada di dalam mobil Grant pada saat kabur dari kejaran Armstrong dan Collins, ketika adegan ending film ini di sebuah restaurant, dan masih banyak adegan – adegan bermakna lainnya. Sepertinya, sang sutradara, Shawn Levy, berhasil menjalankan tugasnya untuk menyampaikan visi dan misi film ini dengan baik, bahkan kalo mau dikatakan, dengan sangat baik sekali. Dia berhasil menyajikan sebuah film komedi romantis yang diramu dengan bumbu action seru dan tidak kacangan tapi juga tidak ketinggalan dalam hal pemberian bobot cerita serta pesan makna yang mau disampikan kepada penonton yang menonton film ini. Komedinya begitu segar dan actionnya pun juga seru serta dramanya begitu mengena, sehingga bisa dikatakan, Levy kelihatannya sudah bisa lepas dari bayang – bayang kegaringan film Night at the Museum : Battle of the Smithsonian yang membosankan itu.

Faktor keberhasilan lain film ini adalah SEMUA PEMAIN DI FILM INI BERMAIN LEPAS, APIK, DAN JUGA KOCAK SERTA PAS DENGAN KARAKTERNYA MASING – MASING. Duet Steve Carell dan Tina Fey sangat padu sekali di film ini dan chemistry mereka sangat terasa serta PAS BANGET di film ini. Mereka tidak canggung untuk memerankan pasangan marriage Phil dan Claire yang sangat serasi serta bisa tampil konyol secara bersamaan dalam film ini serta karakter pasangan marriage ini justru bisa dikatakan merupakan potret aktual tentang pasangan marriage yang ada di dunia, dan Carell serta Fey berhasil menghadirkan hal tersebut ke dalam film ini. Sama – sama jebolan sitkom komedi SNL ( Saturday Night Live ) ini memang sudah terasah bakat ngocol dan ngelawaknya sehingga guyonan mereka di film ini, baik untuk adegan komedi, drama, bahkan untuk adegan action dengan bumbu komedi di film ini pun, berhasil mengocok perut penonton sampai mules banget. Entah memang spontan atau memang sudah ada di skripnya, tapi yang jelas, lawakan mereka benar – benar lucu. Mimik muka mereka pun bisa berubah – berubah, mulai dari mimik romantis, tegang, marah dan semuanya terlihat lucu di mata penonton. Duet maut ini memang paling top banget deh di film ini aktingnya.

Semua pemeran pembantu pun juga tak ketinggalan berlomba – lomba untuk mengocok perut penonton. Ada tokoh Jaksa Wilayah ganjil dan aneh serta nyentrik yang selalu membawa sapu kemana – mana serta memiliki hasrat sex yang ganjil bernama Frank Crenshaw yang diperankan sangat pas oleh William Fichtner; kemudian Ray Liotta pun juga bermain apik sebagai gangster sangar tapi blo’on bernama Joe Milleto; rapper Common dan Jimmi Simpson pun juga bermain mantap sebagai duo polisi korup blo’on tapi sangar bernama Collins dan Armstrong; duet James Franco dan Mila Kunis berhasil mencuri perhatian lewat peran sebagai pasangan The Triplehorns yang nekad tapi penakut dan juga sempet – sempetnya melakukan french kiss hot ketika mau kabur dari apartemen mereka dari kejaran mafia Joe Milletto; serta tak ketinggalan penampilan shirtlessnya ( asli, bener dah ini orang gak pake baju selama film berlangsung. He3. XD ) Mark Wahlberg sebagai tokoh Holbrook Grant yang narsis, playboy, pintar, dan ganteng abis plus tajir ( kaya – Red ). Mark Wahlberg yang dulu dikenal sebagai rapper badung, yang selalu memelorotkan celananya jika show, bernama panggung Marky Mark ini memang dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan kualitas akting dan berani untuk mencoba tantangan – tantangan tokoh dan karakter baru, sehingga kariernya tidak stagnan dan produser – produser Hollywood tidak ragu untuk menyewanya bermain dalam film mereka dengan tawaran karakter yang beragam kepada Mark. Tahun ini, Mark mencoba peruntungannya dalam genre komedi, yaitu lewat film Date Night ini dan nanti di bulan Juli lewat film The Other Guy bareng pelawak Will Ferrell dan ternyata, hasilnya cukup disambut positif oleh semua kalangan. Yah, biarlah Mark tampil full shirtless selama film ini berlangsung, daripada dia menampilkan adegan memelorotkan celananya seperti dulu ketika dia masih menjadi rapper badung. Dijamin deh, jika dia menampilkan hal terlarang ( memelorotkan celananya ) tersebut di film ini, pasti akan kena babat gunting sensor dari BSF Indonesia. He3. XD.

Kekurangan film ini terletak pada special efeknya yang masih terlihat kasar di adegan – adegan seru, seperti kejar – kejaran mobil misalnya. Selain itu, ada beberapa joke yang kurang dimengerti oleh sebagian orang.

Secara keseluruhan, film ini merupakan film komedi romantis action adventure terbaik untuk tahun ini. Semua kru film ini benar – benar mengeluarkan semua kinerja terbaik mereka untuk mengocok perut penonton. Film ini juga merupakan ajang penebusan dosa bagi sutradara Shawn Levy setelah tahun lalu tampil sangat mengecewakan dan juga garing serta gagal untuk menghibur penonton lewat film Night at the Museum : Battle of the Smithsonian. Film ini juga berhasil menyentil anda para pasangan yang sudah menikah untuk merenungkan dan instropeksi diri, apakah kehidupan pernikahan anda memang bahagia atau diam – diam sedang ada masalah. Walaupun keadaan rumah tangga anda sedang adem ayem, belum tentu hal tersebut mengindikasikan bahwa rumah tangga anda dalam keadaan baik – baik saja, seperti yang digambarkan di dalam film ini. So, bagi anda para pasutri, atau yang sedang pacaran, atau sedang stress yang bermaksud mencari film ringan menghibur lucu tapi juga ada adegan action di minggu ini, maka film Date Night adalah film yang anda WAJIB tonton, sekalipun film ini sudah masuk minggu ke dua masa pemutarannya di Indonesia. Dijamin gak rugi deh. He3. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Review Date Night


Review

Date Night ( 20th Century Fox_2010 )

Pemain : Steve Carell as Phil Foster

Tina Fey as Claire Foster

Mark Wahlberg as Holbrooke Grant

Ray Liotta as Joe Miletto

James Franco as Chase "Taste" Tripplehorn/Tom Felton

Mila Kunis as "Whippit" Tripplehorn

Mark Ruffalo as Brad Sullivan

Leighton Meester as Katy

Sutradara : Shawn Levy

Rilis =

  • 9 April 2010 ( Amerika Serikat )
  • 23 April 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Film komedi romantis tidak selalu harus berisi adegan – adegan romantis belaka, dengan pemain yang cantik dan ganteng, setting background yang terasa hangat dan romantis serta dialog – dialog yang benar – benar bisa membuat pasangan kita terbuai saking indahnya dengan kata – kata tersebut. Bagaimana jika sebuah film komedi romantis digabungkan dengan genre action adventure, tapi tetap tidak meninggalkan sisi komedi dan romantisnya? Ide yang sulit untuk didapatkan karena memang ke 4 jenis genre tersebut susah untuk bisa dihubungkan. Kalo untuk komedi romantis, sudah biasa. Lalu, bagaimana caranya bisa digabungkan dengan genre komedi romantis? Well, kalau pusing, nonton saja film Date Night arahan sutradara Shawn Levy ini.

Film ini berkisah tentang kehidupan pernikahan Phil dan Claire Foster ( Carell dan Fey ). Mereka adalah potret pasangan pernikahan yang paling diidamkan di seluruh dunia ini. Mereka memiliki anak – anak yang baik dan lucu, serta tentunya, kehidupan mereka pun mapan. Phil bekerja sebagai ahli hukum dalam urusan pajak bagi perusahaan – perusahaan terkenal; sedangkan Claire adalah seorang agent real estate terkenal. Hidup mereka pun pastinya aman, tenang, dan tentram serta sejahtera. Tapi sayangnya, tanpa mereka sadari, kehidupan pernikahan mereka lambat laun hanya menjadi sebuah rutinitas belaka. Walaupun mereka tetap melakukan ”Date Night” mingguan bagi mereka yang diisi dengan makan malam bersama dilanjutkan dengan menonton film, tapi hal tersebut semakin lama hanya menjadi sebuah rutinitas semata tanpa bisa diresapi lagi maknanya. Sampai akhirnya mereka mengetahui bahwa teman mereka yang juga sepasang pengantin, yaitu Brad dan Haley, ternyata sedang melakukan proses perceraian, padahal mereka terlihat baik – baik saja. Lewat kejadian yang menimpa teman mereka tersebut, Phil dan Claire pun sadar bahwa mereka harus bertindak cepat untuk mengatasi ”kehidupan rutin dalam kehidupan pernikahan mereka” tersebut. Mereka pun akhirnya berinisiatif untuk melakukan ”The Real Date Night” sambil berusaha untuk menemukan kembali moment romantis sungguhan serta arti kehidupan perkawinan yang sesungguhnya bagi hidup mereka. Phil pun mengajak Claire untuk mengadakan acara makan malam super romantis di sebuah restaurant seafood ternama dan trendi bernama Claw di Manhattan ( walaupun sebenarnya, ajakan awalnya diinisiatifkan oleh Claire. He3. XD. Untung Phil cepat sadar dengan kondisi tersebut ). Sayangnya, mereka tidak mendapat meja di restaurant tersebut. Tidak sabar, akhirnya Phil pun mengambil sebuah meja reservasi bernama The Tripplehorns yang tidak muncul – muncul di restaurant tersebut, walaupun Claire sebenarnya was – was dengan tindakan Phil tersebut. Phil pun masa bodoh dengan rasa was – was sang istri, sehingga akhirnya mereka duduk di meja tersebut. Makan malam yang mewah dan romantis pun berlanjut dengan hangat. Sampai akhirnya, rasa was – was Claire menjadi kenyataan. Ketika mereka sedang makan, mereka didatangi oleh dua orang bermuka seram bernama Collins (Common) and Armstrong (Jimmi Simpson), yang menanyakan tentang flash drive yang dicuri oleh Claire dan Phil dari seorang gembong mafia bernama Joe Miletto ( Liotta ). Phil dan Claire pun menjelaskan bahwa mereka bukan The Triplehorns, tapi kedua orang seram nan sangar tersebut malah menodongkan senjata ke arah mereka. Tak ada pilihan, Phil dan Claire pun mengikuti keinginan mereka dan memberitahu bahwa flash drive tersebut ada di sebuah rumah pelabuhan, padahal mereka tidak tahu apa – apa tentang kasus ini. Setelah mereka berhasil kabur dari cengkraman Collins dan Armstrong, Phil dan Claire bergegas ke kantor polisi, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa Collins dan Armstrong ternyata adalah polisi korup. Detektif Aroyo, yang sempat melayani mereka di kantor polisi pun curiga dan berusaha untuk memecahkan kasus ini dan membantu Phil serta Claire secara diam – diam tanpa sepengetahuan Collins dan Armstrong. Dibantu oleh salah seorang mantan klien Claire bernama Holbrooke Grant ( Wahlberg ) yang merupakan seorang spesialis ahli keamanan cyber dan juga teknologi, Phil dan Claire berusaha untuk mencari tahu dimana letak posisi The Triplehorns sesungguhnya lewat nomor telepon yang didapatkan oleh Claire dan Phil di restaurant Claw secara kocak dan konyol. Setelah mengetahui posisi pasangan The Triplehorns, Claire dan Phil langsung menuju kesana. Mengetahui bahwa The Triplehorns sedang diincar, pasangan The Triplehorns yang bernama asli Taste ( Franco ) dan Whippit ( Kunis ) pun langsung ngacir untuk menyelamatkan diri, sekaligus memberikan Phil dan Claire Flash Drive yang diminta oleh Collins dan Armstrong. Di tengah kebingungan, Phil dan Claire pun berusaha untuk mencari jalan keluarnya, sebelum kembali dikejar oleh Collins dan Armstrong. Akibatnya, Flash Drive yang mereka dapatkan pun tenggelam di dasar danau Michigan. Lalu, bagaimanakah kasus ini akan berakhir? Apakah Claire dan Phil bisa menyelamatkan diri mereka dari kasus seru ini? Apa isi data yang sebenarnya diinginkan oleh Joe Miletto? Yang pasti, isi Flash Drive tersebut sangatlah penting dan berhubungan dengan seorang jaksa wilayah nyentrik yang sedang naik daun saat ini bernama Frank Crenshaw.

Film ini secara mengejutkan berhasil melampaui ekspektasi penonton. Film yang judulnya lebih mengindikasikan filmnya ke arah genre drama romantis ini, justru berhasil membuat penonton tertawa terpingkal – pingkal selama film berlangsung. Di sisi lain, film ini pun juga bisa menangkap moment – moment berarti tentang artinya sebuah kehidupan pernikahan serta bagaimana cara untuk mempertahankan kehidupan pernikahan agar tetap harmonis dan juga utuh dan rukun, yang tentunya bisa menjadi bahan perenungan dan juga teguran yang cukup menyentil bagi anda yang sudah memiliki hubungan pernikahan. Kuncinya adalah komunikasi dan saling jujur serta percaya satu sama lain, dan film ini berhasil menterjemahkan hal itu dalam beberapa adegan yang ada di film ini, seperti ketika akhirnya Claire dan Phil yang berbicara mengenai perceraian teman mereka ( Brad dan Haley ) serta tentang fantasi mereka ketika mereka berada di dalam mobil Grant pada saat kabur dari kejaran Armstrong dan Collins, ketika adegan ending film ini di sebuah restaurant, dan masih banyak adegan – adegan bermakna lainnya. Sepertinya, sang sutradara, Shawn Levy, berhasil menjalankan tugasnya untuk menyampaikan visi dan misi film ini dengan baik, bahkan kalo mau dikatakan, dengan sangat baik sekali. Dia berhasil menyajikan sebuah film komedi romantis yang diramu dengan bumbu action seru dan tidak kacangan tapi juga tidak ketinggalan dalam hal pemberian bobot cerita serta pesan makna yang mau disampikan kepada penonton yang menonton film ini. Komedinya begitu segar dan actionnya pun juga seru serta dramanya begitu mengena, sehingga bisa dikatakan, Levy kelihatannya sudah bisa lepas dari bayang – bayang kegaringan film Night at the Museum : Battle of the Smithsonian yang membosankan itu.

Faktor keberhasilan lain film ini adalah SEMUA PEMAIN DI FILM INI BERMAIN LEPAS, APIK, DAN JUGA KOCAK SERTA PAS DENGAN KARAKTERNYA MASING – MASING. Duet Steve Carell dan Tina Fey sangat padu sekali di film ini dan chemistry mereka sangat terasa serta PAS BANGET di film ini. Mereka tidak canggung untuk memerankan pasangan marriage Phil dan Claire yang sangat serasi serta bisa tampil konyol secara bersamaan dalam film ini serta karakter pasangan marriage ini justru bisa dikatakan merupakan potret aktual tentang pasangan marriage yang ada di dunia, dan Carell serta Fey berhasil menghadirkan hal tersebut ke dalam film ini. Sama – sama jebolan sitkom komedi SNL ( Saturday Night Live ) ini memang sudah terasah bakat ngocol dan ngelawaknya sehingga guyonan mereka di film ini, baik untuk adegan komedi, drama, bahkan untuk adegan action dengan bumbu komedi di film ini pun, berhasil mengocok perut penonton sampai mules banget. Entah memang spontan atau memang sudah ada di skripnya, tapi yang jelas, lawakan mereka benar – benar lucu. Mimik muka mereka pun bisa berubah – berubah, mulai dari mimik romantis, tegang, marah dan semuanya terlihat lucu di mata penonton. Duet maut ini memang paling top banget deh di film ini aktingnya.

Semua pemeran pembantu pun juga tak ketinggalan berlomba – lomba untuk mengocok perut penonton. Ada tokoh Jaksa Wilayah ganjil dan aneh serta nyentrik yang selalu membawa sapu kemana – mana serta memiliki hasrat sex yang ganjil bernama Frank Crenshaw yang diperankan sangat pas oleh William Fichtner; kemudian Ray Liotta pun juga bermain apik sebagai gangster sangar tapi blo’on bernama Joe Milleto; rapper Common dan Jimmi Simpson pun juga bermain mantap sebagai duo polisi korup blo’on tapi sangar bernama Collins dan Armstrong; duet James Franco dan Mila Kunis berhasil mencuri perhatian lewat peran sebagai pasangan The Triplehorns yang nekad tapi penakut dan juga sempet – sempetnya melakukan french kiss hot ketika mau kabur dari apartemen mereka dari kejaran mafia Joe Milletto; serta tak ketinggalan penampilan shirtlessnya ( asli, bener dah ini orang gak pake baju selama film berlangsung. He3. XD ) Mark Wahlberg sebagai tokoh Holbrook Grant yang narsis, playboy, pintar, dan ganteng abis plus tajir ( kaya – Red ). Mark Wahlberg yang dulu dikenal sebagai rapper badung, yang selalu memelorotkan celananya jika show, bernama panggung Marky Mark ini memang dari tahun ke tahun selalu menunjukkan peningkatan kualitas akting dan berani untuk mencoba tantangan – tantangan tokoh dan karakter baru, sehingga kariernya tidak stagnan dan produser – produser Hollywood tidak ragu untuk menyewanya bermain dalam film mereka dengan tawaran karakter yang beragam kepada Mark. Tahun ini, Mark mencoba peruntungannya dalam genre komedi, yaitu lewat film Date Night ini dan nanti di bulan Juli lewat film The Other Guy bareng pelawak Will Ferrell dan ternyata, hasilnya cukup disambut positif oleh semua kalangan. Yah, biarlah Mark tampil full shirtless selama film ini berlangsung, daripada dia menampilkan adegan memelorotkan celananya seperti dulu ketika dia masih menjadi rapper badung. Dijamin deh, jika dia menampilkan hal terlarang ( memelorotkan celananya ) tersebut di film ini, pasti akan kena babat gunting sensor dari BSF Indonesia. He3. XD.

Kekurangan film ini terletak pada special efeknya yang masih terlihat kasar di adegan – adegan seru, seperti kejar – kejaran mobil misalnya. Selain itu, ada beberapa joke yang kurang dimengerti oleh sebagian orang.

Secara keseluruhan, film ini merupakan film komedi romantis action adventure terbaik untuk tahun ini. Semua kru film ini benar – benar mengeluarkan semua kinerja terbaik mereka untuk mengocok perut penonton. Film ini juga merupakan ajang penebusan dosa bagi sutradara Shawn Levy setelah tahun lalu tampil sangat mengecewakan dan juga garing serta gagal untuk menghibur penonton lewat film Night at the Museum : Battle of the Smithsonian. Film ini juga berhasil menyentil anda para pasangan yang sudah menikah untuk merenungkan dan instropeksi diri, apakah kehidupan pernikahan anda memang bahagia atau diam – diam sedang ada masalah. Walaupun keadaan rumah tangga anda sedang adem ayem, belum tentu hal tersebut mengindikasikan bahwa rumah tangga anda dalam keadaan baik – baik saja, seperti yang digambarkan di dalam film ini. So, bagi anda para pasutri, atau yang sedang pacaran, atau sedang stress yang bermaksud mencari film ringan menghibur lucu tapi juga ada adegan action di minggu ini, maka film Date Night adalah film yang anda WAJIB tonton, sekalipun film ini sudah masuk minggu ke dua masa pemutarannya di Indonesia. Dijamin gak rugi deh. He3. XD. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis

Selasa, 27 April 2010

Preview Iron Man 2


Preview

Iron Man 2 ( Paramount Pictures_2010 )

Pemain :

Sutradara : Jon Favreau

Rilis =

  • 7 Mei 2010 ( Amerika Serikat )
  • 30 April 2010 ( Main di Bioskop Indonesia )

Film Iron Man pertama yang keluar pada tahun 2008 lalu, merupakan film pembuktian bagi banyak pihak yang mencibirnya. Sebelumnya, film Iron Man pertama ini dicibir banyak orang karena pemilihan casting dan sutradara yang tidak sesuai dengan harapan penonton. Belum lagi kekhawatiran bahwa film superhero pasti hanya akan menjual spesial efek dan adegan – adegan seru ketimbang kualitas cerita dan juga pendalaman karakter yang ada serta tentunya, adanya perbedaan yang ada di film dengan yang di komiknya, yang dikhawatirkan justru akan membuat banyak fans berat komiknya akan kecewa dengan hasil filmnya. Lihat saja contoh kegagalan film – film superhero yang diangkat dari komik, seperti Barb Wire, Steel, dan lain sebagainya.

Tapi ternyata, semua pihak akhirnya bungkam setelah melihat hasil akhirnya. Bahkan, mereka yang mencibir pun akhirnya berbalik memuji film Iron Man ini. Film Iron Man pertama bisa dikatakan melebihi semua ekspektasi penonton. Kekhawatiran akan salahnya pemilihan pemain dan sutradara yang ada di film ini justru dibalas dengan pengarahan sutradara yang pas dan juga mantap untuk film ini dan permainan para aktor aktrisnya yang juga pas untuk semua karakter yang ada di komik Iron Man. Semua pemain bermain lepas. Bahkan, cibiran publik terhadap kualitas dan bobot cerita yang ada di film Iron Man ini justru dibayar LUNAS Nas Nas oleh tim penulis naskahnya, yaitu Arthur Marcum dan Matt Holloway serta dibantu oleh Mark Fergus dan Hawk Ostby dan kedua naskah tersebut di-finishing oleh John August atas pemilihan element cerita dari kedua naskah yang telah ditulis oleh kedua tim penulis cerita tersebut, dan tentunya, pengarahan John Favreau sebagai sutradara juga berhasil menghidupkan bobot cerita film ini. John Favreau sendiri pun juga meminta banyak saran untuk cerita dan pengarahan film Iron Man pertama dari beberapa penulis komik kisah Iron Man, seperti Mark Millar, Ralph Maccio, dan masih banyak lagi.

Secara jujur, film Iron Man pertama merupakan bukti bahwa film ini berhasil menggabungkan semua element – element menghibur yang ada pada dunia perfilman, yaitu humor yang pas, drama romantis yang OK, adegan action dan spesial effect yang baik, serta tentunya, bobot ceritanya itu sendiri yang dieksekusi dengan amat rapi. Film ini berhasil menangkap moment dan emosi sang tokoh utama, Tony Stark, yang tadinya Playboy tajir urakan yang bersifat tidak mau peduli dengan keadaan sekitarnya, justru akhirnya berbalik mau peduli dan mau untuk menolong sesama dengan segala kemampuan yang dia miliki lewat kejadian penawanan dirinya di Afghanistan dan kematian salah seorang kawannya di Afghanistan tersebut. Penonton bisa merasakan gejolak emosi dari tokoh Tony Stark, yang mengira bahwa dengan memproduksi dan menjual senjata miliknya, Amerika akan aman dari serangan – serangan teroris yang berusaha untuk menghancurkan Amerika; tapi ternyata, senjata produksinya malah bisa diperjual belikan secara bebas pada pasar gelap senjata dan justru digunakan oleh teroris untuk meneror seluruh dunia; dan penonton juga bisa melihat bahwa Tony pun akhirnya berusaha keras untuk menciptakan jubah Iron Man guna melindungi semua umat manusia dari serangan orang – orang jahat di muka bumi ini. Tony berusaha untuk menebus segala dosa – dosa di masa lalunya dan berusaha untuk memperbaikinya dengan segala daya dan kemampuan yang dia miliki.

Bicara tentang pembuktian, film ini memang menjadi ajang pembuktian bagi 3 orang penting dalam film Iron Man, yaitu sang aktor utama, Robert Downey. Jr; sang pemeran pembantu, Samuel L. Jackson; dan sang sutradara, John Favreau. Sang sutradara, yang juga merangkap cameo (peran kecil) sebagai supir pribadi dan pengawal Tony Stark yang bernama Happy Hogan serta penulis konsep cerita Iron Man 1 dan 2, kini menjadi sutradara yang paling diincar untuk mengarahkan berbagai film yang akan diangkat ke layar lebar. Tapi sampai saat ini, John tetap setia dan fokus untuk mengarahkan seri Iron Man terlebih dahulu. Pemeran pembantu film ini, yaitu aktor watak keling Samuel L. Jackson pun kebagian berkah lewat film ini. Berperan sebagai kepala badan intelejen rahasia Amerika, SHIELD, bernama Nick Fury, akhirnya Samuel pun dikontrak eksklusif untuk bermain di 9 film superhero produksi Marvel dengan nilai kontrak yang cukup fantastis. Tadinya, Samuel menolak untuk meneruskan kontrak Nick Fury ini akibat perbedaan pendapat mengenai nilai kontrak antara pihak Marvel dengan dirinya. Beruntung Marvel pun berbaik hati untuk menaikkan nilai kontrak bintang lawas yang pernah berpartner dengan Bruce Willis dalam film action seru Die Hard : With a Vengeance ini dan bonusnya, Samuel pun bakal beraksi dalam 9 film superhero yang dikeluarkan oleh Marvel. Lalu, sang bintang utama, Robert Downey. Jr pun juga mendapatkan rejeki super melimpah setelah membintangi film ini. Lewat film Iron Man ini, Downey unjuk gigi dan juga merupakan momentum kebangkitan dirinya dari keterpurukan kariernya di Hollywood. Bintang yang sempat tenggelam dan hancur kariernya akibat kebiasaannya menenggak alkohol dan barang haram lainnya ini akhirnya menemukan kembali bintangnya dan menunjukkan dirinya kepada semua orang yang mencibirnya, bahwa dirinya masih merupakan aktor kelas wahid dalam dunia pefilman Hollywood. Memang di tahun 2008 silam, Downey bermain fenomenal dalam 3 film, yaitu Iron Man, tampil cameo ( muncul sekilas ) di film The Incredible Hulk, dan pada bulan Agustusnya, dia berhasil bermain gemilang dan berhasil mengocok perut penonton sampai mules akibat tertawa terbahak – bahak lewat perannya sebagai bintang Australia yang bertransformasi menjadi bintang negro dan berakting layaknya orang negro bernama Kirk Lazarus dalam film super kocak di tahun 2008, Tropic Thunder. Selain unjuk gigi, lewat film Tropic Thunder, Downey pun juga meraup nominasi sebagai aktor pembantu terbaik dalam penghargaan bergengsi bagi insan perfilman Hollywood ( dan juga dunia ), yaitu Golden Globe, dan tentunya, Oscar. Walaupun tidak menang keduanya, Downey menemukan kembali kebintangannya di tahun 2008. Sejak saat itu, namanya mulai berkibar lagi. Tahun lalu, Downey menyapa penggemarnya kembali lewat film cerdas dan unik, Sherlock Holmes, bersama sutradara Guy Ritchie, dimana Downey berhasil berperan sebagai tokoh detektif terkenal bernama Sherlock Holmes, tapi dengan gaya urakan dan ahli pertarungan hand to hand dengan pendekatan analisis terlebih dahulu sebelum mulai menyerang lawan walaupun tetap tidak meninggalkan kemampuan analisa Sherlock terhadap satu kasus dengan cermat, teliti, dan pintar.

Kembali ke topik Iron Man 2. Film Iron Man 2 ini merupakan sekuel langsung dari film Iron Man yang pertama. Diceritakan dunia akhirnya mengetahui bahwa pengusaha senjata yang terkenal kaya dan tampan serta playboy bernama Tony Stark ( Downey ) adalah superhero Iron Man ( sesuai dengan ending Iron Man 1 dimana dia membeberkan bahwa dirinya adalah Iron Man kepada pers ), Tugas Tony pun bertambah; mulai dari mengurus perusahaannya, membina hubungan cintanya dengan sang sekretaris setianya, Pepper Potts, yang sekarang naik pangkat menjadi CEO Stark Enterprise menggantikan tokoh antagonis Obadiah Stane yang tewas ketika bertarung dengan Tony, sampai dengan urusan menjaga keamanan dunia. Walaupun terlihat berat, tapi Tony terlihat menikmati sekali pekerjaan – pekerjaannya tersebut. Seiring dengan bertambahnya tugas, maka semakin banyak pulalah tanggung jawab serta tekanan dalam diri Tony. Militer Amerika serta pers memaksa agar Tony menyerahkan rancangan baju dan teknologi yang terdapat pada Iron Man. Tony pun menolak dengan tujan supaya teknologi maha dahsyat tersebut tidak jatuh ke tangan orang jahat. Belum lagi tekanan yang muncul bahwa Pepper Potts ternyata sedang menjalin hubungan cinta rahasia dengan seseorang yang Tony kenal ( bisa dikatakan hal ini terjadi akibat kebiasaan Tony yang masih menjadi Playboy dan diam – diam, dia sedang menjalin cinta dengan sekretaris barunya yang bernama Natasha ( Johansson ) ). Di tengah tekanan – tekanan tersebut, muncullah seorang ilmuwan rusia yang gila dan jahat bernama Ivan Vanko ( Rourke ) yang sangat membenci Tony Stark A.K.A Iron Man dan ingin menghancurkan Iron Man. Tak tanggung – tanggung, Vanko pun juga menciptakan sumber energi mirip dengan punya Tony dan menciptakan baju tempur khusus berupa cambuk listrik super panjang dan besar serta merubah namanya menjadi Whiplash. Tak hanya itu, saingan bisnis Tony bernama Justin Hammer pun mulai mengumandangkan perang terbuka kepada Tony dalam hal persaingan dunia bisnis dan diam – diam bekerja sama dengan Ivan Vanko untuk menjalankan suatu rencana jahat bersama dengan menciptakan robot – robot tempur mirip seperti Iron Man. Plus, kehadiran spy woman bernama Black Widow yang misterius pun semakin membuat pusing Tony. Untunglah Tony masih memiliki sahabat – sahabat setia yang masih mau membantu menolongnya, seperti Nona Potts, sang bodyguard bernama Happy Hogan, Nick Fury yang merupakan kepala badan intelejen rahasia AS bernama SHIELD, serta tentunya, Lt. Colonel James "Rhodey" Rhodes yang nantinya akan menggunakan baju tempur baru ciptaan Tony bernama War Machine. Mereka siap menopang Iron Man dalam menghadapi segala musuh yang menghadang.

Film Iron Man 2 ini mendapat amunisi tambahan dalam hal pemain – pemain pembantu untuk turut menyukseskan film ini. Dipilihnya bintang tua yang kariernya nyaris tenggelam tapi akhirnya bangkit lagi setelah berhasil berperan gemilang dalam film The Wrestler, Mickey Rourke, sebagai tokoh antagonis Ivan Vanko dirasa pas oleh banyak kalangan. Mimik mukanya yang memang sangar dan juga badan yang besar, dirasa fans dan juga petinggi – petinggi Marvel sudah sangat cocok berperan sebagai musuh Iron Man di seri terbarunya ini. Sebenarnya, Rourke tadinya nyaris batal untuk memerankan tokoh Ivan Vanko ini karena adanya perbedaan pendapat antara gaji yang ditawarkan boss – boss Marvel dengan nilai gaji yang diinginkan oleh Rourke. Sadar bahwa Rourke merupakan pilihan yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi untuk berperan sebagai Vanko, boss – boss Marvel pun langsung menaikkan tawarn gaji kepada Rourke sesuai dengan yang diinginkan olehnya Tak tanggung – tanggung, Rourke yang akhirnya langsung teken kontrak setelah negosiasi gaji berhasil, langsung mengadakan observasi ke penjara Butyrka di Moskow, Rusia, untuk mendalami karakter dan tokoh antagonis Ivan Vanko. Rourke pun juga berlatih berbahasa Rusia secara intensif sebelum produksi film dimulai.

Tak cuma Rourke yang direkrut ke dalam film Iron Man 2 ini, tapi juga aktor Sam Rockwell dan aktris wanita sexy Scarlett Johansson pun juga turut dikontrak untuk membintangi film seru ini. Tadinya, aktris wanita Emily Blunt hendak dikontrak sebagai pemeran mata – mata wanita asal Rusia bernama Black Widow, namun, akibat adanya bentrok jadwal syuting, Blunt pun mundur dan langsung digantikan oleh Johansson. Johansson ( yang merupakan istri dari aktor Ryan Reynolds yang sedang diincar oleh banyak studio untuk berperan sebagai banyak tokoh superhero terkenal seperti The Flash, Deadpool, dan sudah teken kontrak untuk berperan sebagai Green Lantern ) yang excited sekali berperan sebagai tokoh superhero wanita pun langsung berlatih ilmu beladiri secara intensif sebelum proses syuting dimulai dan selama proses syuting berlangsung. Khusus untuk Sam Rockwell, tadinya aktor muda ini sedikit kaget bahwa tokoh Justin Hammer ternyata sudah cukup berumur, sehingga Sam pun memutuskan untuk mengubah karakternya menjadi seorang pebisnis yang masih muda dan bersaing dengan Tony Stark dengan gaya anak muda.

Jadwal edar filmnya pun juga tanpa pesaing, sehingga membuat film ini semakin terasa aura kesuksesannya. Di beberapa negara, film Iron Man 2 dirilis lebih cepat seminggu ketimbang jadwal edar yang ada di Amerika nya, sehingga film Iron Man 2 memiliki kesempatan untuk mendapatkan pundi – pundi lebih banyak untuk peredarannya secara internasional terlebih dahulu dan hal ini juga merupakan strategi baru yang ahir – akhir ini diterapkan oleh banyak distributor film – film sukses di Amerika untuk memberantas pembajakan di negara – negara yang memiliki tngkat pembajakan film yang tinggi, seperti di China, Indonesia, dan lain – lain, sehingga dengan diterapkannya strategi ini, para produsen film – film tersebut bisa mendapat keuntngan lebih besar ketimbang filmnya dibajak duluan oleh para pembajak. Tapi hati – hati, di beberapa negara yang memutar Iron Man 2 pada tanggal tersebut, mendapatkan persaingan dari film Furry Vengeance dan A Nightmare on Elm Street yang beredar pada saat yang bersamaan jika di negara yang bersangkutan juga memasukkan kedua film tersebut secara bersamaan dengan Ion Man 2.

Film ini bukan tanpa kekurangan. Ada kekhawatiran ceita di film keduanya akan melempem seperti halnya Transformers. Sebenarnya, ide awal untuk menggunakan tema cerita Tony Stark yang terjebak kecanduan alkohol terasa lebih baik dibanding cerita yang ada sekarang. Tapi who knows? Kita tidak akan pernah tahu kejutan apalagi yang akan ada pada film Iron Man 2 ini. Ada gosip bahwa seri kedua Iron Man ini akan menjadi sebuah kerangka cerita baru yang lebih solid untuk film Iron Man 3 serta adanya indikasi bahwa film ini akan menjadi dasar munculnya musuh terbesar Iron Man, yaitu Mandarin. Tapi, itu semua hanya gosip yang akan terjawab nanti ketika kita sudah menyaksikan filmnya. Kemudian pemilihan aktris seksi Scarlett Johansson pun disangsikan oleh banyak orang. Dan, kasus terbesar yang mencoreng citra film Iron Man 2 ini adalah kasus pemecatan sepihak aktor Terence Howard yang berperan sebagai James Rhodes. Yap. Kasus yang sempat mencuat besar – besaran pada awal tahun 2009 ini dipicu dari ketidak senangan hampir semua kru, terutama sutradara John Favreau, untuk bekerja dengan Terence yang dinilai arogan dan tidak bersikap co-operative selama syuting Iron Man pertama berlangsung. Selain itu, perbedaan gaji yang sangat mencolok antara Terence dengan kru lainnya tapi tidak diimbangi dengan profesionalitas kerja disinyalir membuat semua kru tidak suka dengan Terence. Sampai saat ini masih menjadi misteri, apakah Marvel akhirnya memutuskan kontrak kerja dengan Terence atau pihak Terence yang sudah menolak untuk bernegosiasi dengan Marvel. Marvel akhirnya menawarkan Don Cheadle peran sebagai tokoh jendral penting yang merupakan teman baik tokoh Iron Man ini. Don Cheadle pun hanya punya beberapa jam untuk menerima kontrak ini dan diapun setuju untuk bermain di film ini. Well, sebenarnya, tokoh Rhodes di film Iron Man sudah cocok dengan peran yang dibawakan oleh Terence. Yah, semoga Don Cheadle yang nenggantikan Terrence bisa bermain lepas sebagai Rhodes.

Secara keseluruhan, diluar kasus internal yang ruwet yang membelit produksi film Iron Man 2, tetap saja, orang pasti akan menanti – nantikan film ation superhero yang satu ini. Indikasinya jelas : fans superhero berbaju besi dengan teknologi keren ini banyak dan sudah mendunia dimana – mana dan bagi yang belum mengenal Iron Man, mereka terpesona dengan prestasi baik yang ditorehkan lewat film Iron Man pertama, sehingga mereka menanti – nantikan sekuel film ini dengan tidak sabar. Didukung dengan kru yang sama dengan film pertamanya plus tambahan bintang – bintang mantap sebagai aktor aktris pendukung tambahannya serta soundtrack yang bakal diisi oleh band kakek – kakek metal yang sudah sepuh tapi masih cadas dan garang, AC/DC, film ini akan siap menggebrak sebagai pembuka parade Summer Movies di tahun ini. So, bagi anda fans sejati Iron Man atau sedang mencari film action menghibur dengan pacar atau teman atau gebetan anda, film ini WAJIB menjadi pilihan anda untuk anda tonton di minggu ini. Akhir kata, selamat menonton.

Copyright : Alexander ”Ajay” Dennis